KITAB SUCI BUDDHISME
Keyakinan Terhadap Kitab Suci (Tripitaka)
Revisi Makalah
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Buddhisme
Dosen
Pembimbing: Dra. Hj. Siti Nadroh
Oleh:
Rini Farida
(1111 0321 000 57)
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2013
A.
PENDAHULUAN
Keyakinan
terhadap kitab suci merupakan suatu kewajiban bagi setiap Umat Buddha, seperti
yang tertera di dalam Panca-sraddha yakni Lima keyakinan umat Budha, Rukun Iman agama
Buddha atau yang lebih dikenal dengan Panca Sadha, yaitu:
1.
Sang Hyang Adi Buddha
2. Bodhisatwa dan
Arahat
3. Hukum Kesunyataan
4. Kitab Suci
5.
Nibbana
Dari lima keyakinan Umat Buddha tersebut, dalam pembahasan makalah
ini haanya akan dibahas yaitu keyakinan terhadap Kitab Suci yakni Kitab Suci
Tipitaka (dalam bahasa Pali) atau
Tripitaka (dalam bahsa Sansekerta)
B.
KITAB AGAMA BUDDHA
The last
Message of Budha
“When I am
Gone, my teaching shall be your Master and Guide”
“My years are
now full ripe; the life span left is short. I will soon have to leave you, you
must be earnest. O monks, be mindful and of pure virtue! Whoever untiringly
pursues the Teaching, will go beyond the cycle of birth and death and will make
an end of suffering.”[1]
“Bila saya
telah pergi, ajaran saya akan menjadi Guru yang membimbing kalian”
“Tahun-tahun
(umur) saya kini telah matang; waktu hidup saya tersisa sebentar lagi. Saya
akan segera merealisasikan Parinibbana. Kalian harus bersungguh-sungguh . Wahai
para bikkhu, jagalah batin dan kebajikan suci! Siapapun yang tak kenal lelah
menjalani Dhamma, akan keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian dan akan
mengakhiri Dukha.”
Sebegitu jauh
kitab-kitab agama Buddha yang ada, tersusun sistematis, dalam bentuk asli maupun
terjemahan, tertulis dalam bahasa Pali, Sansekerta, Tibet dan Cina serta dalam
bahasa-bahasa lain dimana agama Buddha berkembang.
Kitab-kitab
Tipitaka Pali adalah kitab yang tertua serta terlengkap. Kitab Tipitaka sebagai
kitab suci agama Buddha tersusun ke dalam Vinaya Pitaka (peraturan),;
Sutta Pitaka (Khotbah tetang ajaran); Abhidhamma Pitaka (Filsafat,
etika dan metafisika).
Disamping kitab-kitab
suci yang suci yang berbahasa Pali juga dijumpai kitab-kitab bukan kitab suci
yang memakai bahasa Pali, misalnya : Milinda-panha, Netti-pakarana, Atakatha
(komentar) karya Budhadatta tentang Tipitaka Pali, Jataka (oleh Budhaghosa atau
Dhammapala kitab-kitab dari Srilanka seperti Dipavamsa, Mahavamsa, dan
Culavamsa).
Kitab-kitab
dalam bahasa Sansekerta baik yang asli ataupun turunan memberikan gambaran
kepada kita beberapa materi (isi) yang berdiri sendiri dari mashab-mashab
Hinayana dan Mahayana.
Kitab
Lalitavistara berisi biografi yang tidak lengkap dari Sang Buddha, ditulis
dalam bahasa Sansekerta campuran dan merupakan pegangan dari Mahayana serta
membentuk bagian dari Vaipulya Sutra. Asvaghosa terkenal dengan kitab
Buddhacarita, sedangkan Saundarannandan dan Aryasura dengan kitab Jataka Mala.[2]
Ajaran agama
Buddha bersumber pada kitab Tripitaka yang merupakan kumpulan Khotbah,
keterangan, perumpamaan dan percakapan yang pernah dilakukan sang Buddha dengan
para siswa dan pengikutnya. Dengan demikian, isi kitab tersebut semuanya tidak
berasal dari dari kata-kata sang Buddha sendiri melainkan juga kata-kata dan
komentar-komentar dari para siswanya. Oleh para siswanya sumber ajaran tersebut
dipilah menjadi tiga kelompok besar, yang dikenal dengan pitaka atau
keranjang, yaitu Vinaya pitaka, Suttra pitaka, dan Abidharma pitaka.[3]
Selain
pengelompokkan diatas, kitab-kitab agama Buddha juga dapat dikelompokkan
menjadi kitab Sutra dan Sastra. Kitab Sutra adalah kitab-kitab
yang dipandang berisi ucapan sang Buddha sendiri, meskipun ditulis jauh sesudah
Ia meninggal dunia, sedangkan kitab Sastra adalah kitab yang berisi uraian yang ditulis oleh tokoh ternama yang
biasanya disusun secara sistematis.
Sehubungan
dengan sumber-sumber diatas, ada dua pandangan yang berbeda, yakni antara
golongan Therevada dan
Mahayana. Golongan pertama menganggap bahwa hanya kitab Tripitaka
yang dikumpulkan pada pesamuan agung pertama tahun 483 SM. saja yang dapat
dianggap sebagai diajarkan sendiri oleh sang Buddha, sedangkan golongan
Mahayana, selain menerima Tripitaka sebagai sumber ajarannya, juga menjadikan
kitab-kitab Sutra dan Sastra sebagai sumber ajarannya. Kitab-kitab tersebut
antara lain adalah Karandavyriha, Sukhavatiyuha, Lalitavistara,
Mahayanacradhhautpada, Saddharmapundarika, Madyamika-sutra,
Yogacara-bhumi-sastra, Milindapanha, dan lain sebagainya.[4]
C.
PENULIS
KITAB-KITAB AGAMA BUDDHA
1.
Penulisan
kitab Berbahasa Pali
Kitab Pali yang
pertama kali ditulis adalah kitab suci Tipitaka pada abad pertama SM di Cylon.
Sejak saat itu banyak pula kitab-kitab
lainnya yang ditulis dan mengacu pada kitab suci Tipitaka. [5]
Suatu alasan
penting memberikan dan mempelajari bahasa Pali dalam memahami ajaran Buddha
yang lebih mendalam. Karena bahasa ini merupakan gudang yang menyimpan
pengetauhan yang sangat berharga dari sejarah india kuno.
Diantara
penulis kitab berbahasa Pali ke semuanya berisi hal-hal sekitar Buddha yang
sampai saat ini sangat membantu kita untuk memahami ajaranNya, beberapa
diantara mereka adalah Nagasena, Buddhadatta, Buddhaghosa, dan Dhammapala.
Berikut ini
adalah ikhtisar kehidupan para penulis kitab-kitab agama Buddha, yang tak lain
mereka adalah para Filsuf dan juga para sarjana.
Bikkhu
Nagasena
Dalam kitab
Milinda-panha disebutkan Bahwa bikkhu Nagasena lahir di kajangala, suatu kota
yang terkenal di salah satu daerah yang dekat dengan Himalaya. Yang terletak di
sebelah timur perbatasan Sonuttara. Setelah bikkhu Nagasena mempelajari ketiga
kitab Weda (Hindu), sejarah dan hal-hal lain, Nagasena mempelajari
ajaran-ajaran Bddha dibawah bimbingan Rohana kemudian ia masuk sangha.
Selanjutnya ia dikirim ke Pataliputra (Patna) khusus untuk mempelajari
ajaran-ajaran Buddha. Pada akhirnya ia berdiam di vihara Sankheyya di Sagala
dan berjumpa dengan Raja Milinda (Yunani: menandros atau Menander).
Buddhaghosa
Buddhaghosa
adalah komentator terkenal dari naskah-naskah dalam agama Buddha. Beberapa
kitab karya Buddhaghosa adalah Mahavamsa, Buddhaoghosupatu, Gandhavamsa dan
Sasanavamsa. Pada zaman Buddhaghosa agama Buddha yang berasal dari kitab-kitab
Pali sudah mulai menurun popularitasnya dan digantikan oleh kitab-kitab Sansekerta.
Oleh karena itu para bikkhu kemudian berdiam di Bodh Gaya meski hingga abad
ke-5 masehi dimana Buddhaghosa menjadi anggota Sangha dan tetap berpedoman pada
tradisi Pali. Pada waktu itu yang memimpin Vihara adalah bikkhu Mahasthavira
Revata.[6]
Dhammapala
Thera
Dhammapala bertempat tinggal di Bararatittha, pesisir pantai selatan India.
Karya beliau banyak merujuk pada
komentar-komentar Buddhaghosa maka dapat dipastikan bahwa Beliau lebih muda
daripada Buddhaghosa. Dharmmapala terkenal sebagai penulis Paramatthadipani yang
berisi komentar atas bagian-bagian kitab Khuddaka-nikaya yang belum
diselesaikan oleh Buddhaghosa, yakni Udana, There-gatha, Theri-gatha dan
Cariya-pitaka. Di samping itu Thera Dharmmapala menulis komentar yang disebut
kitab Paramatthamanjusa atau Visuddhimagga dari Buddhaghosa.
Pada kanon Pali tergabunglah suatu kesusastraan Pali yang besar
meneganai keagamaan, diantaranya terdapat juga beberapa karangan yang sangat
terkenal yaitu Miinda-panha artinya pertanyaan-pertanyaan raja Milinda; dan
tafsir Buddhaghosa (abad ke-5). Kanon di dalam bahasa Pali ini masih tersimpan
lengkap dan hingga kini dipandang sebagai kata Buddha yang otentik di Sailan,
Birma dan Muang Thai.
2.
Penulisan
kitab berbahasa Sansekerta
Kita mengenal
banyak penulis kitab agama Buddha dalam bahasa Sansekerta. Mereka antara lain
adalah Asvaghosa, Nagarjuna, Buddhapalita, Bhavaviveka, Asanga, Vaubandhu,
Dinnaga, dan Dharmakirti.
Asvaghosa
Selain seorang pemikir, Bikkhu Asvaghosa juga dikenal sebagai
seorang penyair dan pemikir pada zaman pemerintahan Raja Kaniska. Kitab-kitab
Buddhacarita dan Sundarananda adalah dua kitab yang populer karangan Bikkhu
Asvaghosa, yang berisi syair yang puitis. Naskah-naskah asli dari karya-karya
tersebut diketahui oleh I-Tsing (meninggal tahun 713).
Selain dua
kitab syair yang terkenal itu, Asvaghosa juga menulis tiga buah drama (yang diketemukan di Turfan,
Asia Tengah, pada awal abad ke-20). Salah satu drama tersebut adalah Sariputraprakarana yang ditulis dalam bahasa
Sansekerta, yang terdiri dari 9 babak.
Nagarjuna
BikkhuNagarjuna
adalah sahabat dari Raja Yajnasri Gautamiputra (166-196) dari kerajaan
Satavahana. Peranan besar yang diberikan oleh Nagarjuna sebagai seorang filsuf
agama adalah menentukan arah titik-balik perkembangan agama Buddha. Dalam
bidang filsafat karyanya yang terkenal adalah Maddyamika-karika
(Madhyamika-sastra). Nagarjuna meletakkan dasar-dasar dari ajaran Madyamika
yang juga dikenal sebagai Sunya-vada[7].
Buddhapalita dan Bhavaviveka
Sthavira
Buddhapalita dan Bhavaviveka keduanya merupakan eksponen aliran Sunyavada yang
dasar-dasarnya diletakkan oleh Nagarjuna. Mereka hidup pada abad ke-5 dan dalam
sejarah perkembangan agama Buddha mereka ini dikenal sebagai pendiri dua aliran
yang mengutamakan penggunaan nalar logika dalam agama Buddha yaitu aliran
Prasangika dan aliran Svantara.
Asanga dan Vasubandhu
Asanga dan
Vasusbanhu adalah dua bersaudara yang hidup pada abad ke-4 serta merupakan
pemikir agama Buddha yang kreatif, yang telah membawa pemikiran filsafat klasik
dalam agama Buddha.
Vibhasa-sastra
adalah komentar-komentar yang terdiri dari Vinaya, sutra dan Abhidharma yang
disusun pada Sanghayana yang diselenggarakan
pada masa pemerintahan raja Kanishka. [8]
Dinnaga dan Dharmakirti
Nama Dinnaga
memperoleh tempat terkemuka sebagai penawar logika dalam agama Buddha. Dinnaga
adalah pendiri aliran Nyaya dan hidup pada awal abad ke-5. Sumber dari Tibet
memberitakan bahwa Dinnaga lahir di Simha-vaktra (Kanci selatan) dari keluarga
Brahmana. Sebelum menganut pandangan Mahayana, Dinnaga adalah penganut paham
Vatsiputriya dari Hinayana. Beliau adalah murid Vasubandhu.
Diantara
karyanya yang terbesar adalah Pramana-samuccaya, Nyaya-pravesa,
Hetucakradamaru, Pramana-sastra-nyayapravesa.
Dharmakirti terkenal
sebagai seorang pemikir yang suble, yang pemikirannya berpengaruh bukan saja dalam
agama Buddha tetapi juga pemikiran filsafat India. karya Dharmakirti yang
terkenal berjudul Pramma-varrtika ditemukan di Tibet yang aslinya ditulis dalam
bahasa Sansekerta.
Karya-karya
yang lain dari Dharmakirti yang pada umumnya membahas ilmu pengetahuan agama
Buddha terdapat dalam Prammana-viniscaya, Nyaya-bindu, Sambandha-pariksa,
Hetu-bindu, Vandanyaya dan Samanantara-siddhi.[9]
Di bawah ini beberapa kitab Trpitaka-Mahayana yang pernah ada dan
telah dicetak di Tiongkok, Jepang, Korea, Tiber. Terjemah bahasa Mandarin;
1.
Tripitaka
yang pertama kali dikumpulkan selama periode dynasti Utara dan Selatan pada
tahun 317-589. Tiongkok Utara, Raja Hsiao-Ming Ti (tahun 515-528) dari dynasti
Wei bagian Utara, bagian Selatan Raja Ming Ti (tahun 494-498) dari dynasti Ch’I
dan raja Wu-Ti (557-559), Wen-Ti (559-566), dan Hsuan-Ti (tahun 568-582).
2.
Kaisar
Sui yang pertama ,wen Ti (581-604)membuat 46(empatpuluh enam) salinan tripitaka
dan dia telah memerintahkan untuk disimpan di tempat-tempat suci di dalam
vihara di berbagai propinsi.
Tripitaka tersebut mencakup sutra-sutra yang telah diterjemahkan
oleh Hsuan-Tsang(tahun 596-664)disimpan di vihara chin-Ai-Ssu di loyang dan
Hssi-Ming-Ssu di chang-an.
3.
Ch’u-san-Tsang
Chi-Chik diSingkat Seng Yu-Lu (Seng-Yu’s Catalogue) 15 jilid, mencatat 1.306
naskah dalam 1.570 Jilid, disusun antara tahun 510-518 oleh Seng-Yu; oldest
extant catalogue; Collection the Tripitaka.
4.
Ta-Tsang-cing
(Great Storehouse Secriptures) atau I-Ch’ieh Cing (Complete Scripture), awal
dynasti T’ang (618-907), berbagai pengadilan negeri Tiongkok mengakui dan
mengesahkan kumpulan sejumlah Tripitaka ini. Pernah terjadi bahwa beberapa
sutra yang dihasilkan di tiongkok yang pernah dimasukkan ke dalam satu
Tripitaka dihilangkan dari pengumpulan berikutnya. Inilah alasannya bahwa
naskah Hsin-Hsing (540-594), pendiri Sekte San-Chen-Chiao (the Three-Stages)
dan Biografi dari Pao-Lin ch’uan (the Treasure Forest) yang mencatat sejarah
Zen Buddhisme, dapat ditemukan dalam sebagian Tripitaka tetapi tidak pada
semuanya.
5.
Shu-Pan
Ta-Tsang-Cing mencatat 5.586 jilid, disiapkan dan dicetak tahun 971-983; Shu
Edition of Tripitaka, juga dinamakan Sung Governmental Edition (Sung-Kuan-Pan).
Trpitaka ini yang lengkap untuk pertama kali dicetak di Tiongkok, dinamakan
Shu-Pan atau Shu Edition yang berjumlah 5.586 jilid itu: 5.048 jilid tercatat
di dalam tahun 730. K’ai-Yuan Shih-Chiao-Lu (K’ai-Yuan Era Buddhist Catalogue),
279 jilid dari terjemahan baru yang diselesaikan selama dynasti Sung, dan 259
jilid dari terjemahan baru yang diselesaikan selama dynasti Sung, dan 259 jilid
dari terjemahan baru yang diselesaikan selama dynasti Sung yang tidak terdapat
di dalam K’ai-Yuan Shih-Chiao-Lu.
6.
Ta-Ming
San-Tsang Sheng-Chiao Mu-Lu disingkat Pei-Tsang Mu-Lu; Ming Dynasty Catalogue
of the Tripitaka, terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Nanjio Bunyiu as A
catalogue of the Chinese Translation of Buddhist Tripitaka.
7.
Leng-Yen-Ssu-Pan
mencatat 1.655 naskah, disiapkan dan dicetak tahun 1586-1620; Leng-Yen Temple
Edition of Tripitaka, umum dinamakan Wen-Li Edition (Wan-Li-Pan
Ta-Tsang-Ching). Ming dynasti edition.
8.
Nan-Tsang
mencatat 1.612 naskah, diterbitkan tahun 1372-1403 di Nan-King; Southern Ming
Dynasty Edition of the Tripitaka.
9.
Pei-Tsang
mencatat 1.615 naskah, diterbitkan tahun 1420-1440 di peking; Northern Ming
Dynasty Edition of the Tripitaka.
10.
Ta-P’u-Ning-Ssu-Pan
mencatat 1.422 naskah di dalam 6.010 jilid, disiapkan dan dicetak tahun
1278-1294; Ta-P’u-Ning Temple Edition of Tripitaka, juga dinamakan Yuan Edition
(Yuan-Pan Ta-Tsang-Cing).
11.
Chin-Pan
Ta-Tsang-Ching sejumlah naskah dan jilid tercatat tidak menentu, disiapkan dan
dicetak 1149-1173; Chin-Dynasty Edition of the Tripitaka.
12.
Chi-sha
Yen-Sheng-Yuan-Pan mencatat 1.532 naskah di dalam 6.362 jilid, disiapkan dan
dicetak tahun 1231-1322; a Southern Sung Dynasty Edition of the Trpitaka.
13.
Ch’i-Tan
Ta-Tsang-Cing. Khitan (Liao) Dynasty Edition of the Tripitaka. Tiongkok bagian
utara-Dynasty Liao (tahun 947-1125) didirikan oleh Khitan Mongol.
14.
K’ai-Yuan
Shih-Chiau-Lu disingkat K’ai-Yuan-Lu atau Chih Sheng-Lu (Chih-Sheng’s
Catalogue), 20 Jilid, mencatat 1.076 naskah di dalam 5.048 jilid, disusun oleh
Chih-Sheng tahun 730; K’ai-Yuan
15.
K’ai-Yuan
Ssu-Pan, mencatat 1.429 naskah didalam 6.117jilid disiapkan dan dicetak tahun
1112-1148; K’ai-Yuan Temple Edition of the Tripitaka, juga dinamakan the
Fu-Chou K’ai-Yuan Temple Edition (Fu-Chou K’ai-Yuan Temple Edition (Fu-Chou
K’ai-Yuan-Ssu-Pan).
16.
Ssu-Ch’I
Fa-Pao-Ssu-Pan mencatat 1.459 naskah di dalam 5.740 jilid disiapkan dan dicetak
tahun 1237-1252; Ssu-Ch’I Fa-Pao Temple Edition, a Southern Sung-dynasty
Edition of the Tripitaka.
17.
Ssu-Ch’I
Yuan-Chueh-Yuan-Pan mencatat 1.433 naskah di dalam 5.824 jilid, disiapkan dan
dicetak tahun1132-? Ssu-Ch’i Yuan-Chuech-Yuan Edition, a Southern Sung-dynasty
edition of the Tripitaka.
18.
Obaku-ban
Dzakoyo mencatat 6.771 jilid, diterbitkan tahun 1669-1681 oleh Tetsugen; Obaku
Edition of the Tripitaka, juga dinamakan of the Tripitaka.
19.
Kan-ei-ji-ban
mencatat 1.453 naskah di dalam 6.323 Jilid, disiapkan dan dicetak tahun
1637-1648 oleh Tengkai; Kan’ei-ji Temple Edition of the Tripitaka, juga
dinamakan Tenkai Edition.
20.
Dai
Nippon Kotei Daizokyo: Great Japan Revised Canon, disingkat Shukusatsu-zokyo
(Small-Type Canon), 418 volume, mencatat 1.916 naskah di dalam 8.534 jilid,
diterbitkan tahun 1880-1885 oleh Shimada Mitsune and Fukuda Gyokai et al; in
Eropa and America known as Tokyo Edition.
21.
Dai
Nippon Zoku Zokyo (Great Japan Revised Tripitaka) disingkat Maji-zokyo
(Fylfot-Letter Tripitaka), 347 volume, mencatat 1.625 naskah di dalam 7.082
jilid, diterbitkan tahun 1902-1905 oleh Hamada Chikuha and Yoneda Mujo et al.
22.
Dai
Nippon Zoku Zokyo (Great Japan Supplementary Tripitaka), 750 volume, mencatat
1.750 naskah di dalam 7.140 jilid, diterbitkan tahun 1905-1912 oleh Maeda Eun
and Nakano Tatsue et ai.
23.
Haeinsa-pan
(korean), Haein Temple Edition, biasanya dinamakan the Koryo Edition of the
Tripitaka, juga dinamakan Tripitaka-Koreana.
24.
Nanjio
Catalogue of the tripitaka lihat Ta-Ming San-Tsang Sheng-Chiao Mu-Lu.
25.
Tripitaka-Mahayana
terbitan Taiwan lebih dari 85 jilid.
26.
Tripitaka-Mahayana
terjemahan bahasa inggris oleh Sino American Buddhist Association- San
Fransisco dalam perampungan untuk diterbitkan dibawah pimpinan Tripitaka Master
Hua.
Taisho-Shinshu-daizokyo,
edisi Takakusu and Watanabe. Tokyo, 1922-1933.
D.
TIPITAKA
Sudah menjadi ketentuan
umum bahwa yang menjadi kitab Suci Agama Buddha adalah Tipitaka. Demikian juga
halnya di Indonesia. Hal itu telah ditetapkan dalam kongres umat Buddha
Indonesia di Yogyakarta tahun 1979 yang pada waktu itu dihadiri tujuh majelis
Agama Buddha dan Sangha-Sangha dari aliran Theravãda dan Mahayana ataupun
aliran Theravãda yang berbaur dengan Mahayana. Kitab suci Agama Buddha (Tipitaka)
yang lengkap hanyalah yang berbahasa Pali (bahasa yang dipergunakan oleh Sang
Buddha dan oleh rakyat jelata suku Magadha).
Tipitaka (Sansekerta:
Tripitaka) adalah kumpulan ajaran Buddha selama 45 tahun dalam bahasa Pali.
Terdiri dari Sutta (Doktrin umun), Vinaya (kode disiplin), dan Abhidhamma
(psikologi mutlak. Tipitaka dihimpun dan disusun dalma bentuknya seperti saat
ini oleh para Arahat yang memiliki kontak langsung dengan Sang Guru sendiri.[10]
Tipitaka
terdiri dari tiga bagian ajaran Buddha. Tiga bagian itu adalah:
Vinaya pitaka memuat hal-hal terutama
berkaitan dengan aturan tata tertib bikkhu dan bikkhuni. Disini digambarkan
secara rinci perkembangan bertahap sistem pengajaran Buddha. Secara tidak
langsung vinaya pitaka mengungkapkan
beberapa informasi bermanfaat mengenai sejarah masa lampau, adat India,
seni, lmu pengetahuan dan lain-lain.
Pitaka ini terdiri dari lima kitab:[11]
1.
Parajika
(Pelanggaran Berat)
2.
Pacittiya
(Pelnggarana ringan)
3.
Mahavagga
( Kelompok Besar)
4.
Culavagga
(Kelompok Kecil)
5.
Parivara
(Ikhtisar aturan)
Sutta pitaka terdiri dari
ceramah-ceramah utama yang diberikan oleh Buddha sendiri dalam berbagai
peristiwa. Ada juga beberapa ceramah yang disampaikan oleh murid-murid-Nya yang
terkemuka, seperti Sariputta, Ananda, Maha Monggalana, termasuk beberapa
Bikkhuni terkemuka seperti Khema, Uttara, Visakha dan lain-lain. Kitab ini
seperti buku resep, karena wacana di dalamnya menjelaskan secara terperinci dan
menyesuaikan dengan berbagai kejadian dan perangai berbagai orang yang berbeda-beda.[12]
Kitab ini
dibagi menjadi lima Nikaya atau kumpulan, yaitu :
1.
Digha
Nikaya (Kumpulan Panjang)
2.
Majjhima
Nikaya (Kumpulan
sedang)
3.
Samyuta
Nikaya (Kumpulan
Ujaran Setara)
4.
Anguttara
Nikaya (Kumpulan
Ujarann Berurutan)
5.
Khuddaka
Nikaya (Kumpulan
Naskah Kecil)
Abhidhamma
pitaka adalah kumpulan
kitab yang palinh penting dan menarik, karena mengandung filosofi dan psikologi
mendalam dari ajaran Buddha, lain dari wacana sederhana dalam Sutta pitaka.
Dalam buku yang
berjudul What Buddhist Believe, K. Sri Dhammananda mengatakan bahwa
Abhidhamma is analytical doctrine of mental faculties and elements:
Abhidhamma adalah doktin analisis mengenai indra mental dan unsur.
E.
SEJARAH TIPITAKA
Beberapa minggu setelah
Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama
Subhaddha berkata : "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap,
sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita
apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita,
tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat
apa yang tidak kita senangi" (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa
Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan
Agung (Konsili) di Rajagaha.
Dengan bantuan Raja
Ajatasattu dari Magadha, 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat
Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini
dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha,
mendapat kehormatan untuk mengulang kembali kotbah-kotbah Sang Buddha dan Yang
Ariya Upali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung
Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci
Tipitaka (Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut
dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran
sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: "Jadikanlah Dhamma dan Vinaya
sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu".
Pada mulanya Tipitaka
(Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya.
Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah
Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma -
Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan
Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci
Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang
memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang
kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya
menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana.
Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2
mazhab besar Theravãda dan Mahayana.
Pesamuan Agung Ketiga
diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat
(249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk
Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke
suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran
gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka
sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar
menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari
penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke
negeri-negeri lain.
Dalam Pesamuan Agung
Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka
(Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha
dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.
Pesamuan Agung keempat
diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya
pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan
itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan
penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.
Selanjutnya Pesamuan
Agung Kelima diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang
Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu
adalah Kitab Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer
(batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay.
Persamuan Agung keenam
diadakan di Rangoon pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada
tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci
Tipitaka (Pali) dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat.[13]
Sebagai tambahan
pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja
Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh
kelompok Theravãda. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab
Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok.
Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa
Sansekerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam
Kitab Suci Tipitaka (Pali).
Dengan demikian, Agama
Buddha mazhab Theravãda dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang,
termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma -
Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak
ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravãda di Indonesia dengan Theravada
di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain.
Sampai abad ketiga
setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab,
antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravãda dan sebagainya.
Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih
berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravãda (ajaran para sesepuh).
Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravãda inilah yang
kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian
berkembang di Indonesia dan negara-negara lain[14]
F.
SIDANG AGUNG
Setelah Sang Buddha
parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha
Samaya).
1. Sidang Agung I (Konsili I)
·
Diadakan pada tahun 543
SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan.
·
Dipimpin oleh
YA.Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat.
·
Sidang diadakan di Goa
Satapani di kota Rajagaha.
·
Sponsor sidang agung
ini adalah Raja Ajatasatu.
Tujuan Sidang:
·
Menghimpun Ajaran Sang
Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan
dalam waktu yang berlainan.
·
Mengulang Dhamma dan
Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran
lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.
Kesimpulan/Hasil Konsili I:
·
Sangha tidak akan
menetapkan hal-hal mana yang perlu dihapus dan hal-hal mana yang harus
dilaksanakan, juga tidak akan menambah apa-apa yang telah ada.
·
Mengadili Y.A. Ananda
·
Mengucilkan Chana
·
Agama Buddha masih
utuh.
2. Sidang Agung II (Konsili II)
·
Diadakan pada tahun 443
SM (100 tahun sesudah yang I), berlangsung selama 4 bulan.
·
Dipimpin oleh YA.
Revata dan dibantu oleh YA. Yasa serta dihadiri oleh 700 Bhikkhu.
·
Sidang diadakan di
Vesali.
·
Sponsor sidang agung
ini adalah Raja Kalasoka.
Tujuan Sidang:
·
Sekelompok Bhikkhu
Sangha (Mahasanghika) menghendaki untuk memperlunak Vinaya yang sangat
keras (tetapi gagal).
Kesimpulan/Hasil
Konsili II:
·
Kesalahan-kesalahan
Bhikkhu-Bhikkhu dari suku Vajjis yang melangggar pacittiya dibicarakan, diakui
bahwa mereka telah melanggar Vinaya dan 700 Bhikkhu yang hadir menyatakan
setuju.
· Pengulangan Vinaya dan Dhamma, yang dikenal
dengan nama "Satta Sati" atau "Yasathera Sanghiti"
karena Bhikkhu Yasa dianggap berjasa dalam bidang pemurnian Vinaya.
3. Sidang Agung III (Konsili III)
·
Diadakan pada tahun +/-
313 SM (230 tahun setelah sidang I).
·
Dipimpin oleh Y.A.
Tissa Moggaliputta.
·
Sidang diadakan di
Pataliputta.
·
Sponsor Sidang Agung
ini adalah Raja Asoka dari Suku Mauriya.
Tujuan Sidang:
·
Menertibkan perbedaan
pendapat yang mengaktifkan perpecahan Sangha.
·
Memeriksa dan
menyempurnakan Kitab Suci Pali (memurnikan Ajaran Sang Buddha).
·
Raja Asoka
meminta agar para Bhikkhu mengadakan upacara Uposatha setiap bulan, agar
Bhikkhu Sangha bersih dari oknum-oknum yang bermaksud tidak baik.
Kesimpulan / Hasil Konsili III:
·
Menghukum
Bhikkhu-Bhikkhu selebor.
·
Ajaran Abhidhamma
diulang tersendiri oleh Y.A. Maha Kassapa, sehingga lengkaplah pengertian
Tipitaka (Vinaya,Sutta, dan Abhidhamma). Jadi pengertian Tipitaka mulai lengkap
(timbul) pada Konsili III.
·
Y.A. Tissa memilih
10.000 orang Bhikkhu Sangha yang benar-benar telah memahami Ajaran Sang Buddha
untuk menghimpun Ajaran tersebut menjadi Tipitaka dan perhimpunan tersebut
berlangsung selama 9 bulan. Keterangan:
·
Pada saat itu Sangha
sudah terpecah dua, yaitu : Theravãda (Sthaviravada) dan Mahasanghika.
·
Sementara itu ada ahli
sejarah yang mengatakan bahwa pada Konsili III ini bukan merupakan konsili
umum, tetapi hanya
·
merupakan suatu konsili
yang diadakan oleh Sthaviravada.
4.
Sidang Agung IV
(Konsili IV)
·
Diadakan pada masa
pemerintahan Raja Vattagamani Abhaya (tahun 101 - 77 SM).
·
Dipimpin oleh Y.A.
Rakhita Mahathera dan dihadiri oleh +/- 500 Bhikkhu.
·
Sidang diadakan di Alu
Vihara (Aloka Vihara) di Desa Matale.
Tujuan Sidang:
·
Mencari penyelesaian
karena melihat terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang mengancam Ajaran-ajaran
dan kebudayaan-kebudayaan Agama Buddha oleh pihak-pihak lain.
Kesimpulan / Hasil Konsili IV:
·
Mengulang Tipitaka.
·
Menyempurnakan komentar
Tipitaka.
·
Menuliskan Tipitaka dan
komentarnya di atas daun lontar.
G.
KESIMPULAN
Tidak lama
setelah Hyang Buddha Maha Parinirvana, berkumpullah lima ratus orang bhiksu
yang telah mencapai tingkat Arahat di Rajagriha, di lereng dari salah satu lima
pegunungan Himalaya. Disana mereka berkumpul untuk mengadakan Pertemuan Agung
guna mengumpulkan semua khotbah yang telah diajarkan oleh Yang Maha Bijaksana.
Konsili pertama dipimpin oleh Maha Kasyapa.
Ananda yang
selalu mendampingi Hyang Buddha kemana saja Beliau pergi membabarkkan Dharma
mempunyai ingatan yang luar biasa. Maka Ananda diminta oleh sekalian
Bhiksu yang hadir dalam pertemuan itu
untuk lebih dahulu mengulangi semua khotbah yang diajarkan Hyang Buddha.
Demikianlah
Ananda bersama lima ratus orang Arahat membuat semua kitab suci atau Sutra yang
berisikan Dharma dari yang Maha Bijaksana dan Agung. Mereka telah memiliki
karma baik di masa lampau untuk menuju Nirvana. Mereka berusaha sepenuhnya
mengusai Buddha Dharma. Semua kitab suci tersebut yang ada sampai hari ini
telah membantu mereka menuju Nirvana. Dan Umat Buddha juga akan melanjutkan
dengan cara yang sama untuk berbuat demikian dari satu masa ke masa yang akan
datang.[16]
H.
Daftar
pustaka
1.
Ali,
Mukti. Agama-agama di Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta: 1988
2.
Dhammananda,
Sri. What Buddhist Believe, The Corporate Body Of The Buddha Education
Foundation. Taipei,Taiwan:1993
3.
Dhammananda,
Sri. Keyakinan Umat Buddha. Ehipassiko Foundation: 2002
6.
T.
Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, Majlis Agama Buddha Mahayana Indonesia.
Jakarta: 1995
7.
Tim
Penyusun, Materi Kuliah Sejarah Pekembangan Agama Buddha. CV. Dewi
Kayana Abadi. Jakarta:2003
8.
Wijaya-Mukti,
Khrishna. Wacana Buddha-Dharma, Sangha Agung Indonesia. Jakarta: 2006
[1] K. Sri Dhammananda, What Buddhist Believe, page. 39
[2] Tim Penyusun, Materi Kuliah Sejarah Pekembangan Agama Buddha,hal.
117
[3] H.A Mukti Ali, Agama-agam Di Dunia, hal. 112
[4] Ibid. hal. 114
[5] Tim Penyusun, Materi Kuliah Sejarah Pekembangan Agama Buddha,hal.
128
[6] Tim Penyusun, Materi Kuliah Sejarah Pekembangan Agama Buddha,hal.
133
[7] ibid,hal.136
[8] ibid,hal. 137
[9] Ibid, hal. 139
[10] Dr. Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha, hal. 97
[12] ibid. 101
[13] http://tanhadi.blogspot.com/2011/04/sejarah-tipitaka-kitab-suci-agama.html
[15] http://tanhadi.blogspot.com/2011/04/sejarah-tipitaka-kitab-suci-agama.html
[16] Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, hal. 47

Tidak ada komentar:
Posting Komentar