Kamis, 06 Juni 2013

Responding Paper


Add caption


 

RESPONDING PAPER MEDITASI
Matakuliah                : Buddhisme
Judul Topik               : Meditasi
Responder                  : Rini Farida
Pemakalah                 : Mila Kamilah
1.     Pengertian Meditasi
Istilah meditasi sebenarnya dapat disamakan dengan istilah ‘bhavana’ yang arti harfiahnya ‘pengembangan batin’ yakni usaha untuk menumbuhkan batin terpusat, tenang, mampu dengan  jelas melihat sifat batin sesungguhnya gejala apapun yang dapat merealisir Nibbana, suatu keadaan batin ideal dari batin yang sehat.[1]
Meditasi adalah pendekatan psikologis untuk pengenbangan, pelatihan, dan pemurnian pikiran[2]. Meditasi (samadhi) merupakan suatu bentuk latihan spiritual bagi ummat Buddha sebagai salah satu jalan untuk memutuskan penderitaan dan lahir berulang yang tiada henti.[3]
2.     Tujuan Meditasi
Meditasi bertujuan untuk melihat esensi diri dan sampai pada akhirnya kita menyadari bahwa segala sesuatu tidaklah kekal (impermanence) sehingga membantu  pengembangan pandangan benar. Untuk bisa melihat bahwa  segala sesuatu itu tidaklah kekal, maka pikiran ini harus diam ­­–jangan malah terlarut dalam perubahan.[4]
Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran cenderung untuk lari kesana-kemari. Pikiran dengan mudahnya terbawa arus kehidupan. Sesaat kita menyesali tindakan-tindakan  kita yang telah lampau ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­–kadang menyakitkan, kadang menyenangkan, atau bahkan biasa-biasa saja. Namun, sedetik kemudian yang kita pikirkan adalah hal-hal yang kita kehendaki untuk terjadi ke depannya­­--  dan  ada satu  kata sepakat, bahwa pikiran itu liar dan sulit ditaklukkan. Inilah mengapa kita bermeditasi.
3.     Jenis-jenis Meditasi
Meditasi Buddhis ada dua macam  yakni,  sebagai berikut:
1.    Meditasi Samatha-Bhavana yakni meditasi untuk mencapai keterangan hidup. Dalam abad nuklir ini, dimana kehidupan terasa semakin keras dan kompleks, memang sangat dibutuhkan meditasi samatha bhavana ini, untuk menghilangkan stress, frustasi dan untuk menciptakan ketenangan batin.
2.    Meditasi Vipassana-Bhavana, yakni mediatsi yang dapat membersihkan kekotoran bathin dan  pikiran secara total, sehingga kita dapat mencapai pandangan terang.[5]
4.     Objek Meditasi
                              I.            Samatha Bhavana
Dalam Samatha Bhavana ada 40 objek meditasi. Objek-objek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru.[6]
Keempat puluh macam objek meditasi itu ialah:
a.              Sepuluh kasina (10 wujud benda), yaitu:
1.         Pathavi kasina = wujud tanah
2.         Apo kasina                  = wujud air
3.         Tejo kasina                  = wujud api
4.         Vayo kasina                 = wujud udara atau angin
5.         Nila kasina                   = wujud warna biru
6.         Pita kasina                   = wujud warna kuning
7.         Lohita kasina               = wujud warna merah
8.         Odata kasina               = wujud warna putih
9.         Aloka kasina                = wujud cahaya
10.     Akasa kasina               = wujud ruangan terbatas
b.         Sepuluh asubha (10 wujud kotoran), yaitu:
1.         Uddhumataka             = wujud mayat yang membekak
2.         Vinilaka                       = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan
3.         Vipubbaka                   = wujud mayat yang bernanah
4.         Vicchiddaka                = wujud mayat yang terbelah di tengahnya
5.         Vikkahayatika             = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6.         Vikkhittaka                 = wujud mayat yang telah hancur lebur
7.         Hatavikkhittaka           = wujud mayat yang busuk dan hancur
8.         Lohitaka                      = wujud mayat yang berlumuran darah
9.         Puluvaka                      = wujud mayat yang dikerubungi belatung
10.     Atthika                                    = wujud tengkorak
c.         Sepuluh annusati (10 macam perenungan), yaitu:
1.    Buddhanussati               = perenungan terhadap
Buddha
2.    Dhammanussati             = perenungan terhadap Dhamma
3.    Sanghanussati                = perenungan terhadap Sangha
4.    Silanussati                      = perenungan terhadap Sila
5.    Caganussati                    = perenungan terhadap kebajikan
6.    Devatanussati                = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung  atau para dewa
7.    Maranussati                    = perenungan terhadap kematian
8.    Kayagatasi                     = perenungan terhadap badan jasmani
9.    Anapanasati                   = perenungan terhadap pernapasan
10.     Upasamanussati           = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana
d.        Empat appamanna (empat keadaan yang tidak terbatas), yaitu:
1.      Metta                 = cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
2.      Karuna               = belas kasihan
3.      Mudita               = perasaan simpati
4.      Upekkha                        = keseimbangan batin
e.         Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)
f.          Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada didalam badan jasmani)
g.        Empat arupa (empat perenungan tanpa materi), yaitu:
1.   Kasinugaghatimakasapannatti        = objek ruangan yang sudah keluar dari kasina
2.      Akasanancayatana-citta                = objek kesadaran yang tanpa batas
3.      Natthibhavapannatti                                 = objek kekosongan
4.      Akincannayatana-citta                  = objek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan

                            II.            Vipasana Bhavana          
               Dalam melaksanakan Vipasana Bhavana, objeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi), atau pancakandha (lima kelompok faktor kehidupan)[7]. Ini dilakukan dengan memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus, sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidakkekalan). Dukkha (derita), dan anatta  (tanpa aku).[8] Dan juga yang menjadi objeknya adalah empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas: kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani), vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan), citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran), dan Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran).

Responding Paper
 Ajaran Tentang Sangha

Mata Kuliah                  : Buddhisme
Judul Topik                  : Ajaran Tentang Sangha
Responder                     : Rini Farida
Pemakalah                              : Ifa Nurrofiqoh

1.     Pendahuluan
Persaudaraan para bhiksu, bhiksuni (pada waktu permulaan terbentuk) kemudian, setelah agama Buddha Mahayana berkembang anggotanya tidak hanya para bhiksu bhiksuni akan tetapi juga para umat awam yang telah upasaka-upasaki dengan bertekad pada ketentuan tindak-tanduknya untuk menjadi seorang Boddhisatva, menerima dan mempraktekkan Panca Buddhis Atau Boddhisatva Sila.[9]
2.     Pengertian Sangha dan Kedudukannya
Secara kelembagaan, ummat budha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keelompok masyarakat kewiharaan atau Sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok pertama terdiri dari para Bhikku dan Bhikkuni, samanera dan samaneri. Mereka menjalani kegidupan suciuntuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan serta tidak menjalani hidup keluarga. Kelompok masyarakat awam yang terdiri dari Upasaka dan Upasakiyang telah menyatakan diri berlindung kepada Budha, Dharma dan Sangha, serta melaksanakan prinsip-prinsip moralbagi ummat awam dan berumah tangga.[10]
Menurut kepercayaan umat Buddha, sangha tidak dapat dipisahkan dan dharma dan Buddha, karena kegiatannya adalah Triratna yang membentuk kesatuan tunggal dan merupakan manifestasi berasas tiga dari Yang Mutlak di dunia. Kata Tiratana terdiri dari kata Ti, yang artinya tiga dan Ratana, yang artinya permata / mustika; yang maknanya sangat berharga. Jadi, arti Tiratana secara keseluruhan adalah Tiga Permata (Tiga Mustika) yang nilainya tidak bisa diukur; karena merupakan sesuatu yang agung, luhur, mulia, yang perlu sekali dimengerti (dipahami) dan diyakini oleh umat Buddha.
Dalam naskah-naskah Buddhis dijelaskan bahwa sangha adalah pasamuan dari makhluk-makhluk suci atau ariya-puggala. Mereka adalah makhluk-makhluk suci yang telah mencapai buah kehidupan beragama yang ditandai oleh kesatuan dari pandangan yang bersih dan sila yang sempurna. Tingkatan kesucian yang telah mereka capai terdiri dari sottapati, sakadagami, anagami dan arahat. [11] Sangha adalah inti masyarakat Buddha yang dapat menciptakan suasana yang diperlukan untuk mencapai tujuan hidup tertinggi, yaitu nirwana. Dari umat Buddha sangha patut menerima pemberian (ahu-neyyo), tempat berteduh (pahuneyyo), persembahan (dakkhineyyo), penghormatan (anjalikarananiyo), dan merupakan lapangan untuk menanam jasa yang tidak ada taranya di dunia (anuttaram pannakhettam lokassa).
3.     Tingkat Kesucian
Buddha, Dhamma, dan Sangha tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pembahasannya. Jadi, kalau ada guru, maka harus ada ajaran dan juga harus ada siswa yang berhasil untuk membuktikan kebenaran ajaran sang guru tersebut. Oleh sebab itu, ketiga hal ini saling berkaitan. Dalam Khuddakanikaya, Khuddakapatha, dijelaskan beberapa perumpamaan dari Tiratana di antaranya yaitu:

Buddha
Dhamma
Sangha
Dokter
Obat
Pasien yang sembuh
Matahari
Sinar
Bumi yang tersinari matahari
Nahkoda
Kapal
Penumpang yang sampai tujuan
Busur panah
Anak panah
Sasaran yang terkena panah

Secara kelembagaan umat Budha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok masyarakat kewiharaan atau sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok pertama terdiri dari Bhikkhu, Bhikkhuni, Samanera dan Samaneri. Mereka menjalani kehidupan suci untuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan serta tidak menjalani hidup keluarga. Kelompok masyarakat awam terdiri dari Upasaka dan Upasaki yang telah menyatakan diri berlindung kepada Budha, dharma dan sangha serta melaksanakan prinsip-prinsip moral bagi umat awam dan hidup berumah tangga.[12]

4.     Cara Menjadi Bikkhu
a)      Pengertian Bhikku atau Bhikkuni
Secara kelembagaan, ummat budha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keelompok masyarakat kewiharaan atau Sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok pertama terdiri dari para Bhikku dan Bhikkuni, samanera dan samaneri. Mereka menjalani kegidupan suciuntuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan serta tidak menjalani hidup keluarga. Kelompok masyarakat awam yang terdiri dari Upasaka dan Upasaki yang telah menyatakan diri berlindung kepada Budha, Dharma dan Sangha, serta melaksanakan prinsip-prinsip moralbagi ummat awam dan berumah tangga.[13]
Bhikku atau Bhikkuni adalah seorang yang kehidupannya sudah tidak lagi mencampuri urusan duniawi, telah mejalani kehidupan suci dan patuh serta setia mengayati dean menhamalkan Budha Dharma, patuh menjalankan pratomoksa (sila-sila untuk para Bhikku dan Bhikkuni) terdapat dalam buku Budha Mahayana yakni Paccimovada Pari Nirvana Sutra terjemahan oleh Kumarajiva.[14]
b)      Cara dan Persyaratan untuk menjadi seorang Bhikku atau Bhikkuni
Sangha adalah bentuk masyarakat keagamaan yang terbuka begi setiap ummat begi setiap ummat untuk masuk dan bergabung kedalamnya, dengan mellui tahap-tahap tertentu baik pria maupun wanita. Seseorang yang masuk dan bergabung kedalam Sangha berarti akan hidup dalam ‘wihara’ (biara) tanpa lagi memiliki rumah tempat kediaman dan hidup sebagai petapa.
Seorang yang mengikuti persaudaraan para Bhikku atau Bhikkuni, untuk pertama kalinya akan menerima ‘jubah kuning’. Ia tidak lansung diterima sebagai Bhikku atau Bhikkuni melaikan terlebih dahulu menjadi calon ‘semantara’ dengan menepati sepuluh janji(dasa sila), tekun mempelajari Dharma, dan menggunakan waktu luangnya untuk perenungan suci dibawah asuhan seorang Bhikku atau Bhikkuni sebagai gurunya (acarya) yang dipilihnya sendiri. Setelah selesai melaksanakan semua itu, maka barulah  ia diterima sepenuhnya menjadi Bhikku dalam suatu upacara ‘upasampada’ (penahbisan)yang dihari oleh para sepupuh atau Thera. Jika ia wanita maka pentahbisannya dilakukan dua kali, pertama oleh Bhikku dan kemudian oleh Bhikku Sangha. Setelah itu, barulah ia menjdi Bhikku atau Bhikkuni.
Sesudah menjadi Bhikku atau Bhikkuni maka ia harus menjalani hidup bersih dan suci sebagaimana ditentukan dalam ‘Vinaya Pitaka’, yaitu melaksnakan 227 peraturan yan antara lain tentang :
c)      Paraturan tata-tertib lahiriah,
d)     Peraturan cara menggunakan pakaian, makanan dan kebetuhan hidup lainnya,
e)      Cara mennggulangi nafsu keinginan dan rangsangan batin,
f)       Cara memperoleh pengetahuan batin yang luhur untuk penyempurnaan diri.
Selama masa lima tahun pertama sebagai Bhikku atau Bhikkuni ia masih dalam ikatan keguruan, setelah lebih dari sepuluh tahun ia sudah disebut sebagai Thera.[15] Untuk menjadi seorang Bhikkhu haruslah orang yang benar-benar sehat secara nama dan rupa/batin dan jasmani. Selain itu juga harus ada seorang Upajjhaya yang akan menahbis untuk menjadi Bhikkhu.[16]
5.     Kelompok Buddha Awam
Pada umumnya yang dimaksud dengan umat Budha yang awam terdiri dari orang-orang yang telah mengakui Sang Budha sebagai pemimpin dan gurunya, mengakui dan meyakini kebenaran ajaran Budha serta berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan ajarannya. Mereka yang mengakui keagamaan Budha ini disebut Upasaka dan Upasaki.
Pengakuan terhadap agama Budha tersebut dinyatakan dengan niat dan tekad untuk berlindung kepada Budha, Dharma dan Sangha dengan mengucapkan ‘Trisarana’ yang berbunyi:
Buddhang Saranang Gacchani, Dhammang Saranang Gacchani, Sanghang sarang Gacchani’.
                        Artinya :
‘Saya berlindung kepada Budha, saya berlindung kepada Dharma, saya berlindung kepada Sangha’.
Setelah mengucapkan Trisarana tersebut seorang Upasaka atau Upasaki terikat secara Rohaniah untuk melaksanakan dan mengamalkan ajaran Sang Budha dalam kehidupannya sehari-hari. Dilihat dari tingkatan pemahaman seseorang terhadap ajaran Budha dan tanggung jawab keagamaannya, maka kelompok masyarakat Budha Awami ini dapat dibedakan sebagai berikut :
1.      Upasaka dan Upasaki yang benar-benar awam keagamaannya.
2.      Yang disebut Bala Anupandita, Anu Pandita  dan Pandita adalah mereka yang menjalankan tugas sebagai penyebar dharma dan bergabung dalam organisasi umat Budha.
3.      Maha Upasaka, ialah para pandita yang mengurus administrasi dan soal-soal teknis.
4.      Maha Pandita adalah para Pandita yang mengurus khusus masalah keagamaan.
5.      Anagarika adalah orang awam Budha yang diakui memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengamalkan ajaran Budha Gautama.[17]

Responding Paper
“Makalah Perkembangan Buddhisme di India dan China”
Matakuliah Buddhisme
Judul topik                   : Buddhisme di India dan China
Responder           : Rini Farida
Pemakalah          : Nurhayati

1.     Buddhisme di India
a.     Perkembangan awal dan Masa kekuasaan Raja Asoka
Beberapa minggu setelah Budha meninggal dunia segera terjadi perbedaan-perbedaan pendapat  dikalangan para pengikutnya, terutama karena dia tidak meninggalkan ajaran yang tertulis dan tidak menunjuk seseorang sebagai penggantinya.
Sekelompok bhikku berusaha merubah aturan yang telah ditetapkannya karena dirasa berat dilaksanakan dan dipertahankan akan tetapi kelompok yang lain nya berusaha untuk memelihara kemurnian ajarannya. Kemudian kelompok yang terakhir memutuskan untuk mengadakan pesamuan guna membahas masalah-masalah yang sedang berkembang pada waktu itu, terutama menyangkut ajaran-ajaran (dharma) dan aturan-aturan bagi para bikhhu (vinaya). Pesamuan ini diadakan di Rajagraha.
Seratus tahun kemudian muncul pula sekelompok bhikku yang menghendaki agar beberapa peraturan dari Vinaya yang dianggap keras dan membosankan dirubah dan diperlunak, sehingga menaggapi demikian diadakanlah pesamuan agung yang kedua di Vesali., untuk selama seratus tahun tidak banyak yang diketahui tentang perkembangan agama Buddha di India, terutama setelah raja Kalasoka meninggal dunia. Baru setelah raja Asoka yang berasal dari Dinasti Maurya, sekitar 272 SM s.d 233 SM, agama memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat keseluruh India.
Salah satu usaha raja Asoka yang paling penting bagi sejarah perkembangan agama Buddha adalah pembuatan piagam-piagam yang dipahatkan pada tugu-tugu batu atau lereng-lereng gunung yang ditandatangainya dengan nama “piyadassi”yang berarti yang penuh perikemanusiaan. Piagam-piagam itu berisi anjuran-anjuran agar hidup sesuai dengan ajaran sang Buddha.[18]
Masa ini disebut juga dengan zaman kejayaan agama Buddha. Pada zaman kejayaan ini diserti dengan zaman perselisihan dan perpecahan. Ada banyak mazhab yang berlainan dalam hal upacara keagamaan dan persoalan agam yang pokok. Mazhab-mazhab yang berkembang saat itu Mazhab Hinaya dan Mahaya, yang kemudian terpecah lagi kedalam beberapa aliran sehingga kemudian agama Buddha mengalami fase kemunduran.
2.     Budhisme di Cina dan aliran2nya ;
Aliran Mahayana berkembang ke Utara: Nepal, Tibet, Mongolia, Cina, Korea, dan menyebar ke Jepang juga Indonesia. Tidak diketahui secara pasti kapan agama Budha masuk ke Cina, namun pendapat yang umumnya diterima ialah pada masa dinasti Han. Ketika kaisar Ming Ti (58-76 M) mengirimkan utusan ke India untuk meneliti agama Budha. Pada awal agama tersebut di Cina kurang meperlihatkan hasil yang menggembirakan karena mendapat perlawanan dan tantangan dari kepercayaan dan filsafat asli Cina yang telah berkembang sebelumnya, seperti,  yang diajarkan oleh Konfusius.
Pada periode awal perkembangan agama Budha di Cina itu banyak didirikan wihara-wihara dan dilakukan penerjemahan naskah-naskah Budha ke dalam bahasa Cina. Salah seorang penerjemah yang terkenal adalah Sarvastivadin. Agama Budha berkembang dengan baik sekali pada abad ke-6 dibawah pemerintahan Kaisar Liang. Masa keemasan  agama Budha di Cina terjadi antara abad ke-7 M hingga abad ke-9 M, dibawah kekuasaan dinasti Tang.  Masa keemasan (Masa Dinasti Tang) Agama Budha diadaptaskan dan dikombinasikan dengan kebudayaan setempat, seperti terlihat dalam berbagai karya seni yang bercorak keagamaan.
Agama Buddha di China juga melahirkan beberapa aliran besar dalam golongan Buddha Mahayana, antara lain :
  1. Aliran Chan atau Dhyana yang didirikan oleh Boddhirma, asal India tetapi menetap di Cina antara 527-536 M. Boddhidharma  di kenal sangat raqdikal terhadap kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Buddha dan bermaksud untuk kembali pada semangat ajaran Buddha yang asli sehingga aliran yang didirikannya sangat memberi tekanan pada teks-teks suci. Aliran ini berkembang pesat di Cina terutama pada masa Hui Neng (838-713 M.)
2.      Aliran Vinaya, didirikan oleh Too Hsuan (595-667M), yang menekankan ajarannya pada pelaksanaan vinaya secara ketat. Menurut aliran ini, pengingkaran terhadap dunia dan kesusilaan merupakan kondisi kehidupan sang Buddha. Oleh karena itu aliran ini menekankan pada kehidupan mistik dan membiara. Aliran  Ching-tu atau tanah putih, yang didirikan oleh Hin Yuan dan T’an Lun.
Responding Paper
“Buddhisme Di Korea dan Thailand”
Matakuliah                   : Buddhisme
Judul topik                   : Buddhisme di Korea dan Thailand
Responder           : Rini Farida
Pemakalah          : Lailatul Fawaiddah
1.     Buddhisme di Korea
Agama Buddha yang masuk ke Korea berasal dari Cina, dengan aliran Mahayana. Agama Buddha diperkenalkan di Korea pada tahun 372  M, pada periode pemerintahan Kerajaan Goguryeo oleh seorang biarawan bernama Sundo yang berasal dari Dinasti Qian Qin di Cina.
Zaman keemasan agama Buddha di Korea terjadi pada masa pemerintahan dinasti Wang, yakni pada abad  ke 11. Di bawah perlindungan kerajaan, banyak kuil dan vihara dibangun dan jumlah pemeluk agama Buddha meningkat secara tetap. Setelah  abad 11, agama Buddha yang semula hanya dipeluk oleh para aristrocat dari dinasti Silla kemudian diterima oleh masyarakat umum berkat usaha-usaha yang dilakukan bhiksu-bhiksu Yi Tien, P’u Chao, dan lain-lain.
Bhiksu Yi Tien terkenal dengan editing katalog kitab Tripitaka Cina, setelah belajar agama Buddha di Cina dan menyebarkan pandangan  aliran Houa Yen dan Tien Tai di Korea. Bhiksu Yi Tien juga menulis beberapa naskah agama Buddha dalam bahasa Korea. Sedangkan bhiksu P’u Chao memperkenalkan ajaran Zen di Korea. Ajaran Zen ini dalam sejarah Korea mencatat peranan penting.
Ketika Yi Seong Gye, pendiri dinasti Joseon, mengadakan pemberontakan dan  memproklamirkan dirinya sebagai raja pada tahun 1392, ia mencoba menghapus seluruh pengaruh agama Buddha dari pemerintahan serta mengadopsi Konfusianisme sebagai pedoman  pengelolaan negara dan moralitas. Sepanjang lima abad pemerintahan Dinasti Joseon, segala upaya untuk menghidupkan kembali agama Buddha mendapat perlawanan keras dari para cendekiawan dan pejabat Konfusian. Pada tahun 1910 M, Jepang mengambil alih pemerintahan Joseon secara paksa sebagai penjajah, Jepang melakukan upaya-upaya untuk mengasimilasi kepercayaan local dengan agama Buddha. Namun upaya-upaya ini gagal dan bahkan berakibat pada bangkitnya minat akan agama Buddha pribumi di antara rakyat Korea.
Meski sering terjadi pergantian penguasa di Korea, akan tetapi ke eksistensian agama Buddha masih tetap terjaga, hal ini karena penduduk Korea sudah banyak  yang memeluk agama Buddha, dan menjadi agama turun temurun. Teks Buddhis, asal dalam  terjemahan bahasa China, sekarang sedang diterjemahkan kembali ke dalam  bahasa  Korea modern. Biara-biara baru sedang dibangun dan yang  lama diperbaiki. Hari ini, Buddhisme lagi memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat.[19]
2.     Buddhisme di Thailand
Manurut legenda, agama Buddha masuk ke Thailand sekitar abad ke-3 S.M. ketika Raja Asoka mengirimkan dua orang Bhikku ke sana yang diterima oleh suku  Mosn yang mendiami  kota Burma dan Thailand. Sampai  abad ke-7 corak agama buddha itu masih berkembang di Thailand yang dipengaruhi oleh aliran Theravada, kemudian pada abad ke-8 yang awalnya dari aliran Theravada menjadi aliran Mahayana, Terutama yang berasal dari kerajaan Sriwijaya, mulai kelihatan bersamaan dengan masuknya unsur-unsur agama Hindu di Thailand Timur.
Dimasa modern, Rama IV pada tahun (1910-1925) adalah Raja Thailand  yang  memebrikan warna Buddhis bagi Thailand. Ia menegakkan soko-guru bagi persatuan kelangsungan dan identitas Thai, yaitu: bangsa, agama dan raja. Agama Buddha merupakan agama nasional dan sebagaian besar orang Thailand menjadi orang Thai berarti pula menjadi penganut Buddha.
            Berdasarkan tiga soko-guru yang dijadikan dasar persatuan Thialand tersebut perkembangan agama Buddha berjalan dengan pesat sejalan dengan perkembangan masyarakat Thai di zaman modern. Banyaknya Thai yang menjadi bhikku tersebut adalah karena faktor tradisi yang sudah lama berlaku yaitu bahwa seorang lelaki harus menjalani hidup sebagai bhikku selama masa phasa, atau tiga bulan sepanjang hujan, di salahsatu wihara, sebagai suatu upacara peralihan antara masa remaja dan masa perkawinan. Selain itu, factor pendidikan yang disediakan sangha juga telah mendorong orang-orang Thai memasuki  sangha, terutama dari kalanagan rakyat biasa dan orang-orang miskin. Fasilitas-fasilitas pendidikan yang diberikan oleh sangha ini, baik yang berupa pendidikan agama ataupun pendidikan umum yang disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di sekolah-sekolah negeri, telah membuka banyak kemungkinan bagi rakyat Thailand pada umumnya untuk meningkatkan diri sekalipun mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam masalah keuangan dan kesempatan.
3.  Buddhisme di Jepang
Agama Buddha masuk ke Jepang diperkirakan pada tahun 853 atau 522 M. Ketika sebuah kerajaan kecil di Korea mengirimkan sebuah delegasi kepada Kaisar Kimmeo Tenno di Jepang. Di samping membawa berbagai hadiah, delegasi tersebut juga meminta agar  kaisar dan rakyatnya memeluk agama Buddha. Tokoh utama dalam penyebaran agama Buddha di Jepang adalah Pangeran Shotoku Taishi (547-621 M.) yang naik tahta pada593 M., peranannya disejajarkan dengan Raja asoka di India.[20]
Memasuki abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di Jepang, sejalan dengan perselisihan dan perebutab kekuasaan diantara penguasa. Aliran-aliran baru tersebut antara lain adalah Zen, Amida (tanah suci) dan Nichiran Sozu. Aliran Zen mempunyai jalur asal pada ajaran Boddhidharma di Gina dan diperkirakan masuk ke Jepang pada abad ke-6 M.. Aliran ini bertujuan untuk memindahkan pikiran Buddha secara langsung ke dalam pikiran para pemeluknya dan mengajarkan bahwa pencerahan hanya dapat diperoleh melalui pemikiran intuitif.
Responding Paper
Mahayana dan Hinaya
Mata Kuliah    : Buddhisme
Responder       : Rini Farida
Pemakalah       : Noviah
1.     Mahayana dan Ajarannya
Aliram Mahayana, yaitu aliran Hinayana yang diperbaharui dengan diberi pelajaran-pelajaran ekstra yang dipelopori oleh Buddhaghosa atau Asvaghosa.
Aliran Buddhisme ini disebut dengan Mahayana karena dapat menampung sebanyak-banyaknya orang yang ingin masuk Nirwana, hingga diumpamakan sebagai sebuah “kereta besar” yang memuat penumpang banyak (arti kata Mahayana adalah kereta/kendaraan besar). Berbeda dengan Hinayana yang mempertahankan kemurnian ajaran Buddha yang tidak mengalami perpecahan dalam aliran-aliran, sebaliknya dalam Mahayana terjadi perpecahan dalam banyak aliran. Makin banyak kebebasan berfikir dalam agama diberikan, makin besar kecenderungan untuk berpecah belah dalam bentuk aliran-aliran (sekte-sekte)[21].
Sekitar awal era Kristen, terjadi suatu gejala baru pada agam Buddha, yakni kemunculan Mahayana, yang secara Harfiah berarti “kendaraan Besar”. Mahayan timbul karena melemahnya semangat lama yang menghasilkan makin sedikit Arahat, serta tekanan-tekanan dalam doktrin selagi mereka berkembang, dan juga karena tuntutan pengikut awam mengenai hak-hak sederajat dengan para biksu. Pengaruh juga banyak memengaruhinya. Mahayana berkembang di Barat Laut India dan India Selatan, daerah dimana agama Buddha paling banyak terkena pengaru-pengaruh non-India, seperti pegaruh seni Yunani dalam bentuk Hellenistik dan Romawi, maupun pengaruh pandangan dari Mediterania dan Iran. Penyilangan ini secara kebetulan menyebabkan agama Budddha Mahayana cocok untuk dibawa ke luar India.
Di dalam Mahayana, Buddha menjadi suatu makhluk dari golongan yang lebih tinggi, jauh diatas para manusia. Meskipun ia tidak diapandang sebagai Allah dalam arti yang sebenarnya, tetapi setidak-tidaknya ia dianggap mempunyai sifat luar biasa dan ia makin menjadi objek pemujaan dan penyembahan[22]. Buddha Mahayana memandang diri dia sendiri sebagai bagian dari tradisi Buddha saat ini dengan mengembangkan Buddha surge dan Bodhisatva yang berfungsi sebagai dewa untuk membimbing para pengikutnya menuju jalan keselamatan. Ketika penganut agama Buddha Mahayana melakukan meditasi atau bersemedi, dia membayangkan bahwa Bodhisatva duduk bersamanya dalam meditasi tersebut. Pada saat inilah dia dapat mengkonsentrasikan dirinya dalam melaksanakan meditasi. Konsentrasi dalam meditasi sangat penting, dan tanpa itu biasanya tujuan meditasi tidak akan terwujud denga baik.
Pokok-pokok ajaran Mahayana secara ringkas mengajarkan:
a.       Seseorang dalam mencapai Nirwana tidak egoistismementingkan dirinya sendiri akan tetapi dapat saling membantu.
b.      Kunci keutamaan ialah kasih sayang yang disebut “karuna”
c.       Pencapaian tertinggi adalah Bodhisatva (orang yang telah mencapai ilham sehingga terjamin untuk masuk Nirwana).
d.      Buddha dipandang sebagai juru selamat mausia.
e.       Ajarannya bersifat liberal[23].

2.     Hinayana dan Ajarannya
Hinayana adalah ajaran-ajaran asli dari Buddha Gautama dan kitab sucinya ialah Tipitaka yang terdiri dari Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidamma Pitaka. Di dalam aliran Hinayana tidak ada upacara-upacara keagamaan yang rumit-rumit dan mereka yag menganut aliran ini masih mempertahankan kesederhanaannya seperti dahulu di waktu Sang Guru sendiri masih hidup pada 25 abad yang silam.
 Prinsip-prinsip pandangan dari ajaran Hinayana adalah mempertahankan kemurnian ajaran Buddha dan menjaga ajaran Buddha tidak terpengaruh oleh kebudayaan lain, oleh karenanya dipandang orthodox. Pengikut-pengikutnya juga tidak begitu meluas sebagaimana aliran Mahayana. Kata Hinayana sendiri telah menunjukkan isi dan cita-cita yang terkandung didalamnya yaitu berarti kendaraan kecil. Maksudnya bahwa aliran ini tidak dapat menampung banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan nirwana, karena dalam prinsip pandangannya menyatakan bahwa setiap orang bergantung pada usahanya sendiri dalam mencapai kebahagiaan abadi dengan tanpa adanya penolong dari dewa ataupun manusia Buddha. Aliran ini disebut juga “Theravada” yang lebih jelas menggambarkan pendirian aliran tersebut, karena Theravada berarti “jalan orang-orang tua” [24]
Penganut-penganut Hinayana menitikberatkan meditasi untuk mencapai peneranga sempurna sebagai jalan yang terpendek untuk menyelami Dhamma dan mencapai pembebasan, Nibbana. Kita hanya mengenal Dhamma dan Nibbana sebagai jalan dan tujuan dari hidup kita ini, sedang yang lain-lain itu tidakk menjadi kebutuhan pokok. Upacara-upacara keagamaan kurang dianggap penting dan bahkan upacara-upacara yang berlebih-lebihan hanya menjadikan ikatan-ikatan yang dapat menghambat kemajuan-kemajuan bathin[25]
Dalam pokok ajarannya Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar yang terdapat di dalam kitab-kitab kanonik. Jika ajaran itu diikhtisarkan secara umum, dapat dirumuskan demikian:
a.       Segala sesuatu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja. Apa yang berada untuk sesaat saja itu disebut dharma. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang tetap berada. Tidak ada aku yang berfikir, sebab yang ada adalah pikiran. Tidak ada aku yang merasa, sebab yang ada adalah perasaan, demikian seterusnya.
b.      Dharma-dharma itu adalah kenyataan atau realitas yang kecil dan pendek, yang berkelompok sebagai sebab dan akibat. Karena pengaliran dharma yang terus-menerus maka timbullah kesadaran aku yang palsu atau ada “perorangan” yang palsu.
c.       Tujuan hidup ialah mencapai Nirwana, tempat keadaran itiadakan. Sebab segala kesadaran adalah belenggu karena kesadaran tidak lain adalah kesadaran terhadap sesuatu. Apakah yang tinggal berada di dalam Nirwana itu, sebenarnya tidak diuraikan dengan jelas.
d.      Cita-cita yang tertinggi ialah menjadi arahat. Yaitu orang yang sudah berhenti keinginannya, ketidaktahuannya, dan sebagainnya, dan oleh karenanya tidak ditaklukkan lagi pada kelahiran kembali. [26]

Ajarannya ini didasarkan pada kitab Pali Canon, yang dipercayai oleh buddha Theravada (Hinayana) sebagai catatan yang paling akurat tentang apa yang dikatakan dan dilakukan Buddha. Terutama dalam Pali Canon menenkankan bahwa Buddha hanyalah seorang manusia, seseorang yang telah mencapai pencerahan, dan bahwa pencerahan itu dapat dicapai dengan mengikuti teladan dan pengajarannya.[27]


Responding Paper
Tantrayana, Mantrayana dan Vajrayana
Mata Kuliah        : Buddhisme
Responder           : Rini Farida
Pemakalah          : Ida Zubaedah

1.     Aliran Tantrayana
Fase ketiga dari perkembangan Agama Budha ialah Tantrayana (setelah Hinaya dan Mahayana), dan merupakan fase yang paling penting Agama Budha di India. Fase ini mulai sekitar tahun 500 M. Dan berakhir sampai tahun 1.000 M. Yang paling menarik dalam fase ini adalah cosmical-soteriological (yang berhubungan dengan keselamatan). [28] Sifat dasar dominan dari Tantrayana adalah occultism (kegaiban). Penekanan utama adalah penyesuan yang harmonis dengan cosmos dan pencapaian penerangan dengan mantra atau metode gaib. Bahasanya adalah kebanyakan Sansekerta atau Apabhramsa.
Istilah Tantra secara etimologis berarti ‘menenun’ atau “alat tenun”, adalah istilah yang dipergunakan untuk mengacu pada praktek-praktek esoterik (rahasia; tersembunyi) yang bertujuan membangkitkan sifat-sifat ke-Tuhan-an dalam diri seseorang guna mencapai kesempurnaan, disamping juga untuk mengacu pada kitab-kitab suci atau sutra-sutra yang menguraikan ajaran-ajaran atau doktrin yang demikian.[29] Singkatnya istilah tantrayan dapat dipergunakan untuk menunjukan sistem keagamaan, atau sutra yang tergolong pada sistem ini.
a.       Kitab Astasahasrika-Prajnaparamita-Sutra; kitab yang tertua dari kumpulan Prajnaparamita-Sutra, menyatakan bahwa Prajna-Paramita-Naya Dharani, yang berasal dari selatan ( Daksinapata ) akan menyebar ke arah Timur untuk selanjutnya berkembang ke Utara ( Uttarapatha ).
b.      Kitab Sekoddesa-Tika karya Naropa, sebuah otorita di dalam kalacaka Tantra, menyatakan bahwa Mantrayana telah dibabarkan oleh Hyang Buddha di Sri-Dhanyakataka.
c.       Tradisi-tradisi Buddist yang terdapat didalam literatur bahasa Sansekerta, Mandarin, dan Tibet, semuanya menyebutkan bahwa Nagarjuna, sesepuh Mahayana, yang mengambil ilmu esoterik dan kumpulan kitab Prajnaparamita-Sutra dari kerajaan Naga, adalah berasal dari India Selatan. Semua otoritas di atas selanjutnya setuju bahwa Sri Parwata merupakan pusat kegiatan-kegiatan orang suci tersebut.
d.      Manjusrimulakalpa, sebuah kitab tentang upacara Mantrayana, telah diketahui diketemukan dari munalikkan Matham dekat Padmanabhuram di India Selatan.
Tantra membawakan peranan penting dalam sejarah Mahayana, karena ia membangkitkan suatu penekanan baru pada metode intuisi dan Esoterik bersama dengan perkembangan konsepsi ke-Tuhan-an dan tata upacara. Di dalam satu atau lain cara Tantra menyentuh hampir setiap sekte Agama Buddha Mahayana yang berikutnya, menjadi inspirasi dalam perkembangan tata peribadatan dan seni Buddist. Jika kita ingin mencari dasar logis mengenai sejarah asal mula Tantra Buddist, maka yang paling bijaksana adalah memulainya dengan tradisi mantra, bagian integral (kelengkapan) dari keyakinan Tantra. Adalah suatu kenyataan bahwa Tantra terdapat dalam Agama Buddha dan Agama Hindu.
Aliran Tantra Buddhist disebut juga Esoterik ( = Guhya Upadesa ) yang berarti secara rahasia, tersembunyi dan mistik, sedangkan aliran Buddhist lainnya disebut Exoterik ( = Vyakta Upadesa ) yang berarti sesuatu yang terbuka atau terlihat. Bagi aliran Exoterik pelajarannya didasarkan pada Tripitaka dan untuk mencapai ke-Buddha-an adalah secara berangsur-angsur dan bertingkat. Bagi aliran Esoterik pencapaian ke-Buddha-an hanya dalam sekejap, melakukan upacara atau ritual (Vidhi) merupakan peranan yang penting. Adalah tidak mudah untuk dapat mengerti ajaran Tantra Buddist dikarenakan begitu rumit dan kompleks dalam perkembangannya. Oleh karenanya, seorang guru yang ahli harus ada untuk membimbing calon siswa tersebut. Dikatakan bahwa setelah mengerti ajaran Exoterik dengan cukup barulah dapat mengerti ajaran Esoterik secara baik.[30]
2.     Aliran Mantrayana
Mantrayana dimulia pada abad ke-4 dan mendapat momentumnya setelah abad ke-5. Apa yang telah dilakukannya telah memperkaya Buddism dengan perlengkapan tradisi gaib. Mempergunakannya untuk tujuan kemudahan pencarian bagi pencerahan atau penerangan. Di dalam, cara ini, banyak ‘mantra, mudra, mandala, dan dewa, ke-Tuhan-an, secara tidak sistematis diperkenalkan kedalam Buddhism, ini adalah setelah tahun 750, diikuti oleh suatu sistematis yang dinamakan Vajrayana, yang menyerasikan semua ajaran sebelumnya dengan satu kelompok mengenai Panca-Tathagata ( Panca Dhayani Buddha ). Dalam kurun waktu itu, arah dan system yang lebih lanjut membuat penampilan mereka. Perlu dicatat bahwa diantara mereka adalah Sahajayana, yang mana seperti sekte Ch’an ( Zen ) di Tiongko, lebih menekankan kepada latihan meditasi dan pengolahan intuisi, diajarkan secara berbelit-belit, paradoksikal ( perlawanan asas ) dan kesan konkrit, dan menghindari nasib dari kembali kedalam suatu persektean sama sekali mengenai tidak ada ajaran yang ditegaskan secara kaku. Menuju pada akhir periode ini, dalam abad ke-10, kita mempunyai Kalacakrayan ( Roda ‘waktu’, yang ditandai oleh tingkat penyatuan aliran ) dan oleh penekanannya pada astrology.[31]Pokok-pokok ajaran Mantrayana dapat ditemui pada karya karya Padma-Dkarpo dari Tibet. Menurut beliau, tujuan dari Mantrayana adalah sama seperti apa yang dituju oleh aliran-aliran lainnya dalam agama Buddha, yakni kemanunggalan manusia dengan penerangan sempurna atau kesempurnaan secara spiritual.
3.     Aliran Vajrayana
Berasal dari kosa kata Sanskrit "Vajra" yang berarti berlian dalam aspek kekuatannya, atau halilintar dalam aspek kedahsyatan dan kecepatannya, serta dari kata "yana" yang berarti wahana/kereta. Dalam Wajrayana, terdapat banyak sekali metoda dalam berlatih. Memang banyak sekali praktisi Wajrayana yang memiliki kemampuan luar biasa, namun hal ini bukanlah sesuatu yang mistik. Hal ini sebenarnya merupakan hasil samping dari latihan yang dilakukan, dan hal ini harus diabaikan. Seperti kata sang Buddha, yang dapat menyelamatkan kita pada saat kematian adalah Dharma, bukanlah kesaktian yang kita miliki. Sering kemampuan yang didapat ini menjadi penghalang dalam mencapai tujuan utama kita, yaitu mencapai pencerahan. Hasil samping berupa kemampuan (siddhi) ini sering akan meningkatkan kesombongan (ke-aku-an) kita, yang sebenarnya justru harus kita hilangkan, dan bukan merupakan sesuatu yang harus dibanggakan. Namun sayang sekali, banyak orang yang berpandangan salah, mereka mengagungkan kemampuan gaib yang dimiliki oleh seseorang, dan mengabaikan Dharma yang mulia. Hal ini dapat terjadi karena adanya kebodohan / ketidak tahuan (Moha) yang dimiliki.

Praktek Vajrayana tidak terlepas dari penjapaan mantra, maka sering juga dikenal dengan istilah ajaran mantra rahasia. Ajaran Wajrayana sering juga disebut dengan Praktek Rahasia, atau Kendaraan Rahasia. Hal ini menggambarkan bahwa ketika seorang praktisi semakin merahasiakan latihannya, maka ia akan semakin mendapatkan kemajuan pencapaian dan berkah dari latihan yang ia lakukan. Semakin ia menceritakan tentang latihannya, maka semakin sedikit berkah yang akan ia peroleh.[32]

Responding Paper
Aliran Nichiren Soshu, Sejarah NSI di Indonesia
Mata Kuliah              : Buddhisme
Judul Topik               : Nichiren Soshu
Responder                  : Rini Farida
Pemakalah                 : Nurjaman dan Deden
1.      Aliran Nichiren Soshu
ketika memasuki abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di jepang, sejalan dengan perselisihan dan perebutan kekuasaan di antara para penguasa, atau sejak pada tahun 624 timbullah mazhab/aliran-aliran yang bermacam-macam di Jepang. Aliran–aliran baru  tersebut anatara lain aliran Cha’an yang di Jepang disebut dengan Aliran Zen, aliran Amida (Tanah Suci), dan Nichiren Syosyu.[33]
Nichiren Syosyu adalah salah satu sekte dalam agama Buddha yang ada di Jepang  yang mengakui Nichiren Daishonin[34] sebagai pendirinya dan Nikko Syonin sebagai pewaris hukumnya. Nichiren Syosyu lahir di Jepang oleh pendirinya Nichiren Daishonin (1222-1282),  yang asal mulanya dari sekte Tandai (Jep). (T’ien-t’ai).[35] Ia dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1222 di sebuah desa nelayan kominato di Tokyo, Propinsi Awa, derah Chiba. Ayahnya bernama Mikuni No Toyo dan ibunya bernama Umegiku-Nyo. Nama kanak-kanaknya adalah  Zen Nichi Maro. Pada usia 12 tahun ia memasuki suatu kuil dari sekte T’ien-T’ai bernama Seicho-Ji, dimana ia mempelajari baik ajaran-ajaran Buddhisme maupun pendidikan umum, dibawah pendeta Dozen-bo.
Pada waktu itu, kekuasaan politik di Jepang telah bergesar dari kaum ningrat istana kekaisaran di Kyoto kepada golongan Samurai yang mendirikan suatu pemerintah militer, atau keshogunan, di kota Kamakura, di pantai Pasifik jauh dari Kyoto, tempat kedudukan tradisional dan kuno dari kaisar.[36]
Tahun 1294 adalah tahun dimulainya penyebaran ajaran Nichiren di Kyoto; kemudian terus berkembang hingga abad ke-14, terlepas dari penyiksaan yang mereka alami di Pegunungan Hiei. Antara aliran Pure-Land dan aliran Nichiren terus berperang hingga abad 16, sekitar tahun 1632 para pengikut sekte Nichiren diserang oleh sekte Pure-Land, hingga kurang lebih 58ribu orang menjadi korban. Bagaimana pun, ajaran Nichiren yang sederhana dan militan ini terus berkembang, mereka pun menyerang para prajurit dan agama lokal di sekitarnya. Ironisnya, ajaran ini merupakan ajaran Lotus Sutra yang mengajarkan keselamatan universal, yang kemudian dibentuk menjadi ajaran paling eksklusif, dan politis di Jepang. [37]

2.      Nichiren Soshu di Indonesia
Agama Buddha Nichiren Shoshu pertama-tama masuk ke Indonesia pada tahun 1950-an. Tahun 1964 dibentuk wadah bagi umat Nichiren Shoshu di Indonesia yaitu NSI (Nichiren Shoshu Indonesia). Organisasi umat Buddha Nichiren Shoshu Indonesia pertama-tama berupa yayasan yaitu Yayasan Buddhist Nichiren Shoshu. Berkembang mula-mula di Jakarta. Sejak kepemimpinan Senosoenoto, agama Buddha Nichiren Shoshu berkembang luas hingga ke desa-desa. Hingga tahun 2005 ini umatnya telah tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Senosoenoto juga ikut mempelopori berdirinya wadah umat Buddha di Indonesia, WALUBI. Beliau menjadi Sekretaris Jenderal WALUBI pada tahun 1977 (saat itu masih bernama MABI ; Majelis Agama Buddha Indonesia) dengan Ketua Umum Brigjen TNI (purn) Soemantri. Sepeninggalan almarhum Senosoenoto, umat Buddha Nichiren Shoshu di Indonesia berada dalam wadah tunggal Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia (YPSBDI), yang diketuai oleh Pandita Aiko Senosoenoto.[38]
Pada awalnya perjuangan agama Buddha Nichiren Syosyu belum terarah  dan banyak  menimbulkan  kesalah pahaman. Tetapi setelah peralihan puncak pimpinan yang langsung ditangani oleh Bapak Senosoenoto (kini sebagai ketua Umun Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia). Pada tahun 1980 perjuanggan untuk menyebarkan agama Buddha Nichiren Syosyu telah terprogram:[39]
Tahun 1965 sampai dengan tahun 1972, merupakan masa perkenalan agama Buddha Nichiren Syosyu di indonesia. Dengan lahirnya orde baru, semua agama yang resmi diakui oleh pemerintah. Bagi agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia era ini digunakan untuk mengatur dan menyusun organisasi dengan ketentuan Hukum yang berlaku di negara Republik Indonesia. Sehingga terlahirlah “Yayasan Buddhis Nichiren Syosyu Indonesia tertanggal 22 September 1970 No. 76”, yang telah dipertegas  dalam anggaran dasarnya, khususnya perihal maksud dan tujuan yang sejalan dengan cita-cita bangsa indonesia dalam pembangunan nasional yang tertuang dalam GBHN berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Tujuh tahun dalam masa ini merupakan perjuangan yang berat dalam membangun suatu himpunan yang kuat berdasarkan prinsip-prinsip Ajaran Sang Buddha secara murni dan tetap. Tantangan yang terbesar pada masa ini adalah terjadinya perbadaan pendapat dikalang pimpinan sekitar tahun 1971 – 1972. Namun berkat maitri karuna (welas asih) dan kekuatan gohonzon, krisis besar itu dapat diatasi, sehingga pada tahun itu juga sejumlah 39 anggota Nichiren Syosyu Indonesia berziarah ke kuil Pusat Ghohondo pad tanggal 1972, yang merupakan bukti berhasilnya menatasi krisis tersebut dan berakhirnya masa perkenalan ini.[40]
Masa pembuktian Identitas inilah Nichiren Syosyu Indonesia mulai aktif dengan gerakan-gerakan masyarakat dan berpartisipasi dalam Majelis-Majelis Agama Buddha yang mulai dengan ikut sertanya Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia di dalam Musyawarah Intern Umat Beragama Buddha di Lawang-Jawa Timur, tanggal 12-14 Maret 1976. Disusul dengan peringatan Hari Kartini di Gedung Basket Lokasari pada tanggal 21 April 1967. Dalam usaha penghayatan kebudayan bangsa, maka selama tahun 1977 secara bergelombang diselenggarakan “Malam Kekeluargaan Daerah” yang sepenuhnya ditanggung oleh masing-masing daerah di Gedung RRI. Pada tahun ini pula, tepatnya pada tanggal 13 Agustus 1977, ketua Umum Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia (MABNSI), Bapak Senosoenoto dipilih menjadi Sekretaris Jendral Majelis Agama Agama Budha Indonesia (MBI).  Dalam rangka perayaan Hari Suci Waisak, maka untuk pertama kalinya MABNSI menyelenggarakan Malam Kekeluargaan yang pada kesempatan itu pula dihadir oleh Bapak Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Gde Pudja, MA, SH, yang berkenan pula memberikan sambutan.
Sebagai langkah awal, pada tanggal 12-13 November 1977. MABI mengadakan Persamuan Agung Pertama di Vihara Sadaparibhuta 1 Megamendung (Pusat penataran Nichiren Syosyu Indonesia). Disusul dengan langkah berikutnya, maka pada tanggal 12 Mei 1978, MABI telah menerima Bapak Mentri Agama RI. H. Alamansyah Ratu Perwiranegara yang merupakan Mentri Kabinet Pembangunan 3. Adapun maksud dan tujuannya adalah dalam rangka tatap muka sekaligus pengenalan diri dihadapan para pemuka Agama Buddha. Pada saat itu pula merupakan hari resminya penggunaan vihara Sadaparibhuta I sebagai tempat bagi penataran-penataran baik mengenai Agama Buddha maupun maksud lain.
Agama Nichiren Syosyu memiliki prinsip yang dinamakan “esyo Funi” yang berarti, bahwa antara subjek (manusia) dan lingkungan sama sekali tak terpisahkan atau pada hakekatnya bukan dua. Maka di dalam pelaksanannya sehari-hari penggunaan bahasa di dalam setiap pertemuan-pertemuan hanya memakai satu bahasa yakni bahasa Indonesia. Prinsip ini dalam prakteknya sehari-hari mengajarkan kita untuk mencintai tanah air dimana kita dilahirkan, oleh karenanya upaya penghayatan nilai-nilai budaya bangsa sekaligus pelestariannya merupakan kegiatan-kegiatan yang tak kunjung padam kita laksanakan. Para ibu mempelajari kesenian-kesenian Nasional maupun tradisional yang di ikuti oleh putra-putrinya. Para remaja aktif dalam kepramukaan dan pecinta alam, bahkan mengadakan seminar Pancasila guna menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar dapat ditemukan nilai-nilai apa yang sesuai dengan ajaran agama Buddha. Kesimpulannya, Pancasila senafas dengan agama Buddha.
Puncak keberhasilan dari Masa Pembuktian Identitas adalah bahwa semua Majelis-Majelis Agama Buddha secara rukun dan penuh kekeluargaan mengadakan Musyawarah Intern Umat Beragama Buddha di Vihara sadaparibhuta 1 Megamendung dari tanggal 14 – 16 Desember 1979. Dengan berakhirnya musyawarah ini maka terbentanglah sebuah era baru yaitu masa penentuan dasar-dasar pelaksanan ajaran Agama Buddha Nichiren Syosyu untuk kemakmuran dan kebahagian rakyat Indonesia.[41]

Responding Paper
Budhisme Zen Dan Ajaran-Ajaran, Dan Aliran-Alirannya
Mata Kuliah         : Buddhisme
Topik                    : Zen Buddhisme
Responder            : Rini Farida
Pemakalah           : Fathimah Al-Batul

1.      Sejarah Zen Buddhisme
Pada masa Sang Buddha, yoga sebagai konsentrasi terhadap Brahman dipraktikkan secara luas. Pada dasarnya, sifat dasar yoga untuk meng-kontemplasikan spirit di satu poin tertentu yaitu: pencapaian ketenangan dengan duduk bermeditasi. Faktanya, metode-metode dalam yoga dewasa ini terbatas hanya berkaitan dengan apa yang harus dimakan, berpuasa, dan sumpah-sumpah tertentu; seperti sumpah untuk tetap berdiri dengan satu kaki dengan tujuan untuk memperpanjang waktu. Melalui sejenis pertapaan dan kesatuan seluruh latihan, yogi melatih dirinya sendiri untuk mengabaikan hal-hal yang bersifat eksternal dan mengontrol pergerakan ruhnya sendiri hingga yang paling tipis sekalipun.[42]
Sejarah Zen dimulai dari India. Seiring perubahan zaman, Hinduisme—yang juga merupakan akar Buddhisme—yang sempat tersingkir oleh beberapa ajaran baru yang muncul di India; kembali menemukan jalan kebangkitannya. Beruntung sebelum Buddhisme tergusur oleh Hinduisme—karena Hinduisme mengalami kebangkitan—pengaruh Buddhisme telah tesebar melintas benua hingga ke Cina. Agama Buddha Mahayana, salah satu sekte dalam Agama Buddha, dibawa ke Cina oleh Boddhidharma[43].
2.      Ajaran dan Aliran Zen Buddhisme
Di antara delapan puluh empat ribu ajaran dalam agama Buddha, Zen adalah ajaran yang sekarang ini paling digemari untuk dipelajari banyak orang. Meskipun pernah terbatas saja di wilayah timur tempat ajaran ini berasal, ajaran Zen sekarang telah menarik perhatian dan minat di wilayah barat. Sebutlah satu contoh, banyak universitas di Amerika yang telah membentuk kelompok-kelompok meditasi.
Sungguh membesarkan hati melihat meditasi menyebar dari kungkungan vihara-vihara ke dunia modern, di sini meditasi memainkan peranan yang sangat penting. Menjelaskan Zen bukanlah suatu tugas yang mudah karena Zen adalah sesuatu yang tidak dapat dikatakan atau diungkapkan secara tertulis. Saat bahasa digunakan, kita tidak lagi berhubungan dengan inti sejati Zen karena inti sejatinya itu melebihi semua kata-kata. Walaupun demikian, Zen tidak dapat dibiarkan tanpa ungkapan. [44]
Zen Buddhisme menerapkan Meditasi, yaitu Samatha Bhavana dan Vipasyana Bhavana. Meditasi Zen Buddhisme, ti dan dengan tata cara upacara, melainkan secara wajar dan alamiah serta tidak terikat pada posisi duduk bersila. Dalam Zen Buddhisme, bagi mereka walaupun tidak ada pendidikan formal juga akan tetap memperoleh kemajuan spiritual, dengan demikian, Buddha Dharma akan lebih mudah dipahami dan dihayati, asalkan dengan usaha yang sungguh-sungguh, tekun latihan meditasi. Maka secara filsafat Zen Buddhisme, ajaran Dharma diberikan secara langsung dari hati ke hati.
Filsafat Zen Buddhisme juga membahas tentang Sunyata. Sebagaimana dijelaskan dalam Vajrachedika-Prajnaparamita Sutra, bahwa hati dan pikiran kita, janganlah terikat dengan Anitya, Dukkha, dan Anatman. Segala sesuatu yang bersyarat di alam fenomena ini tidaklah kekal atau terus berubah dan tidak pasti, demikian juga seperti perasaan dan pikiran kita, jika terikat pada perasaan dan pikiran kita, seandainya perbuatan baik yang telah dilakukan sedangkan karma baik atas perbuatan baik kita itu tidak langsung berbuah, bukankah itu akan sangat mengecewakan?[45]
Tujuan utama dari sekte Zen atau Ch’an bukanlah hanya duduk bermeditasi, melainkan membina kesadaran pada diri kita sendiri atau membuka kesadaran diri kita sendiri untuk mencapai ‘U’ (Satori). Setelah tercapainya ‘U’ (Satori) maka secara psikologi, pikiran dan batin kita telah maju dan telah bebas dari segala macam kemelekatan atau ikatan. Dia akan terus maju dan secara teologis, dapat diartikan semakin mendekati Sang Absolut. Sekte Ch’an tidak terikat pada segala macam tradisi, tata-upacara sembahyang, dan tidak terikat pada Sutra-sutra. Yang paling penting adalah bagaimana menembusi isinya dan mengenal diri sendiri secara intuisi; bagaimana merealisasikan Dharma. Dharma itu Sunyata karena itu tidak dapat jika hanya dijelaskan dengan kata-kata, hanya dengan usaha yang tekun dan waktu yang lama seseorang baru dapat merealisasikannya.[46]
Zen memelihara jalan ini sebagai jalan yang melaluinya Buddha sendiri mencapai pencerahan. Zen mengajarkan bahwa seluruh manusia memiliki kapasitas yang sama untuk mencapai pencerahan karena kita memiliki sifat alami kebuddhaan; sebenarnya, kita merupakan keberaan yang telah tercerahkan, tetapi potensial kebenaran kita telah terhijab oleh kebodohan. Berdasarkan beberapa tradisi Zen, kebodohan ini menguasai dapat dikuasai melalui pemecahan tiba-tiba—yang disebut satori—selama meditasi dimana sifat alami dari keberadaan dan pengalaman kita, disingkapkan.
Aliran ini terbagi menjadi dua golongan besar yaitu: Soto Zen, dengan tokohnya yang bernama Dogen ( (19 January 1200 - 22 September 1253) yang merupakan seorang guru Zen termasyur di Jepang. Tokoh ini pernah lama belajar dan memperdalam ilmunya di negeri China. Peninggalan salah satu kuil Zen yang sangat terkenal yaitu Eiheiji Temple di Perfecture Fukui, dimana disitu terlihat  jelas refleksi dari ajaran Zen tersebut. Dan yang kedua aliran Rinzai dengan tokohnya yang bernama Eisai. Aliran yang tersebut akhirnya berkembang di kalangan militer dan aristokrat serta menjadi tulang punggung kelas penguasa dan militer. Sementara yang pertama yaitu aliran Soto Zen  itu lebih banyak dianut oleh kalangan para petani dan bergerak dalam kegiatan sosial, yang memiliki perguruan tinggi dan sekolah-sekolahh yang cukup banyak.[47]
Aliran  Zen yang berbeda, diantaranya adalah Rinzai dan Soto—dua yang utama—menemukan kembali beberapa metode untuk mencapai pencerahan, termasuk mempraktikkan zazen (“hanya duduk” bermeditasi). Meskipun pesan Zen nampak sangat sederhana, latihannya sangat sukar dan membutuhkan petunjuk dari seorang master. Di Jepang, Zen menjadi populer di kalangan prajurit samuria karena fokusnya pada kedisplinan dan kontrol diri; Zen juga mengiformasikan praktik-praktik seni yang lainnya, seperti kaligrafi, lukis, desain taman, dan memanah. Sejak awal abad ke-20, satu versi populer Zen telah tersebar ke seluruh dunia dan mempengaruhi baik di USA ataupun Eropa.

Daftar Pustaka
1.      Abdul Manaf, Mujahid. Sejarah agama-Agama. Raja Grafindo Persada. Jakarta: 1996
2.      Antin, menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, ( Jakarta : Golden Terayon Press, 1986 )
3.      Arifin, Muhammad. Menguak Misteri Ajaran agama-Agama Besar. Golden Trayon Press. Jakarta: 1986
4.      Diputrha Okta, Meditasi I,( Jakarta: Vajra Dharma Nusantara, 2004).
5.      Diputra Okta, Meditasi II, (Jakarta: Vajra Dharma Nusantara, 2004).
6.      Dhammananda Sri, Meditasi untuk siapa Saja, (Jakarta: Pustaka Karaniya, 2003).
7.     Ebook Buddhism  in east Asia
8.      Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Buddha. Gunung Mulia. Jakarta: 2003
9.      Hoay kwee Tek, Meditasi dan Sembahyang, (Jakarta, 1991).
10.  http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
11.  http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
12.  Hadikusuma Hilman, “Antropologi Agama Pendekatan Budaya terhadap Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, di Indonesia”, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1993
14.  http://www.artikelbuddhis.com/2010/11/manfaat-menjadi-bhikkhu.html
17.  Jr, A.g Honig. Ilmu Agama. Gunung Mulia. Jakarta: 2003
18.  Kitagawa, Joseph. M. Religion in Japanese History. 1966. New York:
19.  Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia.  Sejarah dan Perkembangannya Agama Buddha Nicirren Syosyu di Indonesia.
20.  Mecle Keene, agama-agama Dunia, (Terj...(Jogjakarta: Kanisius,2006)
21.  Nakamura, Hajime. Buddhism in Comparative Light. 1975. New Delhi:
22.  Piyadassi Thera. Meditasi Buddhis: Jalan Menuju Ketenangan dan Kebersihan Batin, Paramita. Surabaya: 2005)
23.  T, Suwarto. Buddha Dharma Mahayana. Majelis Buddhayana Indonesia. Jakarta: 1995
24.  Yun, Venerable Master Hsing. Karakteristik Dan Esensi Ajaran Zen (Two Talks on Zen).
25.  Terjemahan Vimuttaguna Lenny Wijaya. - : Yayasan Penerbit Karaniya. Cet. 39. 1994
26.  ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­---Kebahagiaan Dalam Dhama. Majelis Buddhayana Indonesia. 1980




[1] Piyadassi Thera. Meditasi Buddhis: Jalan Menuju Ketenangan dan Kebersihan Batin, (Surabaya: Paramita, 2005), h. 27
[2] Dr. Sri Dhammananda,
[3] Upa. Sasanasena Seng Hansen, Ikhtisar Ajaran Buddha, hal. 35
[4] Ibid.
[5] Okta Diputrha, Meditasi I, 2004.
[6] Maha Nayaka Sthavira A. Jinarakkhita. Meditasi II, h. 85
[7]Pancakkhandha terdiri atas: rupa-khandha (kelompok jasmani), vedana-khandha (kelompok perasaan), sanna-khandha (kelompok pencerapan), sankhara-skandha (kelompok bentuk pikiran), dan vinnana-skandha (kelompok kesadaran). Sesungguhnya yang disebut dengan pancakhandha itu adalah makhluk.
[8] Maha Nayaka Sthavira A. Jinarakkhita. Meditasi II, h. 109
[9] Suwarto T. Buddha Dharma Mahayana. Hal. 51
[10] Ali Mukti, Agama-Agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 129
[11] http://ilhamalik.blogspot.com/2012/05/makna-puja-doa-hari-suci-tempat-suci.html
[12] Mukti Ali “Agama-Agama Dunia” (IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakatra) hal.129-131
[13] Ali Mukti, Agama-Agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 129
[14] T. Suwarto, “Budha Dharma Mahayana” Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995. Hal. 51
[15] Hadikusuma Hilman, “Antropologi Agama Pendekatan Budaya terhadap Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, di Indonesia”, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1993. Hal.237

[16]Tanhadi, “Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Bhikkhu”: waru-sidoarjo, Jatim, Indonesia, artikel diakses pada 19 Maret 2013 dari http://tanhadi.blogspot.com/2012/07/tidak-semua-orang-bisa-menjadi-bhikkhu.html



[17]Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama  (Bandung: PT.CITRA ADITYA BAKTI,1993) hal.238-239   
[18]Mukti Ali, Agama-agama dunia, Yogyakarta. hal.132
[19]Ebook Buddhism  in east Asia
[20] Mukti ali, Agama-agama Di Dunia, Yogyakarta, hal. 140
[21] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986), cet-1, h.110
[22]A.g Honig Jr, Ilmu Agama, ( Jakarta: Gunung Mulia, 2003 ), cet – 10, h.225
[23] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986), cet-1, h.111
[24]M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986), cet-1, h.108
[25]Majelis Buddhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Depok: Bromo FC, 1980), h. 333
[26]Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia, 2010)  h. 91
[27]Mecle Keene, agama-agama Dunia, (Terj...(Jogjakarta: Kanisius,2006), h. 70
[28] Suwarto T, Budha Darma Mahayana, ( Jakarta : Majelis Agama Buddha Mahayan Indonesia, 1995 )hlm. 119
[29] Antin, menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, ( Jakarta : Golden Terayon Press, 1986 )
[30] Suwarto T, Budha Darma Mahayana, ( Jakarta : Majelis Agama Buddha Mahayan Indonesia, 1995 )hlm. 120
[31] Ibid. hlm. 124
[32] Ibid. 129
[33]Mukti  Ali, Agama- Agama Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press), h. 141.
[34] Daishonin adalah sebuah gelar kehormatan besar bagi kebijaksanaan dan kesucian. Ini tidak mengandung arti tambahan ‘’santun’’ yang kadang-kadang digunakan sebagai terjemahannya dalam buku Buddhisme: Falsafah Hidup, oleh Daisaku Ikeda. h. 7.
[35] Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, Buddha Dharma Mahayana, Penyusun: Suwarno T, (Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995), h. 520.
[36] Daisaku Ikeda.  Buddhisme: falsafah Hidup. Alih Bahasa: Soedibyo.  Jakatra: PT Intermasa,  1988. h. 61.
[37]Joseph M. Kitagawa. Religion in Japanese History. 1966. Hal. 122
              [39] Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia.  Sejarah dan Perkembangannya Agama Buddha Nicirren Syosyu di Indonesia.
              [40] Ibid.

              [41]Ibid.

[42] What Is Zen Buddhism artikeldiposting di http://www.karate.butsu.net/onzen/zen_history.html; tidakadaketerangantentangpenulisataupengelolawebsitenya. Artikelinidiaksespada: Senin, 18 Maret 2013.
[43] Y.A. MahaSthaviraSangharakshita. Zen: Inti Sari Ajaran. 1991:35
            [44] Venerable Master Hsing Yun. Karakteristik Dan Ajaran Zen (Two Talks on Ch’an). Terjemahan Vimuttaguna Lenny Wijaya. ( - : Yayasan Penerbit Karaniya. Cet. 39. 1994). h. 9
[45]Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.Buddha Dharma Mahayan.Hlm: 480
[46]Ibid. hlm: 483
[47] Suwarto. Buddha Darma Mahayana. (Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia. 1995). h. 520-521

Tidak ada komentar:

Posting Komentar