![]() |
| Add caption |
RESPONDING PAPER MEDITASI
Matakuliah : Buddhisme
Judul
Topik : Meditasi
Responder
:
Rini Farida
Pemakalah : Mila Kamilah
1.
Pengertian
Meditasi
Istilah
meditasi sebenarnya dapat disamakan dengan istilah ‘bhavana’ yang arti
harfiahnya ‘pengembangan batin’ yakni usaha untuk menumbuhkan batin terpusat,
tenang, mampu dengan jelas melihat sifat
batin sesungguhnya gejala apapun yang dapat merealisir Nibbana, suatu keadaan
batin ideal dari batin yang sehat.[1]
Meditasi adalah
pendekatan psikologis untuk pengenbangan, pelatihan, dan pemurnian pikiran[2]. Meditasi
(samadhi) merupakan suatu bentuk latihan spiritual bagi ummat Buddha
sebagai salah satu jalan untuk memutuskan penderitaan dan lahir berulang yang
tiada henti.[3]
2.
Tujuan
Meditasi
Meditasi
bertujuan untuk melihat esensi diri dan sampai pada akhirnya kita menyadari
bahwa segala sesuatu tidaklah kekal (impermanence) sehingga membantu pengembangan pandangan benar. Untuk bisa
melihat bahwa segala sesuatu itu
tidaklah kekal, maka pikiran ini harus diam –jangan malah terlarut dalam
perubahan.[4]
Dalam kehidupan
sehari-hari, pikiran cenderung untuk lari kesana-kemari. Pikiran dengan
mudahnya terbawa arus kehidupan. Sesaat kita menyesali tindakan-tindakan kita yang telah lampau –kadang
menyakitkan, kadang menyenangkan, atau bahkan biasa-biasa saja. Namun, sedetik
kemudian yang kita pikirkan adalah hal-hal yang kita kehendaki untuk terjadi ke
depannya-- dan ada satu kata sepakat, bahwa pikiran itu liar dan sulit
ditaklukkan. Inilah mengapa kita bermeditasi.
3.
Jenis-jenis
Meditasi
Meditasi Buddhis ada dua macam yakni,
sebagai berikut:
1. Meditasi Samatha-Bhavana yakni meditasi untuk mencapai keterangan hidup.
Dalam abad nuklir ini, dimana kehidupan terasa semakin keras dan kompleks,
memang sangat dibutuhkan meditasi samatha bhavana ini, untuk menghilangkan
stress, frustasi dan untuk menciptakan ketenangan batin.
2. Meditasi Vipassana-Bhavana, yakni mediatsi yang dapat membersihkan
kekotoran bathin dan pikiran secara
total, sehingga kita dapat mencapai pandangan terang.[5]
4.
Objek
Meditasi
I.
Samatha
Bhavana
Dalam Samatha Bhavana ada 40 objek meditasi. Objek-objek meditasi
ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi
seseorang. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat
perkembangannya. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru.[6]
Keempat
puluh macam objek meditasi itu ialah:
a.
Sepuluh
kasina (10 wujud benda), yaitu:
1.
Pathavi
kasina = wujud tanah
2.
Apo
kasina = wujud air
3.
Tejo
kasina = wujud api
4.
Vayo
kasina = wujud udara atau
angin
5.
Nila
kasina = wujud warna
biru
6.
Pita
kasina = wujud warna
kuning
7.
Lohita
kasina = wujud warna merah
8.
Odata
kasina = wujud warna putih
9.
Aloka
kasina = wujud cahaya
10.
Akasa
kasina = wujud ruangan
terbatas
b.
Sepuluh
asubha (10 wujud kotoran), yaitu:
1.
Uddhumataka =
wujud mayat yang membekak
2.
Vinilaka = wujud mayat yang
berwarna kebiru-biruan
3.
Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah
4.
Vicchiddaka
= wujud mayat yang terbelah
di tengahnya
5.
Vikkahayatika =
wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6.
Vikkhittaka
= wujud mayat yang telah
hancur lebur
7.
Hatavikkhittaka
= wujud mayat yang busuk dan
hancur
8.
Lohitaka = wujud mayat yang
berlumuran darah
9.
Puluvaka = wujud mayat yang
dikerubungi belatung
10.
Atthika =
wujud tengkorak
c.
Sepuluh
annusati (10 macam perenungan), yaitu:
2.
Dhammanussati =
perenungan terhadap Dhamma
3.
Sanghanussati =
perenungan terhadap Sangha
4.
Silanussati = perenungan terhadap Sila
5.
Caganussati = perenungan terhadap
kebajikan
6.
Devatanussati =
perenungan terhadap makhluk-makhluk agung
atau para dewa
7.
Maranussati = perenungan terhadap
kematian
8.
Kayagatasi = perenungan terhadap badan
jasmani
9.
Anapanasati = perenungan terhadap
pernapasan
10.
Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau
Nirwana
d.
Empat
appamanna (empat keadaan yang tidak terbatas), yaitu:
1.
Metta = cinta kasih yang universal,
tanpa pamrih
2.
Karuna = belas kasihan
3.
Mudita = perasaan simpati
4.
Upekkha = keseimbangan batin
e.
Satu
aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)
f.
Satu catudhatuvavatthana (satu analisa
terhadap keempat unsur yang ada didalam badan jasmani)
g.
Empat
arupa (empat perenungan tanpa materi), yaitu:
1.
Kasinugaghatimakasapannatti
= objek ruangan yang sudah keluar
dari kasina
2.
Akasanancayatana-citta = objek kesadaran yang tanpa
batas
3.
Natthibhavapannatti = objek
kekosongan
4.
Akincannayatana-citta = objek bukan pencerapan pun
tidak bukan pencerapan
II.
Vipasana
Bhavana
Dalam melaksanakan Vipasana
Bhavana, objeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi), atau pancakandha
(lima kelompok faktor kehidupan)[7].
Ini dilakukan dengan memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus,
sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca
(ketidakkekalan). Dukkha (derita), dan anatta (tanpa aku).[8]
Dan juga yang menjadi objeknya adalah empat macam satipatthana (empat macam
perenungan) terdiri atas: kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani),
vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan), citta-nupassana (perenungan
terhadap pikiran), dan Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk
pikiran).
Responding Paper
Ajaran Tentang Sangha
Mata Kuliah :
Buddhisme
Judul Topik : Ajaran Tentang Sangha
Responder :
Rini Farida
Pemakalah : Ifa Nurrofiqoh
1.
Pendahuluan
Persaudaraan
para bhiksu, bhiksuni (pada waktu permulaan terbentuk) kemudian, setelah agama
Buddha Mahayana berkembang anggotanya tidak hanya para bhiksu bhiksuni akan
tetapi juga para umat awam yang telah upasaka-upasaki dengan bertekad pada
ketentuan tindak-tanduknya untuk menjadi seorang Boddhisatva, menerima dan
mempraktekkan Panca Buddhis Atau Boddhisatva Sila.[9]
2.
Pengertian
Sangha dan Kedudukannya
Secara
kelembagaan, ummat budha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keelompok
masyarakat kewiharaan atau Sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok
pertama terdiri dari para Bhikku dan Bhikkuni, samanera dan samaneri. Mereka
menjalani kegidupan suciuntuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan
kesusilaan serta tidak menjalani hidup keluarga. Kelompok masyarakat awam yang
terdiri dari Upasaka dan Upasakiyang telah menyatakan diri berlindung kepada
Budha, Dharma dan Sangha, serta melaksanakan prinsip-prinsip moralbagi ummat
awam dan berumah tangga.[10]
Menurut
kepercayaan umat Buddha, sangha tidak dapat dipisahkan dan dharma dan Buddha,
karena kegiatannya adalah Triratna yang membentuk kesatuan tunggal dan
merupakan manifestasi berasas tiga dari Yang Mutlak di dunia. Kata Tiratana terdiri dari kata Ti, yang artinya tiga dan Ratana, yang artinya
permata / mustika; yang maknanya sangat berharga. Jadi, arti Tiratana secara
keseluruhan adalah Tiga Permata (Tiga Mustika) yang nilainya tidak bisa diukur;
karena merupakan sesuatu yang agung, luhur, mulia, yang perlu sekali dimengerti
(dipahami) dan diyakini oleh umat Buddha.
Dalam
naskah-naskah Buddhis dijelaskan bahwa sangha adalah pasamuan dari
makhluk-makhluk suci atau ariya-puggala. Mereka
adalah makhluk-makhluk suci yang telah mencapai buah kehidupan beragama yang
ditandai oleh kesatuan dari pandangan yang bersih dan sila yang sempurna.
Tingkatan kesucian yang telah mereka capai terdiri dari sottapati, sakadagami, anagami
dan arahat. [11] Sangha adalah inti masyarakat Buddha yang dapat
menciptakan suasana yang diperlukan untuk mencapai tujuan hidup tertinggi,
yaitu nirwana. Dari umat Buddha sangha patut menerima pemberian (ahu-neyyo), tempat berteduh (pahuneyyo), persembahan (dakkhineyyo), penghormatan (anjalikarananiyo), dan merupakan
lapangan untuk menanam jasa yang tidak ada taranya di dunia (anuttaram pannakhettam lokassa).
3.
Tingkat
Kesucian
Buddha, Dhamma, dan Sangha tidak dapat
dipisah-pisahkan dalam pembahasannya. Jadi, kalau ada guru, maka harus ada
ajaran dan juga harus ada siswa yang berhasil untuk membuktikan kebenaran
ajaran sang guru tersebut. Oleh sebab itu, ketiga hal ini saling berkaitan.
Dalam Khuddakanikaya, Khuddakapatha, dijelaskan beberapa perumpamaan dari
Tiratana di antaranya yaitu:
Buddha
|
Dhamma
|
Sangha
|
Dokter
|
Obat
|
Pasien yang
sembuh
|
Matahari
|
Sinar
|
Bumi yang
tersinari matahari
|
Nahkoda
|
Kapal
|
Penumpang
yang sampai tujuan
|
Busur panah
|
Anak panah
|
Sasaran yang
terkena panah
|
Secara
kelembagaan umat Budha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
masyarakat kewiharaan atau sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok
pertama terdiri dari Bhikkhu, Bhikkhuni, Samanera dan Samaneri. Mereka
menjalani kehidupan suci untuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan
kesusilaan serta tidak menjalani hidup keluarga. Kelompok masyarakat awam
terdiri dari Upasaka dan Upasaki yang telah menyatakan diri berlindung kepada
Budha, dharma dan sangha serta melaksanakan prinsip-prinsip moral bagi umat
awam dan hidup berumah tangga.[12]
4.
Cara
Menjadi Bikkhu
a)
Pengertian
Bhikku atau Bhikkuni
Secara
kelembagaan, ummat budha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keelompok
masyarakat kewiharaan atau Sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok
pertama terdiri dari para Bhikku dan Bhikkuni, samanera dan samaneri. Mereka
menjalani kegidupan suciuntuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan
kesusilaan serta tidak menjalani hidup keluarga. Kelompok masyarakat awam yang
terdiri dari Upasaka dan Upasaki yang telah menyatakan diri berlindung kepada
Budha, Dharma dan Sangha, serta melaksanakan prinsip-prinsip moralbagi ummat
awam dan berumah tangga.[13]
Bhikku atau
Bhikkuni adalah seorang yang kehidupannya sudah tidak lagi mencampuri urusan
duniawi, telah mejalani kehidupan suci dan patuh serta setia mengayati dean
menhamalkan Budha Dharma, patuh menjalankan pratomoksa (sila-sila untuk para
Bhikku dan Bhikkuni) terdapat dalam buku Budha Mahayana yakni Paccimovada Pari
Nirvana Sutra terjemahan oleh Kumarajiva.[14]
b)
Cara
dan Persyaratan untuk menjadi seorang Bhikku atau Bhikkuni
Sangha adalah
bentuk masyarakat keagamaan yang terbuka begi setiap ummat begi setiap ummat
untuk masuk dan bergabung kedalamnya, dengan mellui tahap-tahap tertentu baik
pria maupun wanita. Seseorang yang masuk dan bergabung kedalam Sangha berarti
akan hidup dalam ‘wihara’ (biara) tanpa lagi memiliki rumah tempat kediaman dan
hidup sebagai petapa.
Seorang yang
mengikuti persaudaraan para Bhikku atau Bhikkuni, untuk pertama
kalinya akan menerima ‘jubah kuning’. Ia tidak lansung diterima sebagai
Bhikku atau Bhikkuni melaikan terlebih dahulu menjadi calon ‘semantara’
dengan menepati sepuluh janji(dasa sila), tekun mempelajari Dharma, dan
menggunakan waktu luangnya untuk perenungan suci dibawah asuhan seorang Bhikku
atau Bhikkuni sebagai gurunya (acarya) yang dipilihnya sendiri. Setelah
selesai melaksanakan semua itu, maka barulah
ia diterima sepenuhnya menjadi Bhikku dalam suatu upacara ‘upasampada’
(penahbisan)yang dihari oleh para sepupuh atau Thera. Jika ia wanita
maka pentahbisannya dilakukan dua kali, pertama oleh Bhikku dan kemudian oleh Bhikku
Sangha. Setelah itu, barulah ia menjdi Bhikku atau Bhikkuni.
Sesudah menjadi
Bhikku atau Bhikkuni maka ia harus menjalani hidup bersih dan suci sebagaimana
ditentukan dalam ‘Vinaya Pitaka’, yaitu melaksnakan 227 peraturan yan
antara lain tentang :
c)
Paraturan
tata-tertib lahiriah,
d)
Peraturan
cara menggunakan pakaian, makanan dan kebetuhan hidup lainnya,
e)
Cara
mennggulangi nafsu keinginan dan rangsangan batin,
f)
Cara
memperoleh pengetahuan batin yang luhur untuk penyempurnaan diri.
Selama masa
lima tahun pertama sebagai Bhikku atau Bhikkuni ia masih dalam ikatan keguruan,
setelah lebih dari sepuluh tahun ia sudah disebut sebagai Thera.[15] Untuk menjadi seorang Bhikkhu haruslah orang yang benar-benar sehat secara
nama dan rupa/batin dan jasmani. Selain itu juga harus ada seorang Upajjhaya
yang akan menahbis untuk menjadi Bhikkhu.[16]
5.
Kelompok
Buddha Awam
Pada umumnya
yang dimaksud dengan umat Budha yang awam terdiri dari orang-orang yang telah
mengakui Sang Budha sebagai pemimpin dan gurunya, mengakui dan meyakini
kebenaran ajaran Budha serta berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan
ajarannya. Mereka yang mengakui keagamaan Budha ini disebut Upasaka dan
Upasaki.
Pengakuan
terhadap agama Budha tersebut dinyatakan dengan niat dan tekad untuk berlindung
kepada Budha, Dharma dan Sangha dengan mengucapkan ‘Trisarana’ yang berbunyi:
‘Buddhang
Saranang Gacchani, Dhammang Saranang Gacchani, Sanghang sarang Gacchani’.
Artinya :
‘Saya
berlindung kepada Budha, saya berlindung kepada Dharma, saya berlindung kepada
Sangha’.
Setelah
mengucapkan Trisarana tersebut seorang Upasaka atau Upasaki terikat secara
Rohaniah untuk melaksanakan dan mengamalkan ajaran Sang Budha dalam kehidupannya
sehari-hari. Dilihat dari tingkatan pemahaman seseorang terhadap ajaran Budha
dan tanggung jawab keagamaannya, maka kelompok masyarakat Budha Awami ini dapat
dibedakan sebagai berikut :
1. Upasaka dan Upasaki yang benar-benar awam keagamaannya.
2. Yang disebut Bala Anupandita, Anu Pandita dan Pandita adalah mereka yang menjalankan
tugas sebagai penyebar dharma dan bergabung dalam organisasi umat Budha.
3. Maha Upasaka, ialah para pandita yang mengurus administrasi dan
soal-soal teknis.
4. Maha Pandita adalah para Pandita yang mengurus khusus masalah
keagamaan.
5. Anagarika adalah orang awam Budha yang diakui memiliki pengetahuan
dan kemampuan dalam mengamalkan ajaran Budha Gautama.[17]
Responding Paper
“Makalah Perkembangan Buddhisme di India dan China”
Matakuliah Buddhisme
Judul topik :
Buddhisme di India dan China
Responder : Rini
Farida
Pemakalah : Nurhayati
1. Buddhisme di India
a. Perkembangan awal dan Masa kekuasaan Raja Asoka
Beberapa minggu
setelah Budha meninggal dunia segera terjadi perbedaan-perbedaan pendapat dikalangan para pengikutnya, terutama karena
dia tidak meninggalkan ajaran yang tertulis dan tidak menunjuk seseorang
sebagai penggantinya.
Sekelompok
bhikku berusaha merubah aturan yang telah ditetapkannya karena dirasa berat
dilaksanakan dan dipertahankan akan tetapi kelompok yang lain nya berusaha
untuk memelihara kemurnian ajarannya. Kemudian kelompok yang terakhir
memutuskan untuk mengadakan pesamuan guna membahas masalah-masalah yang sedang
berkembang pada waktu itu, terutama menyangkut ajaran-ajaran (dharma) dan
aturan-aturan bagi para bikhhu (vinaya). Pesamuan ini diadakan di Rajagraha.
Seratus tahun
kemudian muncul pula sekelompok bhikku yang menghendaki agar beberapa peraturan
dari Vinaya yang dianggap keras dan membosankan dirubah dan diperlunak,
sehingga menaggapi demikian diadakanlah pesamuan agung yang kedua di Vesali.,
untuk selama seratus tahun tidak banyak yang diketahui tentang perkembangan
agama Buddha di India, terutama setelah raja Kalasoka meninggal dunia. Baru
setelah raja Asoka yang berasal dari Dinasti Maurya, sekitar 272 SM s.d 233 SM,
agama memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat keseluruh India.
Salah satu
usaha raja Asoka yang paling penting bagi sejarah perkembangan agama Buddha
adalah pembuatan piagam-piagam yang dipahatkan pada tugu-tugu batu atau
lereng-lereng gunung yang ditandatangainya dengan nama “piyadassi”yang berarti
yang penuh perikemanusiaan. Piagam-piagam itu berisi anjuran-anjuran agar hidup
sesuai dengan ajaran sang Buddha.[18]
Masa ini
disebut juga dengan zaman kejayaan agama Buddha. Pada zaman kejayaan ini
diserti dengan zaman perselisihan dan perpecahan. Ada banyak mazhab yang
berlainan dalam hal upacara keagamaan dan persoalan agam yang pokok.
Mazhab-mazhab yang berkembang saat itu Mazhab Hinaya dan Mahaya, yang kemudian
terpecah lagi kedalam beberapa aliran sehingga kemudian agama Buddha mengalami
fase kemunduran.
2.
Budhisme
di Cina dan aliran2nya ;
Aliran Mahayana berkembang ke Utara:
Nepal, Tibet, Mongolia, Cina, Korea, dan menyebar ke Jepang juga Indonesia.
Tidak diketahui secara pasti kapan agama Budha masuk ke Cina, namun pendapat
yang umumnya diterima ialah pada masa dinasti Han. Ketika
kaisar Ming Ti (58-76 M) mengirimkan utusan ke India untuk meneliti agama
Budha. Pada awal
agama tersebut di Cina kurang meperlihatkan hasil yang menggembirakan karena
mendapat perlawanan dan tantangan dari kepercayaan dan filsafat asli Cina yang
telah berkembang sebelumnya, seperti,
yang diajarkan oleh Konfusius.
Pada periode awal perkembangan agama
Budha di Cina itu banyak didirikan wihara-wihara dan dilakukan penerjemahan
naskah-naskah Budha ke dalam bahasa Cina. Salah seorang penerjemah yang
terkenal adalah Sarvastivadin. Agama
Budha berkembang dengan baik sekali pada abad ke-6 dibawah pemerintahan Kaisar
Liang. Masa
keemasan agama Budha di Cina terjadi
antara abad ke-7 M hingga abad ke-9 M, dibawah kekuasaan dinasti Tang. Masa keemasan (Masa Dinasti Tang) Agama Budha diadaptaskan dan
dikombinasikan dengan kebudayaan setempat, seperti terlihat dalam berbagai karya
seni yang bercorak keagamaan.
Agama Buddha di China juga melahirkan beberapa aliran besar dalam golongan
Buddha Mahayana, antara lain :
- Aliran Chan atau
Dhyana yang didirikan oleh Boddhirma, asal India tetapi menetap di Cina
antara 527-536 M. Boddhidharma di kenal sangat raqdikal terhadap
kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Buddha dan bermaksud untuk
kembali pada semangat ajaran Buddha yang asli sehingga aliran yang
didirikannya sangat memberi tekanan pada teks-teks suci. Aliran ini berkembang
pesat di Cina terutama pada masa Hui Neng (838-713 M.)
2. Aliran Vinaya, didirikan oleh Too Hsuan (595-667M), yang menekankan
ajarannya pada pelaksanaan vinaya secara ketat. Menurut aliran ini,
pengingkaran terhadap dunia dan kesusilaan merupakan kondisi kehidupan sang
Buddha. Oleh karena itu aliran ini menekankan pada kehidupan mistik dan
membiara. Aliran Ching-tu atau tanah putih, yang didirikan oleh Hin Yuan
dan T’an Lun.
Responding Paper
“Buddhisme Di Korea dan Thailand”
Matakuliah :
Buddhisme
Judul topik :
Buddhisme di Korea dan Thailand
Responder : Rini
Farida
Pemakalah : Lailatul Fawaiddah
1.
Buddhisme
di Korea
Agama Buddha yang masuk ke Korea berasal dari Cina, dengan aliran
Mahayana. Agama Buddha diperkenalkan di Korea pada tahun 372 M, pada periode pemerintahan Kerajaan
Goguryeo oleh seorang biarawan bernama Sundo yang berasal dari Dinasti Qian Qin
di Cina.
Zaman keemasan agama Buddha di Korea terjadi pada masa pemerintahan
dinasti Wang, yakni pada abad ke 11. Di
bawah perlindungan kerajaan, banyak kuil dan vihara dibangun dan jumlah pemeluk
agama Buddha meningkat secara tetap. Setelah abad 11, agama Buddha yang semula hanya
dipeluk oleh para aristrocat dari dinasti Silla kemudian diterima oleh
masyarakat umum berkat usaha-usaha yang dilakukan bhiksu-bhiksu Yi Tien, P’u
Chao, dan lain-lain.
Bhiksu Yi Tien terkenal dengan editing katalog kitab Tripitaka
Cina, setelah belajar agama Buddha di Cina dan menyebarkan pandangan aliran Houa Yen dan Tien Tai di Korea. Bhiksu
Yi Tien juga menulis beberapa naskah agama Buddha dalam bahasa Korea. Sedangkan
bhiksu P’u Chao memperkenalkan ajaran Zen di Korea. Ajaran Zen ini dalam
sejarah Korea mencatat peranan penting.
Ketika Yi Seong Gye, pendiri dinasti Joseon, mengadakan
pemberontakan dan memproklamirkan
dirinya sebagai raja pada tahun 1392, ia mencoba menghapus seluruh pengaruh
agama Buddha dari pemerintahan serta mengadopsi Konfusianisme sebagai pedoman pengelolaan negara dan moralitas. Sepanjang
lima abad pemerintahan Dinasti Joseon, segala upaya untuk menghidupkan kembali
agama Buddha mendapat perlawanan keras dari para cendekiawan dan pejabat
Konfusian. Pada tahun 1910 M, Jepang mengambil alih pemerintahan Joseon secara
paksa sebagai penjajah, Jepang melakukan upaya-upaya untuk mengasimilasi
kepercayaan local dengan agama Buddha. Namun upaya-upaya ini gagal dan bahkan
berakibat pada bangkitnya minat akan agama Buddha pribumi di antara rakyat
Korea.
Meski sering terjadi pergantian penguasa di Korea, akan tetapi ke
eksistensian agama Buddha masih tetap terjaga, hal ini karena penduduk Korea
sudah banyak yang memeluk agama Buddha,
dan menjadi agama turun temurun. Teks Buddhis, asal dalam terjemahan bahasa China, sekarang sedang
diterjemahkan kembali ke dalam bahasa
Korea modern. Biara-biara
baru sedang dibangun dan yang lama diperbaiki.
Hari ini, Buddhisme lagi memainkan peran penting
dalam kehidupan masyarakat.[19]
2.
Buddhisme
di Thailand
Manurut legenda, agama Buddha masuk ke Thailand sekitar abad ke-3
S.M. ketika Raja Asoka mengirimkan dua orang Bhikku ke sana yang diterima oleh
suku Mosn yang mendiami kota Burma dan Thailand. Sampai abad ke-7 corak agama buddha itu masih
berkembang di Thailand yang dipengaruhi oleh aliran Theravada, kemudian pada
abad ke-8 yang awalnya dari aliran Theravada menjadi aliran Mahayana, Terutama
yang berasal dari kerajaan Sriwijaya, mulai kelihatan bersamaan dengan masuknya
unsur-unsur agama Hindu di Thailand Timur.
Dimasa modern, Rama IV pada tahun (1910-1925) adalah Raja
Thailand yang memebrikan warna Buddhis bagi Thailand. Ia
menegakkan soko-guru bagi persatuan kelangsungan dan identitas Thai, yaitu:
bangsa, agama dan raja. Agama Buddha merupakan agama nasional dan sebagaian
besar orang Thailand menjadi orang Thai berarti pula menjadi penganut Buddha.
Berdasarkan tiga soko-guru yang dijadikan dasar persatuan Thialand
tersebut perkembangan agama Buddha berjalan dengan pesat sejalan dengan
perkembangan masyarakat Thai di zaman modern. Banyaknya Thai yang menjadi
bhikku tersebut adalah karena faktor tradisi yang sudah lama berlaku yaitu
bahwa seorang lelaki harus menjalani hidup sebagai bhikku selama masa phasa,
atau tiga bulan sepanjang hujan, di salahsatu wihara, sebagai suatu upacara
peralihan antara masa remaja dan masa perkawinan. Selain itu, factor pendidikan
yang disediakan sangha juga telah mendorong orang-orang Thai memasuki sangha, terutama dari kalanagan rakyat biasa
dan orang-orang miskin. Fasilitas-fasilitas pendidikan yang diberikan oleh
sangha ini, baik yang berupa pendidikan agama ataupun pendidikan umum yang
disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di sekolah-sekolah negeri, telah
membuka banyak kemungkinan bagi rakyat Thailand pada umumnya untuk meningkatkan
diri sekalipun mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam masalah keuangan
dan kesempatan.
3.
Buddhisme
di Jepang
Agama Buddha masuk ke Jepang diperkirakan pada tahun 853 atau 522
M. Ketika sebuah kerajaan kecil di Korea mengirimkan sebuah delegasi kepada
Kaisar Kimmeo Tenno di Jepang. Di samping membawa berbagai hadiah, delegasi
tersebut juga meminta agar kaisar dan
rakyatnya memeluk agama Buddha. Tokoh utama dalam penyebaran agama Buddha di
Jepang adalah Pangeran Shotoku Taishi (547-621 M.) yang naik tahta pada593 M.,
peranannya disejajarkan dengan Raja asoka di India.[20]
Memasuki abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di Jepang,
sejalan dengan perselisihan dan perebutab kekuasaan diantara penguasa.
Aliran-aliran baru tersebut antara lain adalah Zen, Amida (tanah suci) dan
Nichiran Sozu. Aliran Zen mempunyai jalur asal pada ajaran Boddhidharma di Gina
dan diperkirakan masuk ke Jepang pada abad ke-6 M.. Aliran ini bertujuan untuk
memindahkan pikiran Buddha secara langsung ke dalam pikiran para pemeluknya dan
mengajarkan bahwa pencerahan hanya dapat diperoleh melalui pemikiran intuitif.
Responding
Paper
Mahayana dan
Hinaya
Mata Kuliah : Buddhisme
Responder : Rini Farida
Pemakalah : Noviah
1.
Mahayana
dan Ajarannya
Aliram
Mahayana, yaitu aliran Hinayana yang diperbaharui dengan diberi
pelajaran-pelajaran ekstra yang dipelopori oleh Buddhaghosa atau Asvaghosa.
Aliran
Buddhisme ini disebut dengan Mahayana karena dapat menampung sebanyak-banyaknya
orang yang ingin masuk Nirwana, hingga diumpamakan sebagai sebuah “kereta
besar” yang memuat penumpang banyak (arti kata Mahayana adalah kereta/kendaraan
besar). Berbeda dengan Hinayana yang mempertahankan kemurnian ajaran Buddha
yang tidak mengalami perpecahan dalam aliran-aliran, sebaliknya dalam Mahayana
terjadi perpecahan dalam banyak aliran. Makin banyak kebebasan berfikir dalam agama diberikan,
makin besar kecenderungan untuk berpecah belah dalam bentuk aliran-aliran
(sekte-sekte)[21].
Sekitar awal
era Kristen, terjadi suatu gejala baru pada agam Buddha, yakni kemunculan
Mahayana, yang secara Harfiah berarti “kendaraan Besar”. Mahayan timbul karena
melemahnya semangat lama yang menghasilkan makin sedikit Arahat, serta
tekanan-tekanan dalam doktrin selagi mereka berkembang, dan juga karena
tuntutan pengikut awam mengenai hak-hak sederajat dengan para biksu. Pengaruh
juga banyak memengaruhinya. Mahayana berkembang di Barat Laut India dan India
Selatan, daerah dimana agama Buddha paling banyak terkena pengaru-pengaruh
non-India, seperti pegaruh seni Yunani dalam bentuk Hellenistik dan Romawi,
maupun pengaruh pandangan dari Mediterania dan Iran. Penyilangan ini secara
kebetulan menyebabkan agama Budddha Mahayana cocok untuk dibawa ke luar India.
Di dalam Mahayana, Buddha menjadi suatu makhluk dari golongan yang lebih
tinggi, jauh diatas para manusia. Meskipun ia tidak diapandang sebagai Allah
dalam arti yang sebenarnya, tetapi setidak-tidaknya ia dianggap mempunyai sifat
luar biasa dan ia makin menjadi objek pemujaan dan penyembahan[22].
Buddha Mahayana memandang diri dia sendiri sebagai bagian dari tradisi Buddha
saat ini dengan mengembangkan Buddha surge dan Bodhisatva yang berfungsi
sebagai dewa untuk membimbing para pengikutnya menuju jalan keselamatan. Ketika penganut agama Buddha Mahayana
melakukan meditasi atau bersemedi, dia membayangkan bahwa Bodhisatva duduk
bersamanya dalam meditasi tersebut. Pada saat inilah dia dapat mengkonsentrasikan
dirinya dalam melaksanakan meditasi. Konsentrasi dalam meditasi sangat penting,
dan tanpa itu biasanya tujuan meditasi tidak akan terwujud denga baik.
Pokok-pokok ajaran Mahayana secara ringkas
mengajarkan:
a. Seseorang dalam mencapai Nirwana tidak
egoistismementingkan dirinya sendiri akan tetapi dapat saling membantu.
b. Kunci keutamaan ialah kasih sayang yang
disebut “karuna”
c. Pencapaian tertinggi adalah Bodhisatva
(orang yang telah mencapai ilham sehingga terjamin untuk masuk Nirwana).
d. Buddha dipandang sebagai juru selamat
mausia.
2.
Hinayana
dan Ajarannya
Hinayana adalah
ajaran-ajaran asli dari Buddha Gautama dan kitab sucinya ialah Tipitaka yang
terdiri dari Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidamma Pitaka. Di dalam aliran
Hinayana tidak ada upacara-upacara keagamaan yang rumit-rumit dan mereka yag
menganut aliran ini masih mempertahankan kesederhanaannya seperti dahulu di
waktu Sang Guru sendiri masih hidup pada 25 abad yang silam.
Prinsip-prinsip pandangan dari ajaran Hinayana adalah
mempertahankan kemurnian ajaran Buddha dan menjaga ajaran Buddha tidak
terpengaruh oleh kebudayaan lain, oleh karenanya dipandang orthodox.
Pengikut-pengikutnya juga tidak begitu meluas sebagaimana aliran Mahayana. Kata
Hinayana sendiri telah menunjukkan isi dan cita-cita yang terkandung didalamnya
yaitu berarti kendaraan kecil. Maksudnya bahwa aliran ini tidak dapat menampung
banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan nirwana, karena dalam prinsip
pandangannya menyatakan bahwa setiap orang bergantung pada usahanya sendiri
dalam mencapai kebahagiaan abadi dengan tanpa adanya penolong dari dewa ataupun
manusia Buddha. Aliran ini disebut juga “Theravada”
yang lebih jelas menggambarkan pendirian aliran tersebut, karena Theravada berarti
“jalan orang-orang tua” [24]
Penganut-penganut Hinayana menitikberatkan meditasi
untuk mencapai peneranga sempurna sebagai jalan yang terpendek untuk menyelami
Dhamma dan mencapai pembebasan, Nibbana. Kita hanya mengenal Dhamma dan Nibbana
sebagai jalan dan tujuan dari hidup kita ini, sedang yang lain-lain itu tidakk
menjadi kebutuhan pokok. Upacara-upacara keagamaan kurang dianggap
penting dan bahkan upacara-upacara yang berlebih-lebihan hanya menjadikan
ikatan-ikatan yang dapat menghambat kemajuan-kemajuan bathin[25]
Dalam pokok
ajarannya Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar
yang terdapat di dalam kitab-kitab kanonik. Jika ajaran itu diikhtisarkan
secara umum, dapat dirumuskan demikian:
a.
Segala
sesuatu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja. Apa yang berada
untuk sesaat saja itu disebut dharma. Oleh karena itu tidak ada sesuatu
yang tetap berada. Tidak ada aku yang berfikir, sebab yang ada adalah pikiran.
Tidak ada aku yang merasa, sebab yang ada adalah perasaan, demikian seterusnya.
b.
Dharma-dharma
itu adalah kenyataan atau realitas yang kecil dan pendek, yang berkelompok
sebagai sebab dan akibat. Karena pengaliran dharma yang terus-menerus maka
timbullah kesadaran aku yang palsu atau ada “perorangan” yang palsu.
c.
Tujuan
hidup ialah mencapai Nirwana, tempat keadaran itiadakan. Sebab segala kesadaran
adalah belenggu karena kesadaran tidak lain adalah kesadaran terhadap sesuatu.
Apakah yang tinggal berada di dalam Nirwana itu, sebenarnya tidak diuraikan
dengan jelas.
d.
Cita-cita
yang tertinggi ialah menjadi arahat. Yaitu orang yang sudah berhenti
keinginannya, ketidaktahuannya, dan sebagainnya, dan oleh karenanya tidak
ditaklukkan lagi pada kelahiran kembali. [26]
Ajarannya ini
didasarkan pada kitab Pali Canon, yang dipercayai oleh buddha Theravada
(Hinayana) sebagai catatan yang paling akurat tentang apa yang dikatakan dan
dilakukan Buddha. Terutama dalam Pali Canon menenkankan bahwa Buddha hanyalah
seorang manusia, seseorang yang telah mencapai pencerahan, dan bahwa pencerahan
itu dapat dicapai dengan mengikuti teladan dan pengajarannya.[27]
Responding Paper
Tantrayana, Mantrayana dan Vajrayana
Mata
Kuliah : Buddhisme
Responder : Rini Farida
Pemakalah : Ida Zubaedah
1. Aliran Tantrayana
Fase ketiga
dari perkembangan Agama Budha ialah Tantrayana (setelah Hinaya dan Mahayana),
dan merupakan fase yang paling penting Agama Budha di India. Fase ini mulai
sekitar tahun 500 M. Dan berakhir sampai tahun 1.000 M. Yang paling menarik
dalam fase ini adalah cosmical-soteriological (yang berhubungan dengan
keselamatan). [28]
Sifat dasar dominan dari Tantrayana adalah occultism (kegaiban). Penekanan
utama adalah penyesuan yang harmonis dengan cosmos dan pencapaian penerangan
dengan mantra atau metode gaib. Bahasanya adalah kebanyakan Sansekerta atau
Apabhramsa.
Istilah Tantra
secara etimologis berarti ‘menenun’ atau “alat tenun”, adalah istilah yang
dipergunakan untuk mengacu pada praktek-praktek esoterik (rahasia; tersembunyi)
yang bertujuan membangkitkan sifat-sifat ke-Tuhan-an dalam diri seseorang guna
mencapai kesempurnaan, disamping juga untuk mengacu pada kitab-kitab suci atau
sutra-sutra yang menguraikan ajaran-ajaran atau doktrin yang demikian.[29]
Singkatnya istilah tantrayan dapat dipergunakan untuk menunjukan sistem
keagamaan, atau sutra yang tergolong pada sistem ini.
a.
Kitab
Astasahasrika-Prajnaparamita-Sutra; kitab yang tertua dari kumpulan Prajnaparamita-Sutra,
menyatakan bahwa Prajna-Paramita-Naya Dharani, yang berasal dari selatan
( Daksinapata ) akan menyebar ke arah Timur untuk selanjutnya berkembang ke
Utara ( Uttarapatha ).
b.
Kitab
Sekoddesa-Tika karya Naropa, sebuah otorita di dalam kalacaka Tantra,
menyatakan bahwa Mantrayana telah dibabarkan oleh Hyang Buddha di
Sri-Dhanyakataka.
c.
Tradisi-tradisi
Buddist yang terdapat didalam literatur bahasa Sansekerta, Mandarin, dan Tibet,
semuanya menyebutkan bahwa Nagarjuna, sesepuh Mahayana, yang mengambil ilmu
esoterik dan kumpulan kitab Prajnaparamita-Sutra dari kerajaan Naga,
adalah berasal dari India Selatan. Semua otoritas di atas selanjutnya setuju
bahwa Sri Parwata merupakan pusat kegiatan-kegiatan orang suci tersebut.
d.
Manjusrimulakalpa, sebuah kitab tentang upacara Mantrayana, telah diketahui
diketemukan dari munalikkan Matham dekat Padmanabhuram di India Selatan.
Tantra membawakan
peranan penting dalam sejarah Mahayana, karena ia membangkitkan suatu penekanan
baru pada metode intuisi dan Esoterik bersama dengan perkembangan konsepsi
ke-Tuhan-an dan tata upacara. Di dalam satu atau lain cara Tantra menyentuh hampir
setiap sekte Agama Buddha Mahayana yang berikutnya, menjadi inspirasi dalam
perkembangan tata peribadatan dan seni Buddist. Jika kita ingin mencari dasar
logis mengenai sejarah asal mula Tantra Buddist, maka yang paling bijaksana
adalah memulainya dengan tradisi mantra, bagian integral (kelengkapan)
dari keyakinan Tantra. Adalah suatu kenyataan bahwa Tantra terdapat dalam Agama
Buddha dan Agama Hindu.
Aliran Tantra
Buddhist disebut juga Esoterik ( = Guhya Upadesa ) yang berarti secara rahasia,
tersembunyi dan mistik, sedangkan aliran Buddhist lainnya disebut Exoterik ( =
Vyakta Upadesa ) yang berarti sesuatu yang terbuka atau terlihat. Bagi aliran
Exoterik pelajarannya didasarkan pada Tripitaka dan untuk mencapai ke-Buddha-an
adalah secara berangsur-angsur dan bertingkat. Bagi aliran Esoterik pencapaian
ke-Buddha-an hanya dalam sekejap, melakukan upacara atau ritual (Vidhi)
merupakan peranan yang penting. Adalah tidak mudah untuk dapat mengerti ajaran
Tantra Buddist dikarenakan begitu rumit dan kompleks dalam perkembangannya.
Oleh karenanya, seorang guru yang ahli harus ada untuk membimbing calon siswa
tersebut. Dikatakan bahwa setelah mengerti ajaran Exoterik dengan cukup barulah
dapat mengerti ajaran Esoterik secara baik.[30]
2. Aliran Mantrayana
Mantrayana
dimulia pada abad ke-4 dan mendapat momentumnya setelah abad ke-5. Apa yang
telah dilakukannya telah memperkaya Buddism dengan perlengkapan tradisi gaib.
Mempergunakannya untuk tujuan kemudahan pencarian bagi pencerahan atau
penerangan. Di dalam, cara ini, banyak ‘mantra, mudra, mandala, dan dewa,
ke-Tuhan-an, secara tidak sistematis diperkenalkan kedalam Buddhism, ini adalah
setelah tahun 750, diikuti oleh suatu sistematis yang dinamakan Vajrayana, yang
menyerasikan semua ajaran sebelumnya dengan satu kelompok mengenai Panca-Tathagata
( Panca Dhayani Buddha ). Dalam kurun waktu itu, arah dan system yang lebih
lanjut membuat penampilan mereka. Perlu dicatat bahwa diantara mereka adalah
Sahajayana, yang mana seperti sekte Ch’an ( Zen ) di Tiongko, lebih
menekankan kepada latihan meditasi dan pengolahan intuisi, diajarkan secara
berbelit-belit, paradoksikal ( perlawanan asas ) dan kesan konkrit, dan
menghindari nasib dari kembali kedalam suatu persektean sama sekali mengenai
tidak ada ajaran yang ditegaskan secara kaku. Menuju pada akhir periode ini,
dalam abad ke-10, kita mempunyai Kalacakrayan ( Roda ‘waktu’, yang
ditandai oleh tingkat penyatuan aliran ) dan oleh penekanannya pada astrology.[31]Pokok-pokok
ajaran Mantrayana dapat ditemui pada karya karya Padma-Dkarpo dari Tibet.
Menurut beliau, tujuan dari Mantrayana adalah sama seperti apa yang dituju oleh
aliran-aliran lainnya dalam agama Buddha, yakni kemanunggalan manusia dengan
penerangan sempurna atau kesempurnaan secara spiritual.
3. Aliran Vajrayana
Berasal dari
kosa kata Sanskrit "Vajra" yang berarti berlian dalam aspek
kekuatannya, atau halilintar dalam aspek kedahsyatan dan kecepatannya, serta
dari kata "yana" yang berarti wahana/kereta. Dalam Wajrayana, terdapat banyak sekali metoda dalam berlatih.
Memang banyak sekali praktisi Wajrayana yang memiliki kemampuan luar biasa,
namun hal ini bukanlah sesuatu yang mistik. Hal ini sebenarnya merupakan hasil
samping dari latihan yang dilakukan, dan hal ini harus diabaikan. Seperti kata
sang Buddha, yang dapat menyelamatkan kita pada saat kematian adalah Dharma,
bukanlah kesaktian yang kita miliki. Sering kemampuan yang didapat ini menjadi
penghalang dalam mencapai tujuan utama kita, yaitu mencapai pencerahan. Hasil
samping berupa kemampuan (siddhi) ini sering akan meningkatkan kesombongan
(ke-aku-an) kita, yang sebenarnya justru harus kita hilangkan, dan bukan
merupakan sesuatu yang harus dibanggakan. Namun sayang sekali, banyak orang
yang berpandangan salah, mereka mengagungkan kemampuan gaib yang dimiliki oleh
seseorang, dan mengabaikan Dharma yang mulia. Hal ini dapat terjadi karena
adanya kebodohan / ketidak tahuan (Moha) yang dimiliki.
Praktek
Vajrayana tidak terlepas dari penjapaan mantra, maka sering juga dikenal dengan
istilah ajaran mantra rahasia. Ajaran Wajrayana sering juga disebut dengan
Praktek Rahasia, atau Kendaraan Rahasia. Hal ini menggambarkan bahwa ketika
seorang praktisi semakin merahasiakan latihannya, maka ia akan semakin
mendapatkan kemajuan pencapaian dan berkah dari latihan yang ia lakukan.
Semakin ia menceritakan tentang latihannya, maka semakin sedikit berkah yang
akan ia peroleh.[32]
Responding Paper
Aliran Nichiren Soshu, Sejarah NSI di Indonesia
Mata
Kuliah : Buddhisme
Judul Topik : Nichiren Soshu
Responder : Rini Farida
Pemakalah : Nurjaman dan Deden
1. Aliran Nichiren Soshu
ketika memasuki
abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di jepang, sejalan dengan
perselisihan dan perebutan kekuasaan di antara para penguasa, atau sejak pada
tahun 624 timbullah mazhab/aliran-aliran yang bermacam-macam di Jepang.
Aliran–aliran baru tersebut anatara lain
aliran Cha’an yang di Jepang disebut
dengan Aliran Zen, aliran Amida (Tanah Suci), dan Nichiren Syosyu.[33]
Nichiren Syosyu
adalah salah satu sekte dalam agama Buddha yang ada di Jepang yang mengakui Nichiren Daishonin[34]
sebagai pendirinya dan Nikko Syonin
sebagai pewaris hukumnya. Nichiren Syosyu lahir di Jepang oleh pendirinya
Nichiren Daishonin (1222-1282), yang
asal mulanya dari sekte Tandai (Jep). (T’ien-t’ai).[35]
Ia dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1222 di sebuah desa nelayan kominato di
Tokyo, Propinsi Awa, derah Chiba. Ayahnya bernama Mikuni No Toyo dan ibunya bernama Umegiku-Nyo. Nama kanak-kanaknya adalah Zen
Nichi Maro. Pada usia 12 tahun ia memasuki suatu kuil dari sekte T’ien-T’ai
bernama Seicho-Ji, dimana ia mempelajari baik ajaran-ajaran Buddhisme
maupun pendidikan umum, dibawah pendeta Dozen-bo.
Pada waktu itu,
kekuasaan politik di Jepang telah bergesar dari kaum ningrat istana kekaisaran
di Kyoto kepada golongan Samurai yang mendirikan suatu pemerintah militer, atau
keshogunan, di kota Kamakura, di pantai Pasifik jauh dari Kyoto, tempat
kedudukan tradisional dan kuno dari kaisar.[36]
Tahun 1294 adalah tahun dimulainya penyebaran
ajaran Nichiren di Kyoto; kemudian terus berkembang hingga abad ke-14, terlepas
dari penyiksaan yang mereka alami di Pegunungan Hiei. Antara aliran Pure-Land
dan aliran Nichiren terus berperang hingga abad 16, sekitar tahun 1632 para
pengikut sekte Nichiren diserang oleh sekte Pure-Land, hingga kurang lebih
58ribu orang menjadi korban. Bagaimana pun, ajaran Nichiren yang sederhana dan
militan ini terus berkembang, mereka pun menyerang para prajurit dan agama
lokal di sekitarnya. Ironisnya, ajaran ini merupakan ajaran Lotus Sutra yang
mengajarkan keselamatan universal, yang kemudian dibentuk menjadi ajaran paling
eksklusif, dan politis di Jepang. [37]
2. Nichiren Soshu di Indonesia
Agama Buddha Nichiren Shoshu pertama-tama masuk ke
Indonesia pada tahun 1950-an. Tahun 1964 dibentuk wadah bagi umat Nichiren
Shoshu di Indonesia yaitu NSI (Nichiren Shoshu Indonesia). Organisasi umat
Buddha Nichiren Shoshu Indonesia pertama-tama berupa yayasan yaitu Yayasan
Buddhist Nichiren Shoshu. Berkembang mula-mula di Jakarta. Sejak kepemimpinan
Senosoenoto, agama Buddha Nichiren Shoshu berkembang luas hingga ke desa-desa.
Hingga tahun 2005 ini umatnya telah tersebar di berbagai pelosok Indonesia.
Senosoenoto juga ikut mempelopori berdirinya wadah umat Buddha di Indonesia,
WALUBI. Beliau menjadi Sekretaris Jenderal WALUBI pada tahun 1977 (saat itu
masih bernama MABI ; Majelis Agama Buddha Indonesia) dengan Ketua Umum Brigjen
TNI (purn) Soemantri. Sepeninggalan almarhum Senosoenoto, umat Buddha Nichiren
Shoshu di Indonesia berada dalam wadah tunggal Yayasan Pandita Sabha Buddha
Dharma Indonesia (YPSBDI), yang diketuai oleh Pandita Aiko Senosoenoto.[38]
Pada awalnya
perjuangan agama Buddha Nichiren Syosyu belum terarah dan banyak menimbulkan kesalah pahaman. Tetapi setelah peralihan
puncak pimpinan yang langsung ditangani oleh Bapak Senosoenoto (kini sebagai
ketua Umun Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia). Pada tahun 1980
perjuanggan untuk menyebarkan agama Buddha Nichiren Syosyu telah terprogram:[39]
Tahun 1965
sampai dengan tahun 1972, merupakan masa perkenalan agama Buddha Nichiren
Syosyu di indonesia. Dengan lahirnya orde baru, semua agama yang resmi diakui
oleh pemerintah. Bagi agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia era ini digunakan
untuk mengatur dan menyusun organisasi dengan ketentuan Hukum yang berlaku di
negara Republik Indonesia. Sehingga terlahirlah “Yayasan Buddhis Nichiren
Syosyu Indonesia tertanggal 22 September 1970 No. 76”, yang telah
dipertegas dalam anggaran dasarnya,
khususnya perihal maksud dan tujuan yang sejalan dengan cita-cita bangsa
indonesia dalam pembangunan nasional yang tertuang dalam GBHN berdasarkan
Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Tujuh tahun
dalam masa ini merupakan perjuangan yang berat dalam membangun suatu himpunan
yang kuat berdasarkan prinsip-prinsip Ajaran Sang Buddha secara murni dan
tetap. Tantangan yang terbesar pada masa ini adalah terjadinya perbadaan
pendapat dikalang pimpinan sekitar tahun 1971 – 1972. Namun berkat maitri karuna (welas asih) dan kekuatan
gohonzon, krisis besar itu dapat diatasi, sehingga pada tahun itu juga sejumlah
39 anggota Nichiren Syosyu Indonesia berziarah ke kuil Pusat Ghohondo pad
tanggal 1972, yang merupakan bukti berhasilnya menatasi krisis tersebut dan
berakhirnya masa perkenalan ini.[40]
Masa pembuktian
Identitas inilah Nichiren Syosyu Indonesia mulai aktif dengan gerakan-gerakan
masyarakat dan berpartisipasi dalam Majelis-Majelis Agama Buddha yang mulai
dengan ikut sertanya Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia di dalam
Musyawarah Intern Umat Beragama Buddha di Lawang-Jawa Timur, tanggal 12-14
Maret 1976. Disusul dengan peringatan Hari Kartini di Gedung Basket Lokasari
pada tanggal 21 April 1967. Dalam usaha penghayatan kebudayan bangsa, maka
selama tahun 1977 secara bergelombang diselenggarakan “Malam Kekeluargaan Daerah”
yang sepenuhnya ditanggung oleh masing-masing daerah di Gedung RRI. Pada tahun
ini pula, tepatnya pada tanggal 13 Agustus 1977, ketua Umum Majelis Agama
Buddha Nichiren Syosyu Indonesia (MABNSI), Bapak Senosoenoto dipilih menjadi
Sekretaris Jendral Majelis Agama Agama Budha Indonesia (MBI). Dalam rangka perayaan Hari Suci Waisak, maka
untuk pertama kalinya MABNSI menyelenggarakan Malam Kekeluargaan yang pada
kesempatan itu pula dihadir oleh Bapak Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Gde Pudja,
MA, SH, yang berkenan pula memberikan sambutan.
Sebagai langkah
awal, pada tanggal 12-13 November 1977. MABI mengadakan Persamuan Agung Pertama
di Vihara Sadaparibhuta 1 Megamendung (Pusat penataran Nichiren Syosyu
Indonesia). Disusul dengan langkah berikutnya, maka pada tanggal 12 Mei 1978,
MABI telah menerima Bapak Mentri Agama RI. H. Alamansyah Ratu Perwiranegara
yang merupakan Mentri Kabinet Pembangunan 3. Adapun maksud dan tujuannya adalah
dalam rangka tatap muka sekaligus pengenalan diri dihadapan para pemuka Agama
Buddha. Pada saat itu pula merupakan hari resminya penggunaan vihara
Sadaparibhuta I sebagai tempat bagi penataran-penataran baik mengenai Agama
Buddha maupun maksud lain.
Agama Nichiren
Syosyu memiliki prinsip yang dinamakan “esyo Funi” yang berarti, bahwa
antara subjek (manusia) dan lingkungan sama sekali tak terpisahkan atau
pada hakekatnya bukan dua. Maka di dalam pelaksanannya sehari-hari penggunaan
bahasa di dalam setiap pertemuan-pertemuan hanya memakai satu bahasa yakni
bahasa Indonesia. Prinsip ini dalam prakteknya sehari-hari mengajarkan kita
untuk mencintai tanah air dimana kita dilahirkan, oleh karenanya upaya
penghayatan nilai-nilai budaya bangsa sekaligus pelestariannya merupakan
kegiatan-kegiatan yang tak kunjung padam kita laksanakan. Para ibu mempelajari
kesenian-kesenian Nasional maupun tradisional yang di ikuti oleh
putra-putrinya. Para remaja aktif dalam kepramukaan dan pecinta alam, bahkan
mengadakan seminar Pancasila guna menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
agar dapat ditemukan nilai-nilai apa yang sesuai dengan ajaran agama Buddha.
Kesimpulannya, Pancasila senafas dengan agama Buddha.
Puncak
keberhasilan dari Masa Pembuktian Identitas adalah bahwa semua Majelis-Majelis
Agama Buddha secara rukun dan penuh kekeluargaan mengadakan Musyawarah Intern
Umat Beragama Buddha di Vihara sadaparibhuta 1 Megamendung dari tanggal 14 – 16
Desember 1979. Dengan berakhirnya musyawarah ini maka terbentanglah sebuah era
baru yaitu masa penentuan dasar-dasar pelaksanan ajaran Agama Buddha Nichiren
Syosyu untuk kemakmuran dan kebahagian rakyat Indonesia.[41]
Responding Paper
Budhisme Zen Dan Ajaran-Ajaran, Dan Aliran-Alirannya
Mata
Kuliah : Buddhisme
Topik : Zen Buddhisme
Responder : Rini Farida
Pemakalah : Fathimah Al-Batul
1. Sejarah Zen Buddhisme
Pada masa Sang Buddha, yoga sebagai konsentrasi
terhadap Brahman dipraktikkan secara luas. Pada dasarnya, sifat dasar yoga
untuk meng-kontemplasikan spirit di satu poin tertentu yaitu: pencapaian
ketenangan dengan duduk bermeditasi. Faktanya, metode-metode dalam yoga dewasa
ini terbatas hanya berkaitan dengan apa yang harus dimakan, berpuasa, dan
sumpah-sumpah tertentu; seperti sumpah untuk tetap berdiri dengan satu kaki
dengan tujuan untuk memperpanjang waktu. Melalui sejenis pertapaan dan kesatuan
seluruh latihan, yogi melatih dirinya sendiri untuk mengabaikan hal-hal yang
bersifat eksternal dan mengontrol pergerakan ruhnya sendiri hingga yang paling
tipis sekalipun.[42]
Sejarah Zen dimulai dari India. Seiring perubahan
zaman, Hinduisme—yang juga merupakan akar Buddhisme—yang sempat tersingkir oleh
beberapa ajaran baru yang muncul di India; kembali menemukan jalan
kebangkitannya. Beruntung sebelum Buddhisme tergusur oleh Hinduisme—karena
Hinduisme mengalami kebangkitan—pengaruh Buddhisme telah tesebar melintas benua
hingga ke Cina. Agama Buddha Mahayana, salah satu sekte dalam Agama Buddha,
dibawa ke Cina oleh Boddhidharma[43].
2. Ajaran dan Aliran Zen Buddhisme
Di antara delapan puluh empat ribu ajaran dalam agama
Buddha, Zen adalah ajaran yang sekarang ini paling digemari untuk dipelajari
banyak orang. Meskipun pernah terbatas saja di wilayah timur tempat ajaran ini
berasal, ajaran Zen sekarang telah menarik perhatian dan minat di wilayah
barat. Sebutlah satu contoh, banyak universitas di Amerika yang telah membentuk
kelompok-kelompok meditasi.
Sungguh membesarkan hati melihat meditasi menyebar
dari kungkungan vihara-vihara ke dunia modern, di sini meditasi memainkan
peranan yang sangat penting. Menjelaskan Zen bukanlah suatu tugas yang mudah
karena Zen adalah sesuatu yang tidak dapat dikatakan atau diungkapkan secara
tertulis. Saat bahasa digunakan, kita tidak lagi berhubungan dengan inti sejati
Zen karena inti sejatinya itu melebihi semua kata-kata. Walaupun demikian, Zen
tidak dapat dibiarkan tanpa ungkapan. [44]
Zen Buddhisme menerapkan Meditasi, yaitu Samatha
Bhavana dan Vipasyana Bhavana. Meditasi Zen Buddhisme, ti dan dengan tata cara
upacara, melainkan secara wajar dan alamiah serta tidak terikat pada posisi
duduk bersila. Dalam Zen Buddhisme, bagi mereka walaupun tidak ada pendidikan
formal juga akan tetap memperoleh kemajuan spiritual, dengan demikian, Buddha
Dharma akan lebih mudah dipahami dan dihayati, asalkan dengan usaha yang
sungguh-sungguh, tekun latihan meditasi. Maka secara filsafat Zen Buddhisme,
ajaran Dharma diberikan secara langsung dari hati ke hati.
Filsafat Zen Buddhisme juga membahas tentang
Sunyata. Sebagaimana dijelaskan dalam Vajrachedika-Prajnaparamita Sutra, bahwa
hati dan pikiran kita, janganlah terikat dengan Anitya, Dukkha, dan Anatman. Segala
sesuatu yang bersyarat di alam fenomena ini tidaklah kekal atau terus berubah
dan tidak pasti, demikian juga seperti perasaan dan pikiran kita, jika terikat
pada perasaan dan pikiran kita, seandainya perbuatan baik yang telah dilakukan
sedangkan karma baik atas perbuatan baik kita itu tidak langsung berbuah,
bukankah itu akan sangat mengecewakan?[45]
Tujuan utama dari sekte Zen atau Ch’an bukanlah
hanya duduk bermeditasi, melainkan membina kesadaran pada diri kita sendiri
atau membuka kesadaran diri kita sendiri untuk mencapai ‘U’ (Satori). Setelah
tercapainya ‘U’ (Satori) maka secara psikologi, pikiran dan batin kita telah
maju dan telah bebas dari segala macam kemelekatan atau ikatan. Dia akan terus
maju dan secara teologis, dapat diartikan semakin mendekati Sang Absolut. Sekte
Ch’an tidak terikat pada segala macam tradisi, tata-upacara sembahyang, dan
tidak terikat pada Sutra-sutra. Yang paling penting adalah bagaimana menembusi
isinya dan mengenal diri sendiri secara intuisi; bagaimana merealisasikan
Dharma. Dharma itu Sunyata karena itu tidak dapat jika hanya dijelaskan dengan
kata-kata, hanya dengan usaha yang tekun dan waktu yang lama seseorang baru
dapat merealisasikannya.[46]
Zen memelihara jalan ini sebagai jalan yang
melaluinya Buddha sendiri mencapai pencerahan. Zen mengajarkan bahwa seluruh
manusia memiliki kapasitas yang sama untuk mencapai pencerahan karena kita
memiliki sifat alami kebuddhaan; sebenarnya, kita merupakan keberaan yang telah
tercerahkan, tetapi potensial kebenaran kita telah terhijab oleh kebodohan.
Berdasarkan beberapa tradisi Zen, kebodohan ini menguasai dapat dikuasai melalui
pemecahan tiba-tiba—yang disebut satori—selama meditasi dimana sifat alami dari
keberadaan dan pengalaman kita, disingkapkan.
Aliran ini
terbagi menjadi dua golongan besar yaitu: Soto
Zen, dengan tokohnya yang bernama Dogen ( (19 January 1200 - 22 September
1253) yang merupakan seorang guru Zen termasyur di Jepang. Tokoh ini pernah
lama belajar dan memperdalam ilmunya di negeri China. Peninggalan salah satu
kuil Zen yang sangat terkenal yaitu Eiheiji Temple di Perfecture Fukui, dimana disitu terlihat jelas refleksi dari ajaran
Zen tersebut. Dan yang kedua aliran Rinzai
dengan tokohnya yang bernama Eisai. Aliran yang tersebut akhirnya berkembang di
kalangan militer dan aristokrat serta menjadi tulang punggung kelas penguasa
dan militer. Sementara yang pertama yaitu aliran Soto Zen itu lebih banyak dianut oleh kalangan para
petani dan bergerak dalam kegiatan sosial, yang memiliki perguruan tinggi dan
sekolah-sekolahh yang cukup banyak.[47]
Aliran Zen
yang berbeda, diantaranya adalah Rinzai dan Soto—dua yang utama—menemukan
kembali beberapa metode untuk mencapai pencerahan, termasuk mempraktikkan zazen
(“hanya duduk” bermeditasi). Meskipun pesan Zen nampak sangat sederhana,
latihannya sangat sukar dan membutuhkan petunjuk dari seorang master. Di
Jepang, Zen menjadi populer di kalangan prajurit samuria karena fokusnya pada
kedisplinan dan kontrol diri; Zen juga mengiformasikan praktik-praktik seni
yang lainnya, seperti kaligrafi, lukis, desain taman, dan memanah. Sejak awal
abad ke-20, satu versi populer Zen telah tersebar ke seluruh dunia dan
mempengaruhi baik di USA ataupun Eropa.
Daftar Pustaka
1. Abdul Manaf, Mujahid. Sejarah agama-Agama. Raja Grafindo Persada. Jakarta: 1996
2. Antin,
menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, ( Jakarta : Golden Terayon Press,
1986 )
3. Arifin, Muhammad. Menguak Misteri Ajaran agama-Agama Besar. Golden Trayon Press.
Jakarta: 1986
4.
Diputrha
Okta, Meditasi I,( Jakarta: Vajra Dharma Nusantara, 2004).
5.
Diputra
Okta, Meditasi II, (Jakarta: Vajra Dharma Nusantara, 2004).
6.
Dhammananda
Sri, Meditasi untuk siapa Saja, (Jakarta: Pustaka Karaniya, 2003).
7.
Ebook
Buddhism in east Asia
8. Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Buddha. Gunung Mulia. Jakarta: 2003
9.
Hoay
kwee Tek, Meditasi dan Sembahyang, (Jakarta, 1991).
10.
http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
11. http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
12.
Hadikusuma
Hilman, “Antropologi Agama Pendekatan Budaya terhadap Aliran Kepercayaan,
Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, di Indonesia”, Bandung: PT.Citra Aditya
Bakti, 1993
14. http://www.artikelbuddhis.com/2010/11/manfaat-menjadi-bhikkhu.html
17. Jr, A.g Honig. Ilmu Agama. Gunung Mulia. Jakarta: 2003
18. Kitagawa, Joseph. M. Religion in Japanese History. 1966. New York:
19.
Majelis
Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia. Sejarah
dan Perkembangannya Agama Buddha Nicirren Syosyu di Indonesia.
20.
Mecle Keene, agama-agama Dunia, (Terj...(Jogjakarta: Kanisius,2006)
21.
Nakamura, Hajime. Buddhism
in Comparative Light. 1975. New Delhi:
22.
Piyadassi
Thera. Meditasi Buddhis: Jalan Menuju Ketenangan dan Kebersihan Batin,
Paramita. Surabaya: 2005)
23. T, Suwarto. Buddha Dharma Mahayana. Majelis Buddhayana Indonesia. Jakarta: 1995
24.
Yun, Venerable Master Hsing.
Karakteristik Dan Esensi Ajaran Zen (Two Talks on Zen).
25.
Terjemahan Vimuttaguna Lenny
Wijaya. - : Yayasan Penerbit Karaniya. Cet. 39. 1994
26. ---Kebahagiaan Dalam Dhama. Majelis Buddhayana Indonesia. 1980
[1] Piyadassi
Thera. Meditasi Buddhis: Jalan Menuju Ketenangan dan Kebersihan Batin, (Surabaya:
Paramita, 2005), h. 27
[6] Maha Nayaka
Sthavira A. Jinarakkhita. Meditasi II, h. 85
[7]Pancakkhandha
terdiri atas: rupa-khandha (kelompok jasmani), vedana-khandha (kelompok
perasaan), sanna-khandha (kelompok pencerapan), sankhara-skandha (kelompok
bentuk pikiran), dan vinnana-skandha (kelompok kesadaran). Sesungguhnya yang
disebut dengan pancakhandha itu adalah makhluk.
[8] Maha Nayaka
Sthavira A. Jinarakkhita. Meditasi II, h. 109
[10] Ali Mukti, Agama-Agama
Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 129
[11]
http://ilhamalik.blogspot.com/2012/05/makna-puja-doa-hari-suci-tempat-suci.html
[12] Mukti Ali
“Agama-Agama Dunia” (IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakatra) hal.129-131
[13] Ali Mukti, Agama-Agama
Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 129
[14] T. Suwarto, “Budha
Dharma Mahayana” Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995.
Hal. 51
[15] Hadikusuma
Hilman, “Antropologi Agama Pendekatan Budaya terhadap Aliran Kepercayaan,
Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, di Indonesia”, Bandung: PT.Citra Aditya
Bakti, 1993. Hal.237
[16]Tanhadi, “Tidak Semua
Orang Bisa Menjadi Bhikkhu”: waru-sidoarjo,
Jatim, Indonesia, artikel diakses pada 19 Maret 2013 dari
http://tanhadi.blogspot.com/2012/07/tidak-semua-orang-bisa-menjadi-bhikkhu.html
[17]Hilman
Hadikusuma, Antropologi Agama (Bandung: PT.CITRA ADITYA BAKTI,1993)
hal.238-239
[18]Mukti Ali, Agama-agama dunia, Yogyakarta. hal.132
[19]Ebook
Buddhism in east Asia
[21] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986), cet-1, h.110
[22]A.g Honig Jr, Ilmu Agama, ( Jakarta: Gunung Mulia,
2003 ), cet – 10, h.225
[23] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986), cet-1, h.111
[24]M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986), cet-1, h.108
[25]Majelis
Buddhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam
Dhamma, (Depok: Bromo FC, 1980), h. 333
[26]Harun
Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia, 2010) h. 91
[27]Mecle Keene,
agama-agama Dunia, (Terj...(Jogjakarta: Kanisius,2006), h. 70
[28] Suwarto T, Budha Darma Mahayana, ( Jakarta :
Majelis Agama Buddha Mahayan Indonesia, 1995 )hlm. 119
[29] Antin,
menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, ( Jakarta : Golden Terayon Press,
1986 )
[30] Suwarto T, Budha Darma Mahayana, ( Jakarta :
Majelis Agama Buddha Mahayan Indonesia, 1995 )hlm. 120
[33]Mukti Ali, Agama-
Agama Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press), h. 141.
[34] Daishonin
adalah sebuah gelar kehormatan besar bagi kebijaksanaan dan kesucian. Ini tidak
mengandung arti tambahan ‘’santun’’ yang kadang-kadang digunakan sebagai
terjemahannya dalam buku Buddhisme:
Falsafah Hidup, oleh Daisaku Ikeda. h. 7.
[35] Majelis Agama
Buddha Mahayana Indonesia, Buddha Dharma
Mahayana, Penyusun: Suwarno T, (Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana
Indonesia, 1995), h. 520.
[36] Daisaku Ikeda. Buddhisme: falsafah Hidup. Alih Bahasa:
Soedibyo. Jakatra: PT Intermasa, 1988. h. 61.
[42] What Is Zen
Buddhism artikeldiposting di http://www.karate.butsu.net/onzen/zen_history.html; tidakadaketerangantentangpenulisataupengelolawebsitenya.
Artikelinidiaksespada: Senin, 18 Maret 2013.
[43] Y.A.
MahaSthaviraSangharakshita. Zen: Inti Sari Ajaran. 1991:35
[45]Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.Buddha Dharma Mahayan.Hlm: 480
[47] Suwarto. Buddha Darma
Mahayana. (Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana
Indonesia. 1995). h. 520-521

Tidak ada komentar:
Posting Komentar