Kamis, 06 Juni 2013

Makalah Pembanding

KASUNYATAAN
Keyakinan Terhadap Hukum Kasunyataan
Makalah Pembanding
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Buddhisme
Dosen Pembimbing: Dra. Hj. Siti Nadroh

Oleh:
Rini Farida (1111 0321 000 57)




JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013
1.   PENDAHULUAN
Buddha mengajarakan dengan banyak cara (termasuk tahapan) dan dengan berbagai alasan. Sesuai dengan kapasitas kemampuan para muridNya,
yang cerdas, yang bodoh, yang rajin ataupun yang malas, Ia mengkhotbahkan ajarannya dengan bermacam-cara yang tak terbatas.
Sekalipun banyak cara Buddha Gotama (bahkan semua Buddha) mengajarkan hukum kebenaran yang sama. Ia menunjukkan  Jalan Agung dengan tiga wahana (triyana), yaitu Sravakayana, Pratyekabuddhayana, dan Boddhisattvayana.
Keunikan dari ajaran Buddha yang mendasar adalah kesempatan bagi setiap orang untuk menjadi Buddha (Saddharmapundarika-sutra-II) dan pencerahan atau keselamatan itu dapat dicapai dengan usaha manusia sendiri (D. II, 100). Akhr dari penderitaan atau Nirvwana bukan suatu spekulasi, karena dapat direalisasi ketika orang masih hidup. Dengan mencapai Nirwana, orang mengakhiri kehidupannyayang berulang-ulang. Buddha menyangkal kalau Brahma (Tuhan Pencipta) dan para dewa menentukan atau mengatur nasib manusia (D,I, 18). Beriman dan berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha bukan berarti menyandarkan nasib kepada kekuatan diluar diri sendiri.
Buddha menolak kasta yang membedakan derajat manusia menurut kelahirannya (D. III, 82). Perbedaan  diantara semua makhluk terjadi karena karma atau perbuatannya sendiri (M. III, 202-203).[1]

2.   PENGERTIAN HUKUM KASUNYATAAN
Kata Kasunyataan diambil dari bahasa dasarnya yaitu bahasa Sansekerta SUNYATA atau bahasa Pali SUÑÑATA yang berarti Jalan Pikiran (konsepsi) yang tidak dapat dibentangkan dengan kata-kata manusia, hanya dapat ditembus dengan intuisi/pandangan terang, atau dengan kata lain Sunyata/ Suññata adalah dari kata SUNYA/ SUÑÑA artinya pencirian segala sesuatu yang kosong dari definisi yang tepat.[2]
Kasunyataan (Sacca) berarti apa yang sesungguhnya. Dalam bahasa Sansekerta disebut Satya artinya fakta yang tidak dapat dibantah.[3] Hukum Kasunyataan berarti hukum abadi yang berlaku dimana-mana, mengatasi waktu dan tempat serta keadaan. Ini berarti bahwa hukum Kasunyataan bersifat kekal dan abadi sepanjang masa yang berlaku di semua tempat, didalam semua keadaan di setiap waktu. Kasunyataan yang dibuat oleh sesuatu yang kekal dan abadi yaitu Sanghyang Adi Budha. [4]
Sunyata/Suññata juga digunakan untuk mencirikan Yang Mutlak yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata manusia. Segala sesuatu yang hanya dapat disadari oleh kemampuan luhur karena Pandangan Terang. Kenyataan Mutlak, ialah yang berlaku dimana saja, dan kapan saja, tidak tergantung pada waktu dan tempat.[5] Kata suññata dan sunyata dipakai untuk mencirikan Kenyataan Mutlak dan dalam bahasa Indonesia disebut KESUNYATAAN.[6]
Sederhana Dhamma berarti Ajaran Agama. Hukum Kasunyataan termasuk didalam Dhamma yang telah diajarkan Budha Gotama kepada manusia dalam khotbah pertama, yaitu dua bulan setelah Siddharta Gotama mencapai tingkat Budha tepat di bulan Asadha tahun 588 SM di Isipatana (sekarang Sarnath)  di dekat Benares India.
Dhamma banyak dibentangkan dan diterangkan berulang-ulang kali di banyak tempat yang tidak terhitung lagi jumlahnya, dengan lebih banyak perincian dan dengan berbagai cara, sehingga dapat dikenal adanya empat hukum Kesunyataan yaitu:[7]
1.      Cattari Ariya Saccani artinya Empat Kebenaran Mulia/ Empat Kesunyataan.
2.      Kamma artinya Sebab-Akibat Perbuatan dan Punabbhava artinya Kelahiran Kembali atau Tumimbal Lahir
3.      Tilakkhana artinya Tiga Corak Umum dan Pancakkhandha artinya Lima Kelompok Kehidupan atau yang disebut manusia.
Paticca Samuppada artinya Pokok Permulaan Sebab-Akibat yang Saling Bergantungan.

3.   CATUR ARYA SACCANI
Dalam bukunya yang berjudul What Bhuddist Believe, K. Sri Dhammananda mengutip kata-kata berikut
            “Why we were here? Why are we not happy with our lives? What is the cause of our unsatisfactoriness? How can we see the end of unsatisfactoriness and experience eternal peace?”[8]
Ajaran Buddha didasarkan pada Empat Kebenaran Mulia (Catur Arya Saccani). Menyadari kebenaran ini adalah menyadari dan menembus ke dalam sifat sejati keberadaan, termasuk pengetahuan penuh akan diri sendiri. Jika kita mengenali bahwa semua fenomena itu bersifat fana, tidak memuaskan, dan tidak mengandung realitas inti apapun, kita akan yakin bahwa kebahagian sejati danabadi tidak dapat ditemukan dalam kepemilikkan materi dan pencapaian duniawi, bahwa kebahagiaan sejati  harus dicari hanya melalui pemurnian batin dan pengembangan bijaksana.[9]
Doktin Empat Kebenaran Mulia (Cattari Arya Saccani) kembali dikatakan bahwa merupakan intisari dari ajaran Buddha, Buddha pun mengatakan bahwa karena kita tidak memahami Empat Kebenaran Mulia, maka kita terus menerus mengitari siklus kelahiran dan kematian.
Empat Kebenaran Mulia itu adalah:
1.      Kebenaran Mulia Tentang Dukkha
2.      Kebenaran Mulia Tentang Sebab Dukkha
3.      Kebenaran Mulia Tentang Akhir Dukkha
4.      Kebenaran Mulia Tentang Jalan Akhir Dukkha.[10]
Budha Gotama mengajarkan untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu keinginan, karena nafsu keinginanlah yang mendatangkan DUKKHA artinya PENDERITAAN JASMANI ROHANI.
Maka manusia mencari pembebasan untuk selama-lamanya dari segala penderitaan tanpa tertinggal sedikitpun; dan tidak akan kembali lagi penderitaan itu di kemudian hari.[11]
Ada banyak cara pemahaman kata Pali”dukkha”. Secara umum kata ini diterjemahkan sebagai “duka”, ‘penderitaan’, atau ‘ketidakpuasan’, tetapi istilah seperti yang digunakan dalam Empat Kebenaran Mulia ini memiliki arti yang lebih dalam dan luas. Dukkha tidak hanya mengandung arti pada umumnya, tetapi  juga mencakup hal yang lebih mendalam seperti ketaksempurnaan, kesakitan, ketakabadian, ketakselaran, ketaknyamanan, gangguan, atau kesadaran akan ketaklengkapan dan ketakcukupan. Tentu saja, dukkha mencakup penderitaan fisik dan mental: kelahiran, peruraian, kesakitan, kematian, berkumpul dengan yang tak menyenangkan, berpisah dari yang menyenangkan, dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Bagaimanapun, banyak orang yang tidak menyadari bahwa bahkan selama saat-saat kegembiraan dan kebahagiaan, disitu ada dukkha karena saat-saat ini tidak permanen dan akan berlalu jika kondisinya berubah. Dengan demikian, kebenaran akan dukkha meliputi seluruh keberadaan dalam kebahagiaan dan kesedihan kita, di setiap aspek kehidupan kita. Sepanjang hidup, kita mengalami kebenaran ini dengan sangat jelas.[12]
Sebagai tambahan, waalaupun Dukkha adalah Kebenaran Mulia, tidak berarti bahwa tidak ada kesenangan, kegembiraan, dan kebahagian dalam kehidupan. Hal ini ada, dan Buddha mengajarkan berbagai metode agar kita dapat memperoleh lebih banyak kebahagiaan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, dalam analisis akhir kenyataannya tetap bahwa kesenangan dan kebahagiaan yang kita alami dalam hidup tidaklah abadi. Kita mungkin menikmati situasi yang bahagia atau ditemani seseorag yang kita cintai, atau kita menikmati masa muda dan kesehatan. Cepat atau lambat, keadaan ini akan berubah, kita mengalami penderitaan. Karena itu saat merasa gembira, saat kita mengalami kebahagiaan, sebaiknya tidak melekat pada keadaan bahagia ini, kalau tidak ingin tergusur dan melalaikan upaya menuju keterbatasan sempurna.[13]

Budha Gotama mengajarkan pembebasan diri dari segala derita, dengan menerangkan empat faktor didalamnya:
1)         Kesunyataan tentang Dukkha atau Dukkha Ariyasacca
Dukkha diterjemahkan sebagai penderitaan atau duka cita. Sebagai perasaan dukkha berarti sesuatu yang sulit ditahan (du=sulit, kha=menahan).[14] Yang termasuk dalam dukkha antara lain:

a.       Kelahiran, usia lanjut, kematian adalah dukkha.
b.      Timbulnya kesedihan, ratap tangis, kesakitan, kesengsaraan, putus asa adalah dukkha.
c.       Keinginan yang tidak tercapai adalah dukkha.
d.      Kehilangan sesuatu yang dicintai/disukai dan berkumpul atau selalu dekat dengan yang dibenci adalah dukkha.
e.       Masih banyak lagi yang lain-lainnya.
Secara singkat susunan badan ini sendirilah sumber penderitaan. Penderitaan bergantung pada manusia dan berbagai segi kehidupan, harus diamati dan diuji dengan cermat.[15]
2)         Kesunyataan tentang Asal-Mula Dukkha atau Dukkha Samudaya Ariyasacca
Dukkha disebabkan oleh adanya nafsu keinginan, kehausan, kerinduan (Tanha) yang berhubungan dengan kenikmatan indriya dan pemikiran untuk terus mempertahankannya, atau menolak sesuatu yang tidak disukai/dicinta dan hal ini mengakibatkan timbulnya proses tumimbal-lahir (rebirth).[16] Dalam Dhammapada tercantum:[17]
“ Dari keinginan timbul kesedihan, dari keinginan timbul ketakutan, bagi orang mutlak bebas dari keinginan tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.” (V. 216)[18]

3)         Kesunyataan tentang Lenyapnya Dukkha atau Dukkhanirodha Ariyasacca.
Penderitaan maupun keinginan hanya dapat di hapuskan dengan mengikuti Jalan Tengah, yang dipaparkan oleh Sang Budha, serta mencapai Kebahagiaan Nibbāna. Berhentinya penderitaan secara tuntas yaitu Nibbāna, tujuan akhir semua umat Budha. Itu dapat tercapai dengan menghilangkan segala bentuk napsu keinginan secara menyeluruh.[19] 
Jadi dukkha hanya dapat lenyap dengan Padamnya Napsu Keinginan (Tanhakkhaya) dan Padamnya Arus Kekotoran Bathin (Asavakkhaya), yang berarti terhentinya proses tumimbal lahir dan tercapainya Nibbana. Hal ini mengandung satu pengertian bahwa perasaan, pikiran, dan perbuatan kita tidak dapat dibiarkan bekerja terus sampai melampaui batas-batas kemampuan, maka selama itu pula kita dapat terbebas dari segala penderitaan atau dukkha.[20]

4)         Kesunyataan tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha atau Dukkhanirodhagaminipatipada Arriyasacca.
Kesunyataan ini harus disadari dengan mengembangkan Jalan Ariya Berunsur Delapan yang merupakan Kesunyataan Mulia ke empat. Delapan Ruas Jalan Utama atau Ariya Atthangika Magga adalah merupakan Parama Bodhi Marga atau Jalan Untuk Mencapai Penerangan  Sempurna.

Delapan Ruas Jalan Utama itu terdiri atas:[21]
a.       Harus memiliki pandangan / pengertian benar atau Samma Ditthi
b.      Pikiran benar atau Samma Sankappa
c.       Ucapan benar atau Samma Vaca
d.      Perbuatan benar atau Samma Kammanta
e.       Mata pencaharian benar atau Samma Ajiva
f.       Daya upaya benar atau Samma Vayama
g.      Perhatian benar atau Samma Sati
h.      Konsentrasi benar atau Samma Samadhi
Pelaksanaan Jalan-Tengah ini, pada tingkat duniawi (lokiya) yang dibicarakan tentang Delapan Ruas Jalan (Atthangika Magga) yang ditempuh orang biasa (Putthujjana) dan pada tingkat mengatasi duniawi (lokuttara) yang dibicarakan adalah tentang Delapan Ruas Jalan Utama (Ariya Atthangika Magga) yang ditempuh oleh orang suci (Ariya-Puggala).
Delapan Ruas Jalan (Atthangika Magga) merupakan “pedoman hidup” dan Delapan Ruas Jalan Utama (Ariya Atthangika Magga) adalah merupakan “tujuan hidup” bagi setiap umat Budha. Bilamana kita hidup menurut Delapan Ruas Jalan mungkin kelak (lama dan sukar) orang dapat membangkitkan Delapan Ruas Jalan Utama, dengan penuh kesulitan-kesulitan ditempuhnya.[22]
Jalan ini akan dirangkum dalam bagan berikut.
Sila
Perkataan yang benar
Perbuatan yang benar
Penghidupan yang benar
Kesusilaan/ Morality
Samadhi
Usaha yang benar
Kesadaran yang benar
Konsentrasi yang benar
Keheningan/ Mental Culture
Panna
Pandangan Yang Benar
Pemikiran/Niat yang Benar
Kebijaksanaan/ Wisdom

4.   HUKUM KARMA
“What is Kamma?
Kamma is an immpersonal, natural law that operates in accordance with our actions. It is a law in itself dan does not have any law giver. Kamma operates in its own field without the intervention of external, independent, ruling agent”[23]
Apakah Karma itu?
Karma adalah suatu hukum alam impersonal yang bekerja sesuai degan perbuatan kita. Karma adalah hukum tersendiri dan tidak ada yang memberi hukum. Karma bekerja dengan sendirinya tanpa campur tangan sosok pengatur eksternal.”
Secara sederhana sering kita mendengar ungkapan berikut: “Berbuatlah baik, maka kebaikan akan datang padamu, kini dan nanti. Tapi jika kamu berbuat buruk, keburukan akan datang juga padamu, kini dan nanti”.
Dalam bahasa Ilmu pengetahuan Karma adalah hukum sebab-akibat;setiap sebab akan menimbulkan akibat. Nama lain untuk hal ini adalah hukum Kausal Moral. Kausal Moral bekerja dalam bidang moral sama seperti hukum fisika tentang aksi dan reaksi bekerja dalam fisika.
Dalam Dhammapada 1-2, karma dijelaskan dengan cara ini: “segala yang dialami didahului oleh pikiran, dipelopori oleh pikiran, diciptakan oleh pikiran. Jika orang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang buruk, maka penderitaan akan mengikutinya, laksana roda mengikuti jejak. Jika seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, laksana bayang-bayang yang mengikutinya”.[24]
Hal ini YMS Budha Gotama pernah bersabda yang terdapat pada kitab Anggutara-Nikaya III : 415 berbunyi: [25]
“ Oh, siswa-siswaku, kehandak untuk bebuat (cetana) itulah yang Kami namakan Kamma dan sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan  Badan, dengan Ucapan dan dengan Pikiran”.
Dalam Buku Sang Buddha dan Ajarannya diseubutkan Kamma adalah suatu perwujudan dari perbuatan, yakni meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan yang baik maupun yang buruk; dan lahir maupun batin atau jasmani atau rohani. Makna yang luas dari Kamma sebenarnya ialah semua keinginan yang tidak membeda-bedakan apakah keinginan/kehendak itu bermoral (berakhlak) ataupun yang tidak bermoral. [26] Semua perbuatan yang dilakukan akan meimbulkan akibat dan awal kejadian disebut dengan sebab, sehingga Kamma juga disebut sebagai “HUKUM SEBAB AKIBAT PERBUATAN”.
Kamma itu bukan Nasib. Manusia yang sesungguhnya mempunyai kebebasan kehendak dan dengan demikian manusia bebas pula untuk berbuat dalam menentukan nasibnya sendiri, namun sering kali sukar melaksanakannya dan sering pula seakan-akan kehendaknya didorong kearah tertentu oleh kekuatan di luar kemampuannya, yang disebabkan tidak lain karena pengaruh Kamma-nya di masa yang lampau. Sekalipun demikian dengan tekad dan kemauan yang kuat manusia pasti mampu untuk setiap saat menentukan Kamma-nya sendiri.

5.   TUMIMBAL LAHIR
“Unsatisfied desire for existence and sensual pleasures is the cause of rebirth”
“Keinginan tak terpuaskan akan keberadaan dan kenikmatan indrawi adalah sebab kelahiran berulang”
Umat Buddha tidak menganggap doktrin Kelahiran Berulang hanyalah teori belaka, tetapi sebagai kenyataan yang dapat dibuktikan. Kepercayaan akan kebenaran Kelahiran Berulang (Tummbal Lahir) membentuk suatu prinsip fundamentali ajaran Buddha. Namun demikian, kepercayaan Kelahiran Berulang tidaklah terbatas padaumat Buddha saja; hal ini juga ditemukan di negara lain, di agama lain bahkan di antara pemikir bebas.
Apa yang biasanya kita artikan dengan kematian adalah hilangnya fungsi vital tubuh. Saat tubuh fisik kehilangan vitalitasnya, tubuh tidak dapat lagi mendukung arus kesadaran, sisi mental dari proses. Tetapi selama ada kelekatan dengan kehidupan, keinginan untuk terus ada, arus kesadaran tidak berhenti dengan hilangnya kehidupan pada tubuh. Sebaliknya, saat kematian terjadi, saat tubuh binasa, arus mental di dorong oleh kehausan untuk terus berada, akan bersemi kembali dengan dukungan tubuh fisik yang yang baru, yang timbul melalui pertemuan sperma dan sel telur. Jadi, kelahiran berulang terjadi segera setelah kematian. Arus ingatan mungkin terganggu dan indra dipindahkan ke situasi yang baru, tetapi setelah akumulasi pengalaman dan watak telah dipindahkan ke makhluk yang baru, dan siklus kehidupan mulaii berputar kembali.[27]
Kelahiran dari makhluk-makhluk, atau keputusan dari makhluk-makhluk bahwa mereka akan lahir, rencana mereka akan muncul dalam kehidupan, perwujudan dan kelompok-kelompok kehidupannya, timbulnya aktifitas indriyanya, inilah yang dinamai Tumimbal Lahir.

Enam Alam Tumimbal-Lahir atau enam jalan kecil mengenai kelahiran kembali: Dewa, manusia, asura, preta, bintang dan penghuni neraka
Bila selama seseorang hidup di dunia ini telah banyak melakukan perbuatan amal yang sangat baik maka kemungkinana besar ia tidak akan terlahir kembali dialam Tumimbal-lahir dari enam jalan kecil mengenai kelahiran kembali, ia yang selama hidup di alam manusia ini rajin dan patuh mengikuti Buddha Dharma maka ia dapat terlahir di alam tingkatan yang suci  atau di alam yang tidak dapat tumimbal-lahir yakni di alam Sravaka, Pratyeka Buddha, Bodhisatva, Buddha.[28]

6.   PENUTUP
Doktin Empat Kebenaran Mulia (Cattari ariya Saccani) merupakan doktrin intisari dari ajaran Buddha. Kebenaran yang pertama adalah Kebenaran Mulia tentang Dukkha : kelahiran, usia tua, terkena penyakit dan kematian adalah Dukkha; kesedihan, keluh-kesah, kesengsaraan, ketidak senangan, dan putus asa. Bertemu dengan yang tidak disenangi dan berpisah dengan yang dicintai, tidak memperoleh  hal yang diinginkan juga merupakan suatu dukkha. Pendek kata, sosok ini, lima agregat kehidupan (panca-khanda) yang merupakan pokok kemelekatan adalah dukkha. Kebenaran kedua adalah Kebenaran Mulia tentang penyebab dukkha (Samudaya); nafsu keinginan (tanha) yang menyebabkan kelahiran kembali, disertai godaan dan nafsu terikat berkeinginan di sana sini, yaitu keinginan terhadap kesenangan Indrawi (kama-tanha). Nafu untuk menjelma kembali (brava-tanha), keinginan untuk mengakhiri hidupnya (vibhava-tanha). Kebenaran yang ketiga adalah Kebenaran Mulia tentang lenyapnya dukkha (Nirodha); berakhirnya hawa nafsu sepenuhnya tanpa sisa, lepas, anggal dan bebas. Tidak ada lagi berkeinginan karena Nafsu tersebut. Dan Kebenaran yang keempat adalah Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha (Magga). Jalan Mulia berunsur Delapan (S. V, 421-422).

Bagi orang baik, berbuat bagi itu mudah
Bagi orang buruk, berbuat buruk itu mudah
Bagi orang baik, berbuat buruk itu sulit
Bagi orang buruk, berbuat baik itu sulit         (Udana)

‘The body is like a dump of foam:
The feelings is  like a water bubble:
Perception is like a mirage;
And Consciousness is just like jugglery;          (Samyutta Nikaya)
“Tubuh bagaikan sebongkah gelembung;
Perasaan bagaikan buih-buih air;
Persepsi bagaikan Khayalan;
Dan Kesadaran bagaikan Impian                   (Samyuta Nikaya)






7.   DAFTAR PUSTAKA
1.     Dhammananda, Sri, What Buddhist Believe, The Corporate Body of the Buddha Education Foundation. Taiwan:
2.    Dhammananda,.Sri, Keyakinan Umat Buddha (terj.). Ehipassiko Foundation. ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­________: 2012

3.    NĀRADA Mahāthera, Ven. Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, Jakarta:
4.    Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980)
5.    . T. Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, Majlis Agama Buddha Mahayana Indonesia. Jakarta:1995
6.    Wijaya-mukti, Krishna. Wacana Buddha Dharma. Yayasan Dharma Pembangunan dan Sangha Agung Indonesia.  Jakarta: 2006






[1] Krishnanda wijaya-mukti. Wacana Buddha Dharma. Hal. 132
[2] Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980), h. 61
[3] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya,hal. 38
[4] Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980), h. 61
[5] Ibid
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] K. Sri Dhammananda, What Buddhist Believe, page. 74
[9] K. Sri dhammananda. Keyakinan Umat Buddha (terj.) hal. 112
[10] Ibid. hal. 113
[11] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, h. 62
[12] K. Sri Dhmmananda. Keyakinan Umat Buddha. Hal 113
[13] Ibid. hal. 115
[14] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, h. 39
[15] Ibid
[16] Ibid
[17] Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980), h. 64
[18] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, h. 40
[19] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, h. 40
[20] Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980), h. 64
[21]Ibid, hlm. 67
[22] Majelis Budhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: 1980), h. 67
[23] K. Sri Dhammananda, What Buddhist Believe, page. 87
[24] K. Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha (terj.). hal.129
[25] Ven. NĀRADA Mahāthera, Sang Budha dan Ajaran-AjaranNya, Bag. 2, h. 69
[26] Ibid.
[27] K. Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha (terj.). hal.148
[28] Majlis Agama Buddha Mahayana Indonesia, Buddha Dharma Mahayana. Hal 69

Tidak ada komentar:

Posting Komentar