Agama
Buddha di luar India (Korea, Thailand dan Jepang)
Makalah ini
Disusun
untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Matakuliah Buddhisme
Dosen Pembimbing: Dra. Hj. Siti Nadroh
Oleh:
Lailatul
Fawaidah (1111 0321 000 53)
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013
Pendahuluan
Pada awalnya
agama Buddha tidak pernah mengembangkan suatu gerakan pengutusan, dimana ajaran
Buddha menyebar jauh dan luas di subbenua India dan dari sana agama Budha menyebar ke seluruh Asia. Di tiap
budaya yang ditemuinya, cara-cara dan gaya-gaya Buddha disesuaikan dengan watak
setempat, tanpa mengubah pokok-pokok penting tentang kebijaksanaan dan welas
asih. Namun, agama Buddha tidak pernah mengembangkan hierarki kekuasaan agama
dengan seorang pimpinan penguasa. Di setiap negara yang menerima ajaran Buddha,
mengembangkan bentuknya sendiri, struktur agamanya sendiri, dan pimpinan
rohaninya sendiri.[1]
Akibat
adanya penyebaran ajaran Buddha, maka terjadilah akulturasi. Akulturasi ini
sendiri merupakan hal yang sudah wajar terjadi selain karena ajaran Buddha yang
memiliki nilai toleransi tinggi, juga karena tidak ada satu agama pun yang
memiliki hak untuk memaksakan ajaran maupun tradisinya kepada masyarakat dengan
tradisi setempat. Penyebab kedua terbentuknya aliran-aliran yang berbeda dalam
agama Buddha adalah karena adanya perbedaan persepsi, dan ini pun juga adalah
hal yang wajar. Sebagai sebuah ajaran yang bersumber pada pengalaman manusianya
sendiri, sudah tentu banyak persepsi yang muncul selama kurang lebih 2500
tahun. Saat ini terdapat 3 aliran utama dalam Buddhisme di dunia, yaitu:
1. Theravada
(baca: The-ra-wa-da) Sebagai aliran yang memegang teguh Dharma Winaya sesuai
kitab Tripitaka Pali. Oleh karena itu disebut juga sebagai ajaran para sesepuh
atau juga Early Buddhism (Buddhisme Awal). Theravada berkembang di Asia
bagian selatan (Sri Lanka) dan Asia Tenggara.
2. Mahayana
Sebagai ajaran yang berkembang pesat di Asia bagian timur (khususnya) dan
seluruh Asia (umumnya)
3. Vajrayana
atau Tantrayana Sebenarnya merupakan bagian dari Mahayana namun memiliki
perbedaan doktrin maka terbentuklah aliran ini. Pada mulanya merupakan
akulturasi antara ajaran Buddha dengan kebudayaan dan tradisi Tibet.[2]
I.
Budhisme di Korea dan Thailand beserta aliran-alirannya
Sejarah awal masuknya Buddha di Korea
Awal catatan sejarah menyatakan
bahwa ada tiga kerajaan di Korea, yaitu Koguryo
di utara, Packche di barat daya dan Silla
di tenggara. Menurut tradisi, seorang biarawan Cina pada paruh kedua abad keempat Masehi dimana pertama
kali diperkenalkan Buddhisme untuk kerajaan di sebelah utara dari Koguryo. Seorang bhikkhu Asia Tengah dikatakan telah membawa Buddhisme untuk Packche.
Beberapa waktu kemudian, Kerajaan silla ini merupakan wilayah yang paling terpencil dan pada awalnya tidak siap untuk menerima Buddhisme. Orang-orang memegang
teguh keyakinan agama tradisional mereka. Kemudian ada oposisi yang kuat seperti agama Buddha bahwa seorang bhikkhu yang pergi ke sana untuk menyebarkan ajaran
Buddha dikatakan telah tewas. Akhirnya, pada
pertengahan abad keenam, bahkan
orang-orang Silla menerima
Buddhisme.
Penyebaran agama Buddha di korea
Selama abad keenam dan ketujuh,
banyak biksu Korea pergi ke Cina untuk belajar dan membawa kembali dengan mereka ajaran dari berbagai sekolah
Cina Buddhisme. Menjelang akhir
abad ketujuh, tiga kerajaan tersebut bersatu di bawah penguasa kerajaan Silla kuat. Sejak saat itu dan
seterusnya, Buddhisme berkembang
di bawah patronase kerajaan mereka.
Besar karya seni diciptakan
dan biara-biara megah dibangun. Buddhisme memberikan
pengaruh yang besar pada kehidupan
orang-orang Korea. Pada abad kesepuluh, aturan Silla
berakhir dengan berdirinya Dinasti Koryo. Dalam
aturan baru ini, Buddhisme mencapai puncak pentingnya. Dengan dukungan kerajaan, lebih biara dibangun dan
lebih karya seni yang dihasilkan. Seluruh Tripitaka dalam
terjemahan Cina juga diukir pada blok
cetak kayu. Ribuan
blok ini dibuat pada
abad ketiga belas dan telah
dengan hati-hati diawetkan untuk hari ini sebagai bagian dari harta nasional
Korea.
Periode pemberantasan di korea
Sesuai dengan
aturan baru dari Dinasti Yi dari akhir abad keempat belas sampai awal abad kedua puluh, Buddhisme kehilangan dukungan dari pengadilan ketika
Konfusianisme menjadi agama resmi di negara. Tindakan
yang diambil untuk menekan kegiatan komunitas Buddhis. Biksu Buddha dilarang untuk
memasuki ibukota, tanah mereka
disita, biara-biara tertutup dan Buddha upacara
dihapuskan. Meskipun semua masalah masa sulit, ada kadang-kadang beberapa bhikkhu besar yang terus menginspirasi para pengikut mereka dan terus Buddhisme hidup
Kebangkitan Buddhisme di Korea
Dengan runtuhnya Dinasti Yi, Korea
berada di bawah kendali Jepang. Orang Jepang yang datang ke Korea memperkenalkan bentuk mereka sendiri Buddhisme,
yang termasuk tradisi ulama menikah. Akibatnya,
beberapa biarawan di Korea memisahkan diri dari tradisi mereka selibat.
Dari periode ini dan seterusnya, ada kebangkitan agama Buddha di Korea. Banyak
umat Buddha di Korea sejak itu aktif terlibat dalam mempromosikan kegiatan pendidikan dan misionaris. Mereka telah mendirikan universitas, mendirikan sekolah-sekolah
di berbagai belahan Korea dan mendirikan kelompok dan organisasi pemuda
awam. Teks Buddhis, asal dalam terjemahan bahasa China, sekarang sedang diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Korea modern. Biara-biara baru sedang dibangun dan yang lama diperbaiki. Hari ini, Buddhisme lagi
memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat.[3]
Sejarah awal masuknya Buddha di Thailand
Manurut legenda, agama Buddha masuk ke Thailand sekitar abad ke-3
S.M. ketika Raja Asoka mengirimkan dua orang Bhikku ke sana yang diterima oleh
suku Mosn yang mendiami kota Burma dan Thailand. Sampai abad ke-7 corak agama budha itu masih
berkembang di Thailand yang dipengaruhi oleh aliran Theravada, kemudian pada
abad ke-8 yang awalnya dari aliran Theravada menjadi aliran Mahayana, Terutama
yang berasal dari kerajaan Sriwijaya, mulai kelihatan bersamaan dengan masuknya
unsure-unsur agama Hindu di Thailand Timur.
Pada permulaan abad ke-13, terjadi penyebaran agama Buddha yang
kedua kalinya, dimana perkembangan yang kedua ini masuk ke wilayah
Burma,Thailand,Kamboja dan Tibet. Dan penyebaran kedua ini mengandung dua aspek
yaitu:
Ø pemeliharaan dan,
Ø tranmisi sentral ide aliran Theravada, yang dikenal
dengan Abidharma.
dan masuknya aliran ini
diwarnai dengan warna lokal serta dimasukan kedalam situasi kultural
dari beberapa negeri yang dijadikan satu kedalam tradisi Abhidarma, sehingga
ada cirri-ciri tersendiri dalam agama Buddha aliran Theravada yang membedakan
dari satu Negara dengan Negara lainnya.
Raja-raja Thailand itu
menggunakan gelar “Rama” dan memberikan perhatian yang besar terhadap
perkembangan agama Budha, lebih dari itu, hubungan antara raja dengan sangha
juga sangat baik. Dimana Raja sebagai pengawas dan pelindung dari sangha. pada masa
raja Rama I, Kitab Tripitaka berhasil
dituliskan pada daun palma. Ia mengumumkan kepada rakyat Thailand agar membersihkan sangha dari anggota-anggota
yang tidak berguna, memurnikan praktek kewiharaan dan meningkatkan studi dan
meditasi, dirintisnya pula tradisi bagi raja-raja Thailand untuk menjadi
anggota sangha beberapa lama sebelum menjadi raja Rama ke-IV, yang tersebut
Mongkrut, terkenal dalam pembaharuan pemikiran keagamaan. Ia mengadakan
reformasi dan penafsiran kembali ide-ide Buddha menurut pemikiran Barat yang berkembang pada waktu itu. Salah satu usaha
pembaharuannya adalah membentuk aliran sangha yang dikenal dengan Dharmayutika
yang menekankan bahwa ajaran agama Buddha tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Sebagai
mantan bhikku, ia berhasil meningkatkan kehidupan sangha telah kehilangan
gairah dan membersihkannya dari unsur-unsur yang bertentangan dengan ideasli
agama Buddha.
Dimasa modern, Rama IV pada tahun (1910-1925) adalah Raja
Thailand yang memebrikan warna Buddhis
bagi Thailand. Ia menegakkan soko-guru bagi persatuan kelangsungan dan
identitas Thai, yaitu: bangsa, agama dan raja. Agama Buddha merupakan agama
nasional dan sebagaian besar orang Thailand menjadi orang Thai berarti pula
menjadi penganut Buddha.
Berdasarkan tiga soko-guru yang dijadikan dasar persatuan
Thialand tersebut perkembangan agama Buddha berjalan dengan pesat sejalan
dengan perkembangan masyarakat Thai di zaman modern. Banyaknya Thai yang
menjadi bhikku tersebut adalah karena faktor tradisi yang sudah lama berlaku yaitu
bahwa seorang lelaki harus menjalani hidup sebagai bhikku selama masa phasa,
atau tiga bulan sepanjang hujan, di salahsatu wihara, sebagai suatu upacara
peralihan antara masa remaja dan masa perkawinan. Selain itu, factor pendidikan
yang disediakan sangha juga telah mendorong orang-orang Thai memasuki sangha, terutama dari kalanagan rakyat biasa dan
orang-orang miskin. Fasilitas-fasilitas pendidikan yang diberikan oleh sangha
ini, baik yang berupa pendidikan agama ataupun pendidikan umum yang disesuaikan
dengan kurikulum yang berlaku di sekolah-sekolah negeri, telah membuka banyak
kemungkinan bagi rakyat Thailand pada umumnya untuk meningkatkan diri sekalipun
mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam masalah keuangan dan kesempatan.
Sangha memang sebagai peranan yang sangat penting dalam kehidupan
agama di Thailand. Inti dari sangha adalah para bhikku yang tlah menjalani
khidpan kebikhuan selama 10 tahun atau lebih dan menjadikan agama sebagai
bagian dari kehidupan mereka.
Sepanjang sejarah negeri Thai, pemerintah menyadari pentingny apara
sangha dalam masyarakatdan peranan agama sebagai pemesatu bangsa. Maka dari iru
pemerintah mengawasi sangha dan menempatkannya di bawah supervise pemerintah
dengan membentuk hirarki sangha yang bersifat nasional sehingga pengaruh pemerintah cukup menentukan. Sangha
dan Bhikku sebagai perorangan tidak diharapkan memerankan peranan politik yang
lepas apalagi yang bertentangan dengan Negara. Pemerintah mempergunakan hirarki
sanghatersebut sebagai alat untuk integrasi nasional serta pembangunan bangsa
dan Negara Thai sampai sekarang.[4]
II.
Budhisme di Jepang dan
aliran-alirannya (Zen, Amida/tanah suci, Nichiren Sozu).
Masuknya Agama Buddha di Jepang
Agama Buddha yang dalam bahasa Jepangnya disebut Bukkyo
(Butsu : Buddha, Kyo: ajaran) dipercaya mulai masuk ke Jepang lewat kerajaan
Baekje di Korea sekitar tahun 538.
Agama
Buddha masuk ke Jepang pada abad ke-6
atau tahun 853 atau 552 M.[5]
dimana menurut cerita , pada waktu itu raja Korea mengirimkan Kepada Kaisar
Kimmei Tenno di Jepang sebuah patung
Buddha yang terbuat dari emas dan perunggu, dan beberapa Kitab Sutra, alat
pemujaan, dengan disertai permintaan
untuk menerima agama Buddha. Kemudian Kaisar Kimmei Tenno mencobanya untuk
menerima agama Buddha sekalipun awalnya ada pertentangan yang hebat akan tetapi
lama kemudian agama Buddha dapat berkembang dengan baik.[6] Suku yang menerima agama Buddha yang diminta
oleh raja Korea itu adalah Suku Soga dan yang menolak Agama Buddha di Jepang
adalah Suku-suku lainnya dimana mereka menolak dengan alasan karena menganggap
menghina kepercayaan terutama pada para
dewa mereka.
Tokoh utama yang menyebarkan agama Buddha di jepang adalah Pangeran
Shotoku Taishi pada tahun (547-621), pangeran ini tahta pada tahun 593 M.,
dimana peranan agama Buddha yang ada di Jepang dapat disejajarkan dengan Raja
Asoka di India. pada masa Pangeran Shotoku Taishi, Ia juga menetapkan
agama Buddha sebagai agama Negara, serta
menerjemahkan sendiri kitab suci Sadharma Pindarika, Vimalakirti dan
Srimalasutra yang sangat berpengaruh dalam pembentukan filsafat Buddhisme
di Jepang sampai hari ini. ia juga mengirimkan para ahli Jepang ke Kora dan
cina untuk mempelajari agama, seni dan ilmu pengetahuan.
Pada tahun 607 M. ia mendirikan kuil-kuil di Nara dan Haryuji yang
merupakan kuil tertua dan masi berdiri hinnga sekarang. Dan perkembangan pesat
agama Buddha terjadi pada periode Nara (710-784), terutama karena banyaknya
suku-suku berpengaruh dan bangsawan-bangsawan terpandang yang memeluk agama
tersebut. Para penguasa pada masa itu
beranggapan bahwa agama Buddha dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai
kesejahteraan rakyat mereka. Dan pada periode Nara ini juga ditandai dengan
munculnya beberapa aliran dalam agama Buddha di Jepang, diantara aliran-aliran
tersebut yang ada hingga saat ini adalah aliran Hosso yang berpusat di Kofuji
dan Yakushiji, aliran Kegon berpusat di
Todaiji dan aliran Ristu yang berpusat di Toshodaiji.
Dimasa kekuasaan dinasti Heian pada yahun (794-1185 M.) muncul
usaha-usaha untuk memadukan kepercayaan dan tradisi Jepang dengan agama Buddha, antaralain melalui
ajaran Saicho dan kukai. Yang pertama, yaitu Saichoyang kemudian terkenal
dengan sebutan Dengyo Daishi, mengajarkan bahwa sebenarnya dewa-dewa agama
Buddha adalah sama dengan dewa-dewa dalam agama Shinto, yang disebut Kammi,
sementara Kukai, yang selanjutnya terkenal dengan sebutan Kobo Daishi, yang
mengajarkan bahwa dewa tertinngi dalam agama Shinto adalah sama dengan dewa
tertinngi dalam agama Buddha sehinnga tidak ada perbedaan antara pemujaan
terhadap Buddha dengan pemujaan terhadap agama Shinto.
Ketika memasuki abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di
jepang, sejalan dengan perselisihan dan perebutan kekuasaandi antara para
penguasa, atau sejak pada tahun 624 timbullah mazhab/aliran-aliran yang
bermacam-macam di Jepang.Aliran–aliran baru
tersebut anatara lain aliran Cha’an yang di Jepang disebut dengan Aliran
Zen, aliran Amida (Tanah Suci), dan Nichiren Sozu.[7]
v
Zen
Aliran
Ch’an atau Zen masuk ke Jepang kira-kira tahun 1200, ada yang mengatakan
kira-kira abad ke-6 M. aliran ini mempunyai jalur asal muasal dari ajaran
Boddhidarma di Cina, dimana aliran ini mempunyai tujuan untuk memidahkan
pikiran Buddha secara langsung ke dalam pikiran para pemeluknya dan mengajarkan
bahwa pencerahan hanya dapat diperoleh melalui pemikiran yang intuitif. Oleh
karena itu aliran ini lebih menekankan pada displin dalam melakukan samadi
untuk mencapai pencerahan, dan menolak doa-doa atau kepercayaan terhadap adanya
juru selamat.
Aliran ini
terbagi menjadi dua golongan besar yaitu: Soto Zen, dengan tokohnya yang
bernama Dogen(
(19 January 1200 - 22 September 1253) yang merupakan seorang guru Zen termasyur
di Jepang. Tokoh ini pernah lama belajar dan memperdalam ilmunya di negeri
China.
Peninggalan salah satu kuil Zen yang sangat
terkenal yaitu Eiheiji Temple di Perfecture Fukui, dimana disitu terlihat jelas
refleksi dari ajaran Zen tersebut...
Dan yang kedua aliran Rinzai dengan tokohnya yang bernama Eisai. Aliran yang
tersebut akhirnya berkembang di kalangan militer dan aristocrat serta menjadi
tulang punngung kelas penguasa dan militer. Sementara yang pertama yaitu aliran
Soto Zen itu lebih banyak dianut oleh
kalangan para petani dan bergerak dalam kegiatan social, yang memiliki
perguruan tinggi dan sekolah-sekolahh yang cukup banyak.
v
Amida/tanah
suci
Aliran ini (Amida atau Tanah Suci) mengengemukakan suatu ajaran
keselamatan yang dalam istilah-istilah sederna, yaitu: percaya kepada Buddha
secara mutlak. dan dengan menyebut Amida orang akan memperoleh keselamatan.
Aliran ini mendapat banyak pengikut di kalanagan petani dan menjadi agama
messianic pada saat terjadi kemelut social. Dan objek pemujaan aliran ini
adalah patung Amida Buddha, yang dilengkapi dengan patung bodhisatwa Kwan On
yang melambangkan kemurahan dan pating Daiseishi sebagai lambing lambing
kebijaksanaan.
v
Nichiren
Sozu
Sekte ini lahirdi
Jepang oleh pendirinya Nichiren Sozu Daishonin pada tahun (1222-1282) yang asal
mulanya dari sekte Tendai (Jep.) (T’ien-t’ai). Beliau anak dari keluarga
nelayan yang miskin, tinggal di desa kecil yang bernama Kominato, Tojo daerah
Nagasa propinsi Awa (prefecture Chiba Modern), Ia dilahirkan pada tanggal 16
Februari 1222.
Dia menjadi
murid Dozenbo (12 mei 1233) di kuil koyosu-mi-dera yang terletak di atas Gunung
Kiyosumi. Dalam ruang Buddha dari kuil itu terdapat ruphang Bodhisattva Kokuzo
(Bodhisatva dari angkassa, karena kearifannya seluas angkasa). Dia bernazar di
hadapan Bodhisatva ini bahwa kelak dia akan menjadi seorang yang paling
bujaksana di Jepang.
Pada usia 15
tahun dia di-upasampada-kan menjadi sramanera. Dengan seijin gurunnya Dozenbo,
Nichiren Daishonin (dalam usia 17 tahun ) pergi ke tempat lain untuk pelajaran
Buddhism yang lebih dalam. Pertama-tama dia pergi ke Kamakura, hanya 4 bulan,
dia belajar disini. Kemudian ia kembali lagi ke Kiyosumi-dera. Selanjutnya ia
pergi ke kuil Enryakuji yang terletak di atas gunung Hei, tempat ini di anggap
pusat terpenting ilmu pengetahuan Buddhism di Jepang (Tendai: T;ien-t’ai) pada
waktu itu selama 12 tahun dia belajar.
Pada tahun
1253, Nichiren Sozu Daishonin kembali ke kuilnya Kiyosumi-dera. Beliau dalam
usia 30 tahun menyatakan hasil dari pelajarannya dan pengalamannya dengan
keyakinannya bahwa ‘Sutra Teratai’ (Saddharma Pundarika Sutra, Hokkekyo) dan
mantera ‘Nam-myoho-renge-kyo’ merupakan inti sari dari Sutra Taratai. Dan Sutra
Teratai adalah jantung dari agama Buddha Shakyamuni di zaman Mappo (Mo Fa) atau Hari kemudian mrnjadi
Hukum.[8]
Nichiren Shō Shū yang artinya
Sekte Benar Nichiren, Nichiren Sozu ini didirikan pada tahun 1253 oleh pendeta
Nikkō, murid pendeta Nichiren. Sekte Nichiren adalah salah satu sekte Buddha
yang cukup unik. Keunikannya adalah sekte ini adalah tidak melakukan
penyembahan ke arca Buddha seperti yang umum dilakukan pada tradisi Buddha
lainya. Sebagai gantinya mereka meletakkan Mandara, tulisarn atau huruf Jepang
yang berisikan mantra atau tulisan suci yang dikeramatkan.
Ajarannya
Nichiren Sozu ini bertujuan mengembalikan agama Buddha kepada bentuknya yang
murni yang akan dijadikannya dasar bagi perbaikan masyarakat Jepang, dan
menolak ritualisme dan simentalisme
aliran Tanah Suci, melawan semua kesalahan, agresif, patriotis tetapi eksklusif.
Selain
ketiga aliran besar di atas, pada abad ke-14 muncul aliran keagamaan yang
bercorak Shinto yang di padukan dengan agama Buddha dan Konfusianisme dengan
nama Yosidha Shinto. Menurut aliran ini, agama Buddha dapat di anggap sebagai
bunga dan buah dari semua dharma di ala mini, Konfusianisme sebagai cabang
rantingnya, dan agama Shinto sebagai akar dan batangnya.
Pada
masa Tokugawe yang dikenal sebagai masa kedamaian di Jepang, agama Buddha
dijadikan agama resmi Negara, sekalipun pemikiran keagamaan tidak berkembang
sebagaimana pada abad-abad sebelumnya. Pada masa itu pemerintah juga mengatur
kehidupan keagamaan dan menggunakannya untuk memelihara tata tertib social dan
kehidupan spiritual bangsa. Namun keadaan tersebut ternyata menyebabkan rakyat
menjadi kurang senang terhadap para penguasa dan mendorong timbulnya
aliran-aliran baru dalam agama asli Jepang yang berusaha untuk mengembalikan
masyarakat Jepang kepada kepercayaan asli mereka yaitu agama Shinto.
Dan
perkembangan terakhir menunjukkan bahwa setelah kekeshogunan dihapus pada tahun
1868 M, agama Buddha mulai kehilanagan sumber keuangan dan prestasinya. Namun
dalam keluwesannya agama tersebut dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya
dan menyusun diri sebagai lembaga agama yang bebas dari Negara.[9]
III.
Kesimpulan
Sebagai
halnya dalam agama-agama lain timbulah beberapa mazhab dikalanhgan para
pengikut-pengikutnya maka demikian pula dengan Agama Buddhisme inipun ada
perpecahan yang menjadikan sebagai mazhab dan ini terjadi setelah sang Buddha
wafat.
IV.
Daftar Pustaka
Ebook Alexander
berzin, Buddhism
and Its Impact on Asia.Asian Monographs, no. 8(Terj….)
Ebook
Upa. Sasanasena Seng Hansen, BASIC BUDDHISM What Should We Know About
Buddhism,(Terj….)
Ebook
Buddhism in east Asia
Harun
hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta :
PT Bpk Gunung Mulia, 2010
Mukti Ali,
Agama-agama di dunia, Yogyakarta : IAIN Sunana Kalijaga Press, 1988
Suwarto,
Buddha Darma Mahayana, Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995
[3]Ebook
Buddhism in east Asia
[4]Mukti
Ali, Agama di dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Prres, 1988), h.
[5]
Mukti Ali, Agama-agama Di DUnia, (Yogyakarta : IAIN Sunana Kalijaga Press, 1988),
h. 140
[6]
Harun hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta : PT Bpk Gunung Mulia, 2010), h.98
[7]Mukti Ali, Agama di dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan
Kalijaga Press), h.
[8]Suwarto,
Buddha Darma Mahayana, (Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia,
1995), h.520-521
[9]
Ali Mukti, Agama-agama di dunia, (Yogyakarta :IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988),
h140-142


Tidak ada komentar:
Posting Komentar