KASUNYATAAN
Keyakinan Terhadap Hukum Kasunyataan
Makalah Pembanding
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Buddhisme
Dosen Pembimbing: Dra. Hj. Siti Nadroh
Oleh:
Rini Farida (1111 0321 000 57)
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013
1.
PENDAHULUAN
Buddha mengajarakan dengan banyak cara (termasuk tahapan) dan
dengan berbagai alasan. Sesuai dengan kapasitas kemampuan para muridNya,
yang
cerdas, yang bodoh, yang rajin ataupun yang malas, Ia mengkhotbahkan ajarannya
dengan bermacam-cara yang tak terbatas.
Sekalipun banyak cara Buddha Gotama (bahkan semua Buddha)
mengajarkan hukum kebenaran yang sama. Ia menunjukkan Jalan Agung dengan tiga wahana (triyana),
yaitu Sravakayana, Pratyekabuddhayana, dan Boddhisattvayana.
Keunikan dari ajaran Buddha yang mendasar adalah kesempatan bagi
setiap orang untuk menjadi Buddha (Saddharmapundarika-sutra-II) dan
pencerahan atau keselamatan itu dapat dicapai dengan usaha manusia sendiri (D.
II, 100). Akhr dari penderitaan atau Nirvwana bukan suatu spekulasi, karena
dapat direalisasi ketika orang masih hidup. Dengan mencapai Nirwana, orang
mengakhiri kehidupannyayang berulang-ulang. Buddha menyangkal kalau Brahma
(Tuhan Pencipta) dan para dewa menentukan atau mengatur nasib manusia (D,I,
18). Beriman dan berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha bukan berarti
menyandarkan nasib kepada kekuatan diluar diri sendiri.
Buddha menolak kasta yang membedakan derajat manusia menurut
kelahirannya (D. III, 82). Perbedaan
diantara semua makhluk terjadi karena karma atau perbuatannya sendiri (M.
III, 202-203).[1]
2.
PENGERTIAN
HUKUM KASUNYATAAN
Kata
Kasunyataan diambil dari bahasa dasarnya yaitu bahasa Sansekerta SUNYATA atau
bahasa Pali SUÑÑATA yang berarti Jalan Pikiran (konsepsi) yang tidak
dapat dibentangkan dengan kata-kata manusia, hanya dapat ditembus dengan
intuisi/pandangan terang, atau dengan kata lain Sunyata/ Suññata adalah dari
kata SUNYA/ SUÑÑA artinya pencirian segala sesuatu yang kosong dari
definisi yang tepat.[2]
Kasunyataan (Sacca)
berarti apa yang sesungguhnya. Dalam bahasa
Sansekerta disebut Satya artinya fakta yang
tidak dapat dibantah.[3]
Hukum Kasunyataan berarti hukum abadi yang berlaku dimana-mana, mengatasi waktu
dan tempat serta keadaan. Ini berarti bahwa hukum Kasunyataan bersifat kekal
dan abadi sepanjang masa yang berlaku di semua tempat, didalam semua keadaan di
setiap waktu. Kasunyataan yang dibuat oleh sesuatu yang kekal dan abadi yaitu
Sanghyang Adi Budha. [4]
Sunyata/Suññata juga digunakan untuk mencirikan Yang
Mutlak yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata manusia. Segala sesuatu
yang hanya dapat disadari oleh kemampuan luhur karena Pandangan Terang.
Kenyataan Mutlak, ialah yang berlaku dimana saja, dan kapan saja, tidak
tergantung pada waktu dan tempat.[5]
Kata suññata dan sunyata dipakai untuk mencirikan Kenyataan Mutlak dan dalam
bahasa Indonesia disebut KESUNYATAAN.[6]
Sederhana Dhamma berarti Ajaran Agama. Hukum
Kasunyataan termasuk didalam Dhamma yang telah diajarkan Budha Gotama kepada
manusia dalam khotbah pertama, yaitu dua bulan setelah Siddharta Gotama mencapai tingkat
Budha tepat di bulan Asadha tahun 588 SM di Isipatana (sekarang Sarnath)
di dekat
Benares India.
Dhamma
banyak dibentangkan dan diterangkan berulang-ulang kali di banyak tempat yang
tidak terhitung lagi jumlahnya, dengan lebih banyak perincian dan dengan
berbagai cara, sehingga dapat dikenal adanya empat hukum Kesunyataan yaitu:[7]
1. Cattari Ariya Saccani artinya Empat Kebenaran Mulia/
Empat Kesunyataan.
2.
Kamma artinya
Sebab-Akibat Perbuatan dan Punabbhava artinya Kelahiran Kembali atau Tumimbal
Lahir
3.
Tilakkhana
artinya Tiga Corak Umum dan Pancakkhandha artinya Lima Kelompok Kehidupan atau
yang disebut manusia.
Paticca Samuppada artinya Pokok Permulaan Sebab-Akibat
yang Saling Bergantungan.
3.
CATUR
ARYA SACCANI
Dalam bukunya yang berjudul What Bhuddist Believe, K. Sri
Dhammananda mengutip kata-kata berikut
“Why we were
here? Why are we not happy with our lives? What is the cause of our
unsatisfactoriness? How can we see the end of unsatisfactoriness and experience
eternal peace?”[8]
Ajaran Buddha didasarkan pada Empat Kebenaran Mulia (Catur Arya
Saccani). Menyadari kebenaran ini adalah menyadari dan menembus ke dalam
sifat sejati keberadaan, termasuk pengetahuan penuh akan diri sendiri. Jika
kita mengenali bahwa semua fenomena itu bersifat fana, tidak memuaskan, dan
tidak mengandung realitas inti apapun, kita akan yakin bahwa kebahagian sejati
danabadi tidak dapat ditemukan dalam kepemilikkan materi dan pencapaian
duniawi, bahwa kebahagiaan sejati harus
dicari hanya melalui pemurnian batin dan pengembangan bijaksana.[9]
Doktin Empat Kebenaran Mulia (Cattari Arya Saccani) kembali
dikatakan bahwa merupakan intisari dari ajaran Buddha, Buddha pun mengatakan
bahwa karena kita tidak memahami Empat Kebenaran Mulia, maka kita terus menerus
mengitari siklus kelahiran dan kematian.
Empat Kebenaran Mulia itu adalah:
1.
Kebenaran
Mulia Tentang Dukkha
2.
Kebenaran
Mulia Tentang Sebab Dukkha
3.
Kebenaran
Mulia Tentang Akhir Dukkha
4.
Kebenaran
Mulia Tentang Jalan Akhir Dukkha.[10]
Budha Gotama mengajarkan untuk melepaskan diri dari
belenggu nafsu keinginan, karena nafsu keinginanlah yang mendatangkan DUKKHA
artinya PENDERITAAN JASMANI ROHANI.
Maka manusia mencari pembebasan untuk selama-lamanya
dari segala penderitaan tanpa tertinggal sedikitpun; dan tidak akan kembali
lagi penderitaan itu di kemudian hari.[11]
Ada banyak cara pemahaman kata
Pali”dukkha”. Secara umum kata ini diterjemahkan sebagai “duka”, ‘penderitaan’,
atau ‘ketidakpuasan’, tetapi istilah seperti yang digunakan dalam Empat
Kebenaran Mulia ini memiliki arti yang lebih dalam dan luas. Dukkha tidak
hanya mengandung arti pada umumnya, tetapi
juga mencakup hal yang lebih mendalam seperti ketaksempurnaan,
kesakitan, ketakabadian, ketakselaran, ketaknyamanan, gangguan, atau kesadaran
akan ketaklengkapan dan ketakcukupan. Tentu saja, dukkha mencakup
penderitaan fisik dan mental: kelahiran, peruraian, kesakitan, kematian,
berkumpul dengan yang tak menyenangkan, berpisah dari yang menyenangkan, dan
tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Bagaimanapun, banyak orang yang tidak
menyadari bahwa bahkan selama saat-saat kegembiraan dan kebahagiaan, disitu ada
dukkha karena saat-saat ini tidak permanen dan akan berlalu jika
kondisinya berubah. Dengan demikian, kebenaran akan dukkha meliputi
seluruh keberadaan dalam kebahagiaan dan kesedihan kita, di setiap aspek
kehidupan kita. Sepanjang hidup, kita mengalami kebenaran ini dengan sangat
jelas.[12]
Sebagai tambahan, waalaupun Dukkha adalah
Kebenaran Mulia, tidak berarti bahwa tidak ada kesenangan, kegembiraan, dan
kebahagian dalam kehidupan. Hal ini ada, dan Buddha mengajarkan berbagai metode
agar kita dapat memperoleh lebih banyak kebahagiaan dalam kehidupan kita
sehari-hari. Namun, dalam analisis akhir kenyataannya tetap bahwa kesenangan
dan kebahagiaan yang kita alami dalam hidup tidaklah abadi. Kita mungkin
menikmati situasi yang bahagia atau ditemani seseorag yang kita cintai, atau
kita menikmati masa muda dan kesehatan. Cepat atau lambat, keadaan ini akan
berubah, kita mengalami penderitaan. Karena itu saat merasa gembira, saat kita
mengalami kebahagiaan, sebaiknya tidak melekat pada keadaan bahagia ini, kalau
tidak ingin tergusur dan melalaikan upaya menuju keterbatasan sempurna.[13]
Budha Gotama mengajarkan pembebasan diri dari
segala derita, dengan menerangkan empat faktor didalamnya:
1)
Kesunyataan
tentang Dukkha atau Dukkha Ariyasacca
Dukkha
diterjemahkan sebagai penderitaan atau duka cita. Sebagai perasaan dukkha
berarti sesuatu yang sulit ditahan (du=sulit,
kha=menahan).[14]
Yang termasuk dalam dukkha antara lain:
a.
Kelahiran, usia
lanjut, kematian adalah dukkha.
b.
Timbulnya
kesedihan, ratap tangis, kesakitan, kesengsaraan, putus asa adalah dukkha.
c.
Keinginan yang
tidak tercapai adalah dukkha.
d.
Kehilangan
sesuatu yang dicintai/disukai dan berkumpul atau selalu dekat dengan yang
dibenci adalah dukkha.
e.
Masih banyak
lagi yang lain-lainnya.
Secara singkat susunan badan ini sendirilah sumber
penderitaan. Penderitaan
bergantung pada manusia dan berbagai segi kehidupan, harus diamati dan diuji
dengan cermat.[15]
2)
Kesunyataan
tentang Asal-Mula Dukkha atau Dukkha
Samudaya Ariyasacca
Dukkha
disebabkan oleh adanya nafsu keinginan, kehausan, kerinduan (Tanha) yang
berhubungan dengan kenikmatan indriya dan pemikiran untuk terus
mempertahankannya, atau menolak sesuatu yang tidak disukai/dicinta dan hal ini
mengakibatkan timbulnya proses tumimbal-lahir (rebirth).[16]
Dalam Dhammapada tercantum:[17]
“ Dari keinginan
timbul kesedihan, dari keinginan timbul ketakutan, bagi orang mutlak bebas dari
keinginan tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.” (V. 216)[18]
3)
Kesunyataan
tentang Lenyapnya Dukkha atau Dukkhanirodha
Ariyasacca.
Penderitaan
maupun keinginan hanya dapat di hapuskan dengan mengikuti Jalan Tengah, yang
dipaparkan oleh Sang Budha, serta mencapai Kebahagiaan Nibbāna. Berhentinya
penderitaan secara tuntas yaitu Nibbāna, tujuan akhir semua umat Budha. Itu
dapat tercapai dengan menghilangkan segala bentuk napsu keinginan secara
menyeluruh.[19]
Jadi
dukkha hanya dapat lenyap dengan Padamnya Napsu Keinginan (Tanhakkhaya) dan
Padamnya Arus Kekotoran Bathin (Asavakkhaya), yang berarti terhentinya proses
tumimbal lahir dan tercapainya Nibbana. Hal ini mengandung satu pengertian
bahwa perasaan, pikiran, dan perbuatan kita tidak dapat dibiarkan bekerja terus
sampai melampaui batas-batas kemampuan, maka selama itu pula kita dapat
terbebas dari segala penderitaan atau dukkha.[20]
4)
Kesunyataan
tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha atau Dukkhanirodhagaminipatipada
Arriyasacca.
Kesunyataan
ini harus disadari dengan mengembangkan Jalan Ariya Berunsur Delapan yang
merupakan Kesunyataan Mulia ke empat. Delapan Ruas Jalan Utama atau Ariya
Atthangika Magga adalah merupakan Parama Bodhi Marga atau Jalan Untuk Mencapai
Penerangan Sempurna.
Delapan
Ruas Jalan Utama itu terdiri atas:[21]
a.
Harus memiliki
pandangan / pengertian benar atau Samma Ditthi
b.
Pikiran benar
atau Samma Sankappa
c.
Ucapan benar
atau Samma Vaca
d.
Perbuatan benar atau
Samma Kammanta
e.
Mata pencaharian
benar atau Samma Ajiva
f.
Daya upaya benar
atau Samma Vayama
g.
Perhatian benar
atau Samma Sati
h.
Konsentrasi
benar atau Samma Samadhi
Pelaksanaan Jalan-Tengah ini, pada tingkat duniawi (lokiya)
yang dibicarakan tentang Delapan Ruas Jalan (Atthangika Magga) yang
ditempuh orang biasa (Putthujjana) dan pada tingkat mengatasi duniawi (lokuttara)
yang dibicarakan adalah tentang Delapan Ruas Jalan Utama (Ariya Atthangika
Magga) yang ditempuh oleh orang suci (Ariya-Puggala).
Delapan Ruas Jalan (Atthangika Magga) merupakan
“pedoman hidup” dan Delapan Ruas Jalan Utama (Ariya Atthangika Magga)
adalah merupakan “tujuan hidup” bagi setiap umat Budha. Bilamana kita hidup
menurut Delapan Ruas Jalan mungkin kelak (lama dan sukar) orang dapat
membangkitkan Delapan Ruas Jalan Utama, dengan penuh kesulitan-kesulitan
ditempuhnya.[22]
Jalan ini akan dirangkum dalam bagan berikut.
Sila
|
Perkataan yang
benar
Perbuatan yang
benar
Penghidupan yang
benar
|
Kesusilaan/ Morality
|
Samadhi
|
Usaha yang benar
Kesadaran yang
benar
Konsentrasi yang
benar
|
Keheningan/ Mental Culture
|
Panna
|
Pandangan Yang Benar
Pemikiran/Niat yang Benar
|
Kebijaksanaan/ Wisdom
|
4.
HUKUM
KARMA
“What is Kamma?
Kamma is an immpersonal, natural law that operates in accordance
with our actions. It is a law in itself dan does not have any law giver. Kamma
operates in its own field without the intervention of external, independent,
ruling agent”[23]
“Apakah Karma itu?
Karma adalah suatu hukum alam impersonal yang bekerja sesuai degan
perbuatan kita. Karma adalah hukum tersendiri dan tidak ada yang memberi hukum.
Karma bekerja dengan sendirinya tanpa campur tangan sosok pengatur eksternal.”
Secara sederhana sering kita mendengar ungkapan berikut:
“Berbuatlah baik, maka kebaikan akan datang padamu, kini dan nanti. Tapi jika
kamu berbuat buruk, keburukan akan datang juga padamu, kini dan nanti”.
Dalam bahasa Ilmu pengetahuan Karma adalah hukum
sebab-akibat;setiap sebab akan menimbulkan akibat. Nama lain untuk hal ini
adalah hukum Kausal Moral. Kausal Moral bekerja dalam bidang moral sama seperti
hukum fisika tentang aksi dan reaksi bekerja dalam fisika.
Dalam Dhammapada 1-2, karma dijelaskan dengan cara ini:
“segala yang dialami didahului oleh pikiran, dipelopori oleh pikiran,
diciptakan oleh pikiran. Jika orang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang
buruk, maka penderitaan akan mengikutinya, laksana roda mengikuti jejak. Jika
seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang murni, maka kebahagiaan
akan mengikutinya, laksana bayang-bayang yang mengikutinya”.[24]
Hal
ini YMS Budha Gotama pernah bersabda yang terdapat pada kitab Anggutara-Nikaya
III : 415 berbunyi: [25]
“ Oh, siswa-siswaku,
kehandak untuk bebuat (cetana) itulah yang Kami namakan Kamma dan sesudah
berkehendak orang lantas berbuat dengan
Badan, dengan Ucapan dan dengan Pikiran”.
Dalam
Buku Sang
Buddha dan Ajarannya diseubutkan Kamma
adalah suatu perwujudan dari perbuatan, yakni meliputi semua jenis kehendak dan
maksud perbuatan yang baik maupun yang buruk; dan lahir maupun batin atau
jasmani atau rohani. Makna yang luas dari Kamma sebenarnya ialah semua
keinginan yang tidak membeda-bedakan apakah keinginan/kehendak itu bermoral
(berakhlak) ataupun yang tidak bermoral. [26]
Semua perbuatan yang dilakukan akan meimbulkan akibat dan awal kejadian disebut
dengan sebab, sehingga Kamma juga disebut sebagai “HUKUM SEBAB AKIBAT
PERBUATAN”.
Kamma
itu bukan Nasib. Manusia yang sesungguhnya mempunyai kebebasan kehendak dan
dengan demikian manusia bebas pula untuk berbuat dalam menentukan nasibnya
sendiri, namun sering kali sukar melaksanakannya dan sering pula seakan-akan
kehendaknya didorong kearah tertentu oleh kekuatan di luar kemampuannya, yang
disebabkan tidak lain karena pengaruh Kamma-nya di masa yang lampau. Sekalipun demikian dengan tekad dan kemauan yang kuat
manusia pasti mampu untuk setiap saat menentukan Kamma-nya sendiri.
5.
TUMIMBAL
LAHIR
“Unsatisfied desire for existence and sensual pleasures is the
cause of rebirth”
“Keinginan tak terpuaskan akan keberadaan dan kenikmatan indrawi
adalah sebab kelahiran berulang”
Umat Buddha tidak menganggap doktrin Kelahiran Berulang hanyalah
teori belaka, tetapi sebagai kenyataan yang dapat dibuktikan. Kepercayaan akan
kebenaran Kelahiran Berulang (Tummbal Lahir) membentuk suatu prinsip
fundamentali ajaran Buddha. Namun demikian, kepercayaan Kelahiran Berulang
tidaklah terbatas padaumat Buddha saja; hal ini juga ditemukan di negara lain,
di agama lain bahkan di antara pemikir bebas.
Apa yang biasanya kita artikan dengan kematian adalah hilangnya
fungsi vital tubuh. Saat tubuh fisik kehilangan vitalitasnya, tubuh tidak dapat
lagi mendukung arus kesadaran, sisi mental dari proses. Tetapi selama ada
kelekatan dengan kehidupan, keinginan untuk terus ada, arus kesadaran tidak
berhenti dengan hilangnya kehidupan pada tubuh. Sebaliknya, saat kematian
terjadi, saat tubuh binasa, arus mental di dorong oleh kehausan untuk terus
berada, akan bersemi kembali dengan dukungan tubuh fisik yang yang baru, yang
timbul melalui pertemuan sperma dan sel telur. Jadi, kelahiran berulang terjadi
segera setelah kematian. Arus ingatan mungkin terganggu dan indra dipindahkan
ke situasi yang baru, tetapi setelah akumulasi pengalaman dan watak telah
dipindahkan ke makhluk yang baru, dan siklus kehidupan mulaii berputar kembali.[27]
Kelahiran dari makhluk-makhluk, atau keputusan dari makhluk-makhluk
bahwa mereka akan lahir, rencana mereka akan muncul dalam kehidupan, perwujudan
dan kelompok-kelompok kehidupannya, timbulnya aktifitas indriyanya, inilah yang
dinamai Tumimbal Lahir.
Enam Alam Tumimbal-Lahir atau enam jalan kecil mengenai kelahiran kembali: Dewa, manusia,
asura, preta, bintang dan penghuni neraka
Bila selama seseorang hidup di dunia ini telah banyak melakukan
perbuatan amal yang sangat baik maka kemungkinana besar ia tidak akan terlahir
kembali dialam Tumimbal-lahir dari enam jalan kecil mengenai kelahiran kembali,
ia yang selama hidup di alam manusia ini rajin dan patuh mengikuti Buddha
Dharma maka ia dapat terlahir di alam tingkatan yang suci atau di alam yang tidak dapat tumimbal-lahir
yakni di alam Sravaka, Pratyeka Buddha, Bodhisatva, Buddha.[28]
6.
PENUTUP
Doktin Empat Kebenaran Mulia (Cattari ariya Saccani) merupakan
doktrin intisari dari ajaran Buddha. Kebenaran yang pertama adalah Kebenaran
Mulia tentang Dukkha : kelahiran, usia tua, terkena penyakit dan
kematian adalah Dukkha; kesedihan, keluh-kesah, kesengsaraan, ketidak senangan,
dan putus asa. Bertemu dengan yang tidak disenangi dan berpisah dengan yang
dicintai, tidak memperoleh hal yang
diinginkan juga merupakan suatu dukkha. Pendek kata, sosok ini, lima
agregat kehidupan (panca-khanda) yang merupakan pokok kemelekatan adalah
dukkha. Kebenaran kedua adalah Kebenaran Mulia tentang penyebab dukkha
(Samudaya); nafsu keinginan (tanha) yang menyebabkan kelahiran
kembali, disertai godaan dan nafsu terikat berkeinginan di sana sini, yaitu
keinginan terhadap kesenangan Indrawi (kama-tanha). Nafu untuk menjelma kembali
(brava-tanha), keinginan untuk mengakhiri hidupnya (vibhava-tanha).
Kebenaran yang ketiga adalah Kebenaran Mulia tentang lenyapnya dukkha
(Nirodha); berakhirnya hawa nafsu sepenuhnya tanpa sisa, lepas, anggal dan
bebas. Tidak ada lagi berkeinginan karena Nafsu tersebut. Dan Kebenaran yang
keempat adalah Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha (Magga).
Jalan Mulia berunsur Delapan (S. V, 421-422).
Bagi orang baik, berbuat bagi itu
mudah
Bagi orang buruk, berbuat buruk itu
mudah
Bagi orang baik, berbuat buruk itu
sulit
Bagi orang buruk, berbuat baik itu
sulit (Udana)
‘The body is like a dump of foam:
The feelings is like a water
bubble:
Perception is like a mirage;
And Consciousness is just like jugglery; (Samyutta Nikaya)
“Tubuh bagaikan sebongkah gelembung;
Perasaan bagaikan buih-buih air;
Persepsi bagaikan Khayalan;
Dan Kesadaran bagaikan Impian (Samyuta Nikaya)
7.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Dhammananda, Sri, What Buddhist Believe, The
Corporate Body of the Buddha Education Foundation. Taiwan:
2.
Dhammananda,.Sri,
Keyakinan Umat Buddha (terj.). Ehipassiko Foundation. ________:
2012
3.
NĀRADA Mahāthera,
Ven. Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, Jakarta:
4.
Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan
Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980)
5.
. T.
Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, Majlis Agama Buddha Mahayana Indonesia.
Jakarta:1995
6.
Wijaya-mukti,
Krishna. Wacana Buddha Dharma. Yayasan Dharma Pembangunan dan Sangha
Agung Indonesia. Jakarta: 2006
[1] Krishnanda wijaya-mukti. Wacana Buddha Dharma. Hal. 132
[3] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya,hal. 38
[4] Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan
Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980), h. 61
[8] K. Sri Dhammananda, What Buddhist Believe, page. 74
[9] K. Sri dhammananda. Keyakinan Umat Buddha (terj.) hal. 112
[10] Ibid. hal. 113
[12] K. Sri Dhmmananda. Keyakinan Umat Buddha. Hal 113
[13] Ibid. hal. 115
[21]Ibid, hlm. 67
[23] K. Sri Dhammananda, What Buddhist Believe, page. 87
[24] K. Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha (terj.). hal.129
[27] K. Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha (terj.). hal.148
[28] Majlis Agama Buddha Mahayana Indonesia, Buddha Dharma Mahayana. Hal
69

Tidak ada komentar:
Posting Komentar